
Idealisme dan Realisme dalam Penelitian
Pendahuluan
Dalam ranah filsafat ilmu dan metodologi penelitian, orientasi terhadap hakikat realitas dan pengetahuan sangat menentukan bagaimana penelitian dirancang, dijalankan, dan diinterpretasikan. Dua aliran utama, Idealisme dan Realisme, menawarkan pandangan yang kontras tentang apa yang dianggap sebagai “kenyataan” dan bagaimana manusia bisa mengenalinya. Idealisme menekankan pada ide, gagasan, atau pikiran sebagai realitas utama, sedangkan realisme cenderung kepada dunia nyata, materi, pengalaman empiris, dan fakta objektif. Perbedaan fundamental ini tidak sekadar teori abstrak, tapi berdampak nyata terhadap cara kita melakukan penelitian, misalnya dalam menentukan objek penelitian, metode, interpretasi data, dan penggunaan hasil. Artikel ini akan mengeksplorasi pengertian kedua aliran, perbedaan mereka, hingga bagaimana mereka mempengaruhi dan diimplementasikan dalam penelitian, baik di bidang sosial maupun eksakta.
Definisi Idealisme
Definisi Idealisme secara umum
Istilah idealisme menunjuk pada pandangan filsafat yang memposisikan ide, pikiran, atau roh, bukan realitas materi, sebagai hakikat utama dari realitas. Dalam perspektif ini, dunia fisik yang kita alami hanyalah manifestasi atau representasi dari ide-ide yang lebih mendasar. Dengan kata lain: kondisi ideal, gagasan, atau bentuk abstrak (ide) adalah yang paling “nyata”. [Lihat sumber Disini - ejournal.unmuha.ac.id]
Definisi Idealisme menurut KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), idealisme sering dihubungkan dengan pandangan bahwa sesuatu ideal, yakni sesuatu yang sesuai dengan gagasan sempurna, cita-cita, maupun nilai luhur. Meskipun KBBI lebih banyak memakai istilah ini dalam konteks moral, estetika, atau cita-cita, makna filosofisnya tetap: orientasi terhadap gagasan, cita-cita, dan nilai-nilai ideal.
Definisi Idealisme menurut para ahli
Beberapa peneliti/ahli dari konteks pendidikan dan filsafat ilmu mendefinisikan idealisme sebagai berikut:
-
Menurut sebuah studi pendidikan karakter di sekolah dasar, idealisme menekankan “superioritas pikiran (mind)”, bahwa pikiran adalah wujud yang dapat mewujudkan dunia dan menggerakkan seluruh perilaku manusia. [Lihat sumber Disini - ojs.itapi.or.id]
-
Dalam konteks kurikulum dan filsafat pendidikan kontemporer, idealisme dipandang sebagai landasan yang menekankan pengembangan intelektual dan spiritual, bukan sekadar penguasaan pengetahuan atau keterampilan mekanis. [Lihat sumber Disini - jurnal.staidaf.ac.id]
-
Beberapa literatur juga menekankan bahwa idealisme sering berkaitan dengan upaya membentuk karakter, moral, dan nilai, dengan pendidikan sebagai sarana mewujudkan “manusia ideal”. [Lihat sumber Disini - ejournal.unmuha.ac.id]
-
Dari perspektif filsafat ilmu modern, idealisme dapat dipahami sebagai pandangan epistemologis bahwa realitas tertinggi berasal dari ide/gagasan, dan bahwa pengetahuan sejati diperoleh lewat pemikiran rasional atau refleksi intelektual. [Lihat sumber Disini - ejournal.sembilanpemuda.id]
Definisi Realisme dan Variasinya
Definisi Realisme secara umum
Realisme adalah pandangan filosofis yang menyatakan bahwa dunia materi, realitas fisik, eksternal, dan independen dari pikiran manusia, benar-benar ada dan dapat diketahui melalui observasi dan pengalaman. Dengan demikian realitas tidak bergantung pada gagasan atau pikiran, melainkan bersifat objektif dan eksis secara independen. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Definisi Realisme menurut para ahli / dalam literatur
-
Dalam konteks pendidikan, realisme dipahami sebagai filosofi yang menekankan pada fakta-fakta empiris dan realitas dunia nyata sebagai dasar pengetahuan. [Lihat sumber Disini - jurnal.umt.ac.id]
-
Realisme menolak anggapan bahwa ide atau pikiran manusia mendahului atau membentuk dunia fisik; sebaliknya, dunia fisik adalah nyata dan lebih dasar daripada gagasan mental. [Lihat sumber Disini - ejournal.unmuha.ac.id]
-
Dalam aspek epistemologis, realisme mengedepankan bahwa pengetahuan diperoleh lewat indera, observasi, dan eksperimen, bukan hanya refleksi gagasan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Variasi Realisme
Realisme bukanlah pandangan tunggal, ada beberapa variasi, tergantung konteks filsafat ilmu atau sosiologi:
-
Epistemological Realism, pandangan bahwa dunia eksternal ada independen dari pikiran, dan pengetahuan manusia dapat mencerminkan dunia tersebut secara objektif. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Scientific Realism, dalam sains modern, realisme ini berargumen bahwa entitas yang dipostulatkan teori ilmiah (misalnya elektron, gen, dsb.) benar-benar ada dan teori ilmiah bisa mendekati kebenaran tentang dunia. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Beberapa penekanan realisme dalam pendidikan atau penelitian sosial memadukan aspek empiris dan objektivitas dalam memahami fenomena, serta menekankan observasi, data empiris, dan realitas sosial. [Lihat sumber Disini - jurnal.uindatokarama.ac.id]
Perbedaan Idealisme dan Realisme
-
Asal realitas: Idealisme melihat bahwa realitas sejati ada pada ide/gagasan (pikiran/spiritual), sedangkan realisme memandang realitas sebagai apa yang ada secara fisik dan objektif, independen dari pikiran.
