
Idealisme Ilmiah: Konsep dan Contohnya
Pendahuluan
Pada era perkembangan ilmu pengetahuan dan pemikiran kritis, konsep idealisme ilmiah menjadi salah satu landasan penting dalam memahami bagaimana ilmu dibangun, dikembangkan, dan diterapkan. Idealisme ilmiah tidak sekadar berkutat pada data dan fakta empiris belaka, melainkan juga melibatkan gagasan, nilai, dan cita-cita yang memandu arah penelitian, pengembangan teori, dan aplikasi praktis. Dengan demikian, memahami idealisme ilmiah berarti menelaah bagaimana gagasan atau ide mendahului dan membentuk realitas penelitian ilmiah dan proses pengembangan pengetahuan. Artikel ini akan membahas secara mendalam pengertian idealisme ilmiah,dimulai dari definisi umum, definisi menurut KBBI, serta pandangan para ahli,kemudian menguraikan berbagai aspek, karakteristik, dan contoh konkret penerapan idealisme ilmiah, serta refleksi atas relevansinya dalam konteks penelitian dan pendidikan masa kini. Dengan demikian, pembaca diharapkan memperoleh pemahaman yang komprehensif tentang konsep idealisme ilmiah dan bagaimana hal ini dapat diterapkan dalam praktik ilmiah serta kehidupan akademik.
Definisi Idealisme Ilmiah
Definisi Idealisme Ilmiah Secara Umum
Secara umum, istilah “idealisme” mengacu pada paham bahwa ide, pikiran, atau kesadaran memiliki kedudukan yang lebih utama daripada realitas materi atau fisik dalam memahami hakikat sesuatu. Sebagai contoh, disebutkan bahwa idealisme adalah “suatu paham atau aliran dalam filsafat yang menekankan bahwa ide, pikiran, atau kesadaran merupakan realitas utama, sedangkan dunia materi atau fisik dianggap sebagai sesuatu yang bergantung pada pikiran manusia atau bahkan ilusi.” [Lihat sumber Disini - pekerja.com]
Ketika dikaitkan dengan ranah ilmiah atau penelitian, maka “idealisme ilmiah” bisa dipahami sebagai pendekatan di mana gagasan, model konseptual, nilai‐nilai dan kerangka teoritis mendahului, membentuk, atau bahkan menentukan arah ilmu, penelitian, maupun pembentukan teori. Dengan kata lain, tidak hanya data empiris yang menentukan ilmu, tetapi juga ide, teori dan konstruk pemikiran yang memberi bentuk pada bagaimana data tersebut diinterpretasikan dan ditelaah.
Definisi Idealisme Ilmiah dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata idealisme didefinisikan sebagai: “aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita‐cita sebagai satu‐satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami; hidup atau berusaha hidup menurut cita‐cita, menurut patokan yang dianggap sempurna; aliran yang mementingkan khayal atau fantasi untuk menunjukkan keindahan dan kesempurnaan meskipun tidak sesuai dengan kenyataan.” [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]
Dalam konteks “ilmiah”, maka frasa “idealisme ilmiah” bisa diartikan secara khusus sebagai upaya ilmiah yang berorientasi pada pencapaian cita‐cita ideal, menggunakan kerangka teoritis atau gagasan luhur sebagai pedoman, dan tidak hanya sekadar pengumpulan fakta empiris tanpa landasan nilai atau ide yang sistematis.
