Terakhir diperbarui: 13 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 13 December). Frekuensi Camilan dan Kelebihan Berat Badan Anak. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/frekuensi-camilan-dan-kelebihan-berat-badan-anak  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Frekuensi Camilan dan Kelebihan Berat Badan Anak - SumberAjar.com

Frekuensi Camilan dan Kelebihan Berat Badan Anak

Pendahuluan

Dalam era modern saat ini, pola makan anak semakin berubah dari waktu ke waktu. Anak-anak kini tidak hanya mengonsumsi makanan utama seperti sarapan, makan siang, dan makan malam, tetapi juga seringkali menyertakan camilan di sela waktu makan. Kebiasaan ini dapat dipicu oleh banyak faktor seperti gaya hidup keluarga, akses mudah terhadap camilan siap saji, iklan makanan, serta aktivitas anak itu sendiri. Menurut sebagian besar penelitian, frekuensi camilan yang tinggi di luar tiga waktu makan utama berpotensi memberikan asupan energi tambahan yang tidak seimbang dengan kebutuhan anak, sehingga dapat berkontribusi terhadap peningkatan risiko kelebihan berat badan atau obesitas pada anak. Fenomena ini menjadi sebuah isu penting karena kelebihan berat badan di masa kanak-kanak memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan, termasuk risiko gangguan metabolik, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular di kemudian hari. Penelitian-penelitian di Indonesia dan negara lain menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi camilan yang sering serta kualitas camilan yang kurang sehat dengan status gizi anak yang cenderung tidak optimal. [Lihat sumber Disini - ojs.phb.ac.id]


Definisi Frekuensi Camilan dan Kelebihan Berat Badan Anak

Definisi Frekuensi Camilan dan Kelebihan Berat Badan Anak Secara Umum

Frekuensi camilan merujuk pada seberapa sering anak mengonsumsi makanan ringan atau makanan di luar tiga waktu makan utama dalam sehari. Camilan bisa berupa makanan ringan manis, makanan olahan, atau makanan cepat saji yang cenderung tinggi kalori, gula, dan lemak namun rendah nutrisi penting. Sementara itu, kelebihan berat badan anak diukur berdasarkan Body Mass Index (BMI) untuk usia dan jenis kelamin. Anak yang memiliki BMI pada persentil lebih tinggi dari standar WHO atau standar nasional termasuk dalam kategori kelebihan berat badan atau obesitas. Meski secara umum camilan dapat memberikan tambahan energi dan kepuasan, jumlah dan jenis camilan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dapat menciptakan kelebihan asupan energi harian, yang seiring waktu berkontribusi terhadap peningkatan massa tubuh yang tidak proporsional. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Definisi Frekuensi Camilan dan Kelebihan Berat Badan Anak dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “camilan” didefinisikan sebagai makanan kecil yang dimakan di sela waktu makan utama atau sebagai pelengkap makanan utama. “Frekuensi” dalam konteks ini mengacu pada jumlah kejadian atau seberapa sering tindakan makan camilan dilakukan dalam rentang waktu tertentu. Sedangkan “kelebihan berat badan” atau obesitas dapat diartikan sebagai kondisi di mana berat badan seseorang melebihi standar ideal yang diperhitungkan berdasarkan antropometri atau indikator pertumbuhan, dalam hal ini BMI anak untuk usia tertentu yang diakui secara fisiologis. Definisi-definisi ini membantu kita memahami konsep dasar dari fenomena frekuensi camilan dan status gizi anak dalam konteks keseharian dan literasi nutrisi. Sumber: KBBI daring (kbbi.kemdikbud.go.id).

Definisi Frekuensi Camilan dan Kelebihan Berat Badan Anak Menurut Para Ahli

  1. WHO (World Health Organization) menjelaskan bahwa frekuensi camilan yang tinggi di luar kebutuhan energi tubuh berkontribusi terhadap asupan kalori yang berlebihan dan dapat memengaruhi status gizi anak jika tidak diimbangi dengan aktivitas fisik cukup serta pola makan seimbang.