-
Sumber pengetahuan: Dalam idealisme, pengetahuan diperoleh melalui pikiran, refleksi, rasionalitas, bahkan bisa bersifat “transendental”. Dalam realisme, pengetahuan diperoleh lewat pengalaman, observasi, dan indera.
-
Hakikat kebenaran: Idealisme cenderung pada kebenaran ideal, nilai-nilai, moralitas, dan konsep abstrak; realisme pada kebenaran empiris, faktual, objektif.
-
Implikasi metodologis (dalam penelitian): Idealisme mungkin mendorong metode kualitatif, reflektif, interpretatif; realisme cenderung ke metode empiris, observasi langsung, data kuantitatif maupun kualitatif berdasarkan fakta nyata.
-
Tujuan akhir: Bagi idealisme, pembentukan manusia ideal, moral, karakter, nilai; bagi realisme, pemahaman dunia nyata, penguasaan pengetahuan dan fakta, aplikasi praktis.
Pengaruh Dua Aliran Ini terhadap Penelitian
Orientasi metafisik dan epistemologis (idealisme vs realisme) punya dampak besar dalam penelitian:
-
Pemilihan metode: Jika berpijak pada idealisme, peneliti bisa memilih metode kualitatif, studi teori, refleksi, interpretasi makna, studi konsep. Jika berpijak pada realisme, mungkin memilih metode empiris: survei, eksperimen, observasi, pengukuran, data kuantitatif atau kualitatif berbasis fakta.
-
Desain penelitian dan objek: Idealisme bisa condong ke penelitian konsep, norma, nilai, fenomena non-material (misalnya moral, etika, persepsi); realisme ke fenomena nyata, dunia fisik, data empiris, efek konkret.
-
Interpretasi dan validitas data: Dalam realisme, kebenaran diukur dari kesesuaian data dengan realitas objektif; dalam idealisme, penekanan bisa pada konsistensi intelektual, nilai ideal, makna, dan rasionalitas.
-
Tujuan penelitian: Penelitian idealisme bisa menyasar pemahaman nilai, teori, filsafat, etika, manusia; penelitian realisme bisa menyasar aplikasi praktis, verifikasi fakta, prediksi, pengembangan teknologi atau kebijakan.
-
Studi literatur menunjukkan bahwa integrasi idealisme dan realisme (terutama di pendidikan) bisa menghasilkan pendekatan holistik, menggabungkan pembentukan karakter dengan penguasaan pengetahuan/kemampuan praktis. [Lihat sumber Disini - e-jurnal.jurnalcenter.com]
Implementasi Idealisme dalam Kajian Sosial
Dalam ranah sosial, idealisme sering digunakan terutama ketika penelitian berfokus pada nilai, makna, paradigma, nilai-nilai moral/etika, kesadaran, identitas, atau dimensi non-materi seperti budaya, karakter, religiusitas. Beberapa contoh implementasi:
-
Dalam pendidikan karakter di sekolah dasar, pendekatan idealisme menekankan perkembangan moral, spiritual, dan etika siswa, bukan sekadar transfer pengetahuan. [Lihat sumber Disini - ojs.itapi.or.id]
-
Dalam kajian filosofi pendidikan (termasuk pendidikan Islam), idealisme dipakai untuk membentuk kerangka pikir bahwa pendidikan tidak hanya soal fakta, tetapi juga soal pembentukan manusia utuh, akal, moral, jiwa. [Lihat sumber Disini - ejournal.uin-suka.ac.id]
-
Dalam penelitian sosial kritis: idealisme memungkinkan analis menelisik norma, nilai, gagasan kolektif, persepsi ideologis, dan aspek non-empiris dari fenomena sosial, misalnya bagaimana manusia memaknai identitas, keadilan, nilai komunitas.