Definisi Idealisme Ilmiah Menurut Para Ahli
Beberapa ahli dan penelitian telah membahas idealisme (meskipun tidak selalu memakai istilah “idealisme ilmiah” secara eksplisit),berikut rangkuman beberapa definisi menurut para ahli:
- Menurut Rahayu, Tazkiyah, Murtadho, Arifin (2023) dalam penelitian mengenai filsafat idealisme: “Filsafat idealisme merupakan suatu aliran filsafat yang menekankan keunggulan dari pikiran (mind), jiwa (spirit) atau roh (soul) daripada hal-hal yang bersifat kebendaan atau material.” [Lihat sumber Disini - ejournal-fkip.unisi.ac.id]
- Menurut Salwa Rihadatul Aisy, Achmad Ghiyats Setiawan, Muhamad Parhan (2024) dalam artikel “Analisis Perspektif Aliran Idealisme dan Realisme…”: “Idealisme menekankan pentingnya pengembangan moral dan spiritual sebagai tujuan utama pendidikan… pendidikan tidak hanya bertujuan untuk mengasah intelektualitas, tetapi juga harus membentuk karakter yang mulia dan memiliki kesadaran moral.” [Lihat sumber Disini - ejournal.uin-suka.ac.id]
- Menurut penelitian “Implementasi Pendidikan Idealisme di Perguruan Tinggi” (2024) : “Filsafat idealisme merupakan aliran yang lebih mengutamakan ide atau pikiran dibandingkan hal‐hal yang bersifat material dalam mencapai suatu tujuan. … aliran ini berorientasi pada aspek spiritual dan nilai‐nilai moral.” [Lihat sumber Disini - jurnal.itscience.org]
- Menurut artikel “Refleksi Filsafat Idealisme” (2024) : “Aliran filsafat idealis berpendapat bahwa hakikat segala sesuatu ada pada tataran gagasan. Realitas sejati terutama ada dalam realitas gagasan dan pemikiran, bukan dalam materi.” [Lihat sumber Disini - ejournal.sembilanpemuda.id]
Berdasarkan berbagai definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa idealisme ilmiah mengandung unsur: (a) ide/gagasan sebagai dasar dan inti pemikiran ilmiah, (b) keunggulan nilai, pikiran atau teori dibandingkan hanya fakta empiris semata, (c) orientasi menuju cita‐cita atau nilai yang lebih tinggi dalam proses ilmiah. Dengan demikian, ketika peneliti atau ilmuwan menggunakan idealisme ilmiah, mereka tidak hanya sekadar menjaring data‐data, tetapi juga memproyeksikan gagasan, nilai, atau teori yang ingin dicapai dalam proses penelitian, pengembangan ilmu, atau aplikasi.
Aspek dan Dimensi Idealisme Ilmiah
Untuk memahami lebih jauh, berikut beberapa aspek atau dimensi penting dalam idealisme ilmiah:
Ontologi (Dimensi Realitas)
Dalam kerangka idealisme, pertanyaan ontologis menyangkut hakikat realitas, bukan hanya apa yang ada, tetapi apa yang paling mendasar dari apa yang ada. Dalam idealisme dikatakan bahwa realitas sejati bukanlah semata‐mata materi atau benda, melainkan ide, pikiran, atau konsep. Sebagai contoh: “Materi merupakan bagian terluar dari hakikat terdalam yang disebut akal atau ruh, maka materi adalah kulit terluar dari hakikat.” [Lihat sumber Disini - ejournal.sembilanpemuda.id]
Dalam konteks ilmiah, ontologi idealisme berarti bahwa objek penelitian, fenomena ilmiah, dan model‐teori dianggap sebagai manifestasi atau wujud yang berasal dari ide atau konsep yang lebih tinggi. Sebuah teori ilmiah bukan hanya representasi fakta empiris tetapi juga suatu gagasan yang membentuk bagaimana fakta itu diinterpretasikan.
Epistemologi (Dimensi Pengetahuan)
Epistemologi dalam idealisme menegaskan bahwa pengetahuan tidak hanya diperoleh melalui pengalaman inderawi atau pengamatan semata, tetapi terutama melalui akal, refleksi dan pemahaman ide atau gagasan. Sebagai contoh: “Pengetahuan itu tidak didasarkan pada sesuatu yang datang dari luar, tetapi pada sesuatu yang telah diolah dalam ide dan pikiran.” [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Dalam budaya ilmiah, maka penelitian yang berlandaskan idealisme cenderung menekankan pembangunan model teoritis, hipotesis, kerangka konseptual yang kuat, dan bukan hanya pengukuran data empiris tanpa kerangka ide yang menyeluruh.
Aksiologi (Dimensi Nilai)
Aspek aksiologi berkaitan dengan nilai-nilai, etika, estetika dan tujuan ilmu. Idealisme memandang bahwa pendidikan, penelitian, dan ilmu harus mengarah kepada nilai‐nilai luhur, cita‐cita, moral, karakter, bukan hanya utilitas materi semata. Contohnya: “Idealisme menekankan pentingnya nilai‐nilai abstrak, seperti kebenaran, keindahan, dan kebaikan, yang