  2. Tripicchio et al. dalam publikasi nutrisi mencatat bahwa konsumsi camilan yang sering dan besar secara signifikan diasosiasikan dengan peningkatan risiko berat badan berlebih dan obesitas pada anak karena kontribusi kalori ekstra dari snack yang tidak terkontrol. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  3. Astuti (2025) menyatakan bahwa konsumsi jajanan berat dalam porsi besar berperan menyumbang energi berlebih sehingga memicu peningkatan berat badan anak jika frekuensinya tinggi secara rutin sehari-hari. [Lihat sumber Disini - mail.jurnal.itk-avicenna.ac.id]

  4. Delavita (2023) menemukan bahwa konsumsi camilan lebih dari 4 kali dalam seminggu berkorelasi dengan akumulasi massa lemak tubuh yang meningkat, yang merupakan salah satu indikator overweight pada anak. [Lihat sumber Disini - prosiding.unimus.ac.id]


Jenis Camilan yang Sering Dikonsumsi Anak

Jenis camilan yang sering dikonsumsi oleh anak sangat bervariasi dan sebagian besar dikategorikan berdasarkan kandungan energi dan nutrisinya. Menurut beberapa penelitian, camilan yang paling umum dikonsumsi anak termasuk camilan manis seperti permen, cokelat, kue manis, wafel, dan minuman manis; camilan gurih seperti keripik kentang, kerupuk, makanan cepat saji kecil; hingga camilan yang diproses seperti donat atau makanan ringan panggang. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Camilan manis sering menjadi favorit anak karena rasa manisnya yang kuat dan cepat memberikan sensasi kepuasan. Namun, banyak dari camilan ini memiliki kandungan gula tambahan yang tinggi dan minim serat, vitamin, atau mineral. Kebiasaan mengonsumsi camilan manis secara berulang dapat meningkatkan asupan energi total tanpa memberikan nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan optimal. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Selain itu, camilan gurih seperti keripik dan makanan cepat saji juga sering dikonsumsi di luar waktu makan utama. Makanan ini cenderung tinggi lemak jenuh, natrium, dan kalori. Pada banyak kasus, konsumsi jenis camilan ini dikaitkan dengan tingginya jumlah snack yang tersedia di rumah, akses mudah melalui penjual di sekolah atau area perumahan, serta preferensi pribadi anak yang lebih menyukai rasa gurih dan asin. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

Salah satu penelitian di Indonesia juga menunjukkan bahwa konsumsi jajanan dalam porsi besar, terutama jika frekuensinya tinggi serta terdiri dari camilan manis atau tinggi energi, dapat menyumbang asupan energi harian yang melebihi kebutuhan tubuh anak. Hal ini menjadi tantangan penting dalam upaya pemantauan pola makan anak secara holistik. [Lihat sumber Disini - mail.jurnal.itk-avicenna.ac.id]


Hubungan Frekuensi Camilan dengan Peningkatan IMT

Banyak penelitian epidemiologis menunjukkan bahwa frekuensi camilan yang sering, terutama jika camilan tersebut tinggi energi tetapi rendah nutrisi, dapat berkontribusi terhadap peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT) anak. Sebagai contoh, studi populasi besar di Amerika Serikat menemukan bahwa anak yang mengonsumsi camilan lebih sering memiliki kecenderungan nilai IMT yang lebih tinggi dan asupan energi harian yang meningkat dibandingkan anak yang frekuensi makan camilannya lebih rendah. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Dalam konteks Indonesia dan penelitian lokal, ditemukan bahwa frekuensi konsumsi camilan lebih dari empat kali seminggu berkaitan dengan akumulasi massa lemak tubuh yang lebih besar pada anak. Hasil ini sejalan dengan kekhawatiran bahwa kebiasaan ngemil secara berlebihan memperbesar peluang terjadi ketidakseimbangan antara energi yang masuk dan energi yang dibakar melalui aktivitas fisik. [Lihat sumber Disini - prosiding.unimus.ac.id]

Beberapa penelitian juga mengamati bahwa selain frekuensi, ukuran porsi camilan dan kandungan energi dari snack tersebut turut menentukan hubungan dengan IMT anak. Camilan berukuran besar atau yang tinggi gula akan lebih cepat menyebabkan surplus energi bila dikonsumsi secara rutin tanpa kompensasi aktifitas fisik yang memadai. [Lihat sumber Disini - ijcmph.com]