Implementasi Realisme dalam Ilmu Eksakta
Dalam ilmu eksakta (sains, teknologi, sains alam), realisme menjadi basis filosofis dan metodologis utama, karena dunia materi dan observasi empiris adalah fondasinya. Beberapa implementasi:
-
Penelitian ilmiah (fisika, kimia, biologi, dsb.) yang menggunakan observasi, eksperimen, pengukuran, data kuantitatif, sesuai dengan pandangan realisme bahwa dunia fisik ada independen dan dapat diukur secara objektif. Sebagai contoh umum dari pendekatan realis dalam pendidikan sains: fokus pada fakta, fenomena alam, realitas empiris. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Dalam pendidikan atau kurikulum berbasis sains: pemahaman bahwa pengetahuan ilmiah dibangun lewat metode empiris dan objektif, bukan semata teori abstrak. Hal ini mendasari dominasi metode ilmiah, laboratorium, eksperimen, observasi.
-
Dalam penelitian interdisipliner sains & sosial, realisme memberikan kerangka bahwa variabel-variabel eksternal, data empiris dan observasi bisa dijadikan dasar analisis, sehingga hasil penelitian bisa diverifikasi dan direplikasi.
Contoh Penelitian yang Berakar pada Dua Sudut Pandang Ini
Contoh penelitian berdasarkan Idealisme
-
Sebuah penelitian tentang pendidikan karakter di sekolah dasar menggunakan filosofi idealisme: penekanan pada akal, moral, dan nilai, bukan hanya pengetahuan faktual. [Lihat sumber Disini - ojs.itapi.or.id]
-
Dalam konteks kurikulum pendidikan Islam: satu studi literatur menggabungkan idealisme dan realisme, di mana idealisme dipakai untuk menanamkan nilai spiritual dan moral, sementara realisme untuk aspek pengetahuan dan keterampilan. [Lihat sumber Disini - ejournal.uin-suka.ac.id]
Contoh penelitian berdasarkan Realisme
-
Penelitian pedagogis yang berorientasi pada realitas dunia nyata, data empiris, observasi, dan fakta, misalnya dalam sains alam, atau studi empiris pada pendidikan dengan pendekatan realis. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Dalam manajemen pendidikan (termasuk kebijakan, kurikulum, praktik nyata di sekolah), penelitian yang menggunakan filosofi realisme untuk menghasilkan rekomendasi berbasis data dan fakta. [Lihat sumber Disini - ejurnal.stkip-pessel.ac.id]
Implikasi Kombinasi Idealisme dan Realisme: Paradigma Sintetik
Meskipun idealisme dan realisme sering dianggap berlawanan, banyak literatur menyarankan bahwa integrasi keduanya justru menghasilkan kerangka yang lebih utuh, terutama dalam pendidikan dan penelitian sosial. [Lihat sumber Disini - e-jurnal.jurnalcenter.com]
Dalam pendekatan seperti itu:
-
Penelitian / pendidikan tidak hanya mengejar fakta empiris atau keterampilan teknis, tetapi juga membentuk karakter, moral, dan nilai.
-
Kurikulum dan metodologi bisa dirancang supaya siswa/peneliti berkembang secara intelektual, moral, dan praktis.
-
Hasil penelitian bisa lebih holistik, bukan sekadar data dan angka, tetapi juga makna, nilai, wawasan, dan relevansi sosial.
Kesimpulan
Perspektif idealisme dan realisme dalam filsafat ilmu merepresentasikan dua cara pandang yang berbeda namun komplementer terhadap realitas dan pengetahuan. Idealisme menekankan pada pikiran, gagasan, nilai, dan idealitas sebagai dasar realitas dan pengetahuan. Realisme menekankan pada dunia materi, fakta objektif, dan pengalaman empiris. Dalam penelitian, baik di bidang sosial maupun eksakta, orientasi ini akan memengaruhi metode, objek, interpretasi, serta tujuan.
Namun, banyak literatur menunjukkan bahwa integrasi antara idealisme dan realisme justru memberikan pendekatan yang lebih komprehensif, memungkinkan penelitian tidak hanya menghasilkan data faktual, tetapi juga memahami nilai, makna, dan dampak sosial. Oleh karena itu, pemahaman yang matang terhadap kedua sudut pandang ini penting bagi setiap peneliti agar bisa memilih paradigma yang tepat sesuai tujuan penelitian, atau bahkan merancang kerangka sintetik yang menggabungkan kelebihan keduanya.