Namun, penting dicatat bahwa hubungan ini bersifat kompleks dan dipengaruhi oleh pola makan lain, aktivitas fisik, serta faktor keluarga seperti pola makan rumah tangga dan pengawasan orang tua dalam pemberian camilan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Faktor Lingkungan dan Kebiasaan Makan

Faktor lingkungan seperti iklan makanan cepat saji, akses terhadap camilan di sekolah, serta kebiasaan keluarga sangat berperan dalam membentuk pola konsumsi anak. Eksposur anak terhadap iklan makanan tinggi gula dan lemak dapat merangsang keinginan untuk mengonsumsi camilan berenergi tinggi bahkan di luar waktu makan. Selain itu, kebiasaan keluarga seperti sering menyediakan camilan di rumah atau memberi uang saku untuk membeli snack di luar juga memperbesar frekuensi konsumsi camilan anak. [Lihat sumber Disini - ojs.phb.ac.id]

Studi lokal juga menunjukkan bahwa lingkungan sekolah dan ketersediaan camilan yang mudah diakses di kantin dapat memengaruhi perilaku makan anak selama jam sekolah. Hal ini semakin menguatkan hubungan antara lingkungan sosial dan kebiasaan makan yang berkontribusi terhadap asupan energi total anak dalam sehari. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]

Tak hanya faktor eksternal, kebiasaan makan keluarga seperti makan bersama, frekuensi makan di luar rumah, atau pola pemberian camilan oleh orang tua dapat memengaruhi kebiasaan ngemil anak. Anak cenderung meniru pola makan keluarga mereka, sehingga lingkungan rumah sangat menentukan pola asupan makanan harian mereka. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]


Risiko Camilan Tinggi Gula dan Lemak

Camilan yang kaya akan gula tambahan, lemak jenuh, dan natrium dapat meningkatkan asupan energi secara cepat tanpa menyediakan mikronutrien penting seperti vitamin dan mineral yang diperlukan untuk pertumbuhan anak. Konsumsi jenis camilan ini yang berlebihan berkaitan dengan peningkatan risiko kelebihan berat badan karena energi tambahan tersebut tidak seimbang dengan kebutuhan metabolik harian anak. [Lihat sumber Disini - ojs.phb.ac.id]

Selain itu, diet tinggi gula telah dipahami secara luas dapat meningkatkan risiko resistensi insulin, gangguan metabolik, serta gangguan kesehatan lain seperti gangguan lipid darah. Sementara lemak jenuh yang tinggi meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular di kemudian hari jika pola ini berlanjut dari masa kanak-kanak ke dewasa. [Lihat sumber Disini - ijcmph.com]


Strategi Mengontrol Konsumsi Camilan pada Anak

Untuk mengendalikan konsumsi camilan anak, pendekatan multilevel diperlukan. Orang tua dan pengasuh dapat membatasi akses terhadap camilan tinggi energi di rumah, mengganti camilan dengan pilihan yang lebih sehat (buah-buahan, yogurt rendah gula, kacang tanpa garam), serta memberikan contoh pola makan sehat sehari-hari. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]

Sekolah juga dapat berperan dengan menyediakan pilihan camilan sehat di kantin serta mengedukasi murid tentang pentingnya pola makan seimbang dan energi seimbang. Aktivitas fisik yang cukup setiap hari juga penting untuk menyeimbangkan asupan energi dari camilan dan makanan utama. [Lihat sumber Disini - prosiding.unimus.ac.id]

Edukasi kepada anak tentang memilih camilan yang lebih sehat dan pemahaman nilai gizi dari makanan juga dapat membantu mereka membuat keputusan yang lebih baik tentang makanan ringan di berbagai konteks sosial. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]


Kesimpulan

Frekuensi konsumsi camilan yang tinggi, terutama yang terdiri dari camilan manis, berenergi tinggi, dan proses, berkaitan dengan peningkatan asupan energi total yang berkontribusi terhadap kenaikan Indeks Massa Tubuh (IMT) anak. Jenis camilan yang sering dikonsumsi seperti makanan manis, keripik, atau makanan cepat saji cenderung rendah nutrisi dan tinggi kalori, sehingga jika dikonsumsi secara sering akan menciptakan ketidakseimbangan energi yang pada akhirnya berpotensi menyebabkan kelebihan berat badan atau obesitas. Lingkungan sosial, iklan makanan tidak sehat, serta kebiasaan keluarga sangat memengaruhi pola ngemil anak. Mengontrol konsumsi camilan melalui peran orang tua, sekolah, dan edukasi pola makan sehat terbukti menjadi strategi penting untuk mengoptimalkan status gizi anak dan mencegah masalah kelebihan berat badan di masa kanak-kanak dan seterusnya.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Frekuensi camilan pada anak adalah seberapa sering anak mengonsumsi makanan ringan di luar tiga waktu makan utama. Semakin tinggi frekuensi dan semakin tidak sehat jenis camilan yang dikonsumsi, semakin besar risiko peningkatan asupan energi harian.

Ya. Banyak penelitian menunjukkan bahwa camilan dengan kandungan gula dan lemak tinggi yang dikonsumsi secara sering dapat meningkatkan indeks massa tubuh (IMT) dan memicu kelebihan berat badan pada anak.

Camilan manis seperti permen, cokelat, kue manis, minuman manis, serta camilan gurih seperti keripik atau makanan cepat saji merupakan jenis yang paling berisiko karena tinggi kalori dan rendah nutrisi.

Faktor lingkungan meliputi ketersediaan camilan di rumah, paparan iklan makanan, kebiasaan keluarga, serta keberadaan jajanan di sekolah yang mudah diakses anak.

Pengendalian dapat dilakukan dengan menyediakan camilan sehat di rumah, membatasi akses camilan tinggi gula dan lemak, memberikan edukasi gizi, serta membangun pola makan keluarga yang sehat dan konsisten.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Hubungan Kebiasaan Ngemil dengan Peningkatan IMT Hubungan Kebiasaan Ngemil dengan Peningkatan IMT Berat Badan Lahir Bayi: Konsep, Faktor Maternal, dan Implikasi Berat Badan Lahir Bayi: Konsep, Faktor Maternal, dan Implikasi Frekuensi Data: Pengertian, Jenis, dan Contoh dalam Statistik Frekuensi Data: Pengertian, Jenis, dan Contoh dalam Statistik Frekuensi Relatif dan Kumulatif: Definisi dan Fungsi Frekuensi Relatif dan Kumulatif: Definisi dan Fungsi Frekuensi Relatif: Definisi, Fungsi, dan Contoh dalam Statistik Frekuensi Relatif: Definisi, Fungsi, dan Contoh dalam Statistik Risiko Penyalahgunaan Obat Penurun Berat Badan Risiko Penyalahgunaan Obat Penurun Berat Badan Faktor yang Mempengaruhi Berat Badan Lahir Bayi Faktor yang Mempengaruhi Berat Badan Lahir Bayi IMT Ibu Hamil: Konsep, Risiko Kehamilan, dan Pemantauan IMT Ibu Hamil: Konsep, Risiko Kehamilan, dan Pemantauan Diet Rendah Kalori: Konsep, Pengendalian Berat Badan, dan Risiko Diet Rendah Kalori: Konsep, Pengendalian Berat Badan, dan Risiko Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku Ketepatan Dosis Obat Pediatrik Ketepatan Dosis Obat Pediatrik Diet Rendah Kalori pada Pasien Obesitas Diet Rendah Kalori pada Pasien Obesitas Hubungan IMT Ibu Hamil dengan Kejadian Preeklampsia Hubungan IMT Ibu Hamil dengan Kejadian Preeklampsia Pola Konsumsi Buah pada Anak Sekolah Pola Konsumsi Buah pada Anak Sekolah Pola Diet Intermittent Fasting pada Dewasa Pola Diet Intermittent Fasting pada Dewasa Pola Diet Ketogenik pada Dewasa Pola Diet Ketogenik pada Dewasa Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan Risiko Overhidrasi: Konsep, Tanda Klinis, dan Pengendalian Risiko Overhidrasi: Konsep, Tanda Klinis, dan Pengendalian Pola Diet Rendah Lemak pada Dewasa Pola Diet Rendah Lemak pada Dewasa Kecukupan Energi: Konsep, Kebutuhan Tubuh, dan Keseimbangan Kecukupan Energi: Konsep, Kebutuhan Tubuh, dan Keseimbangan
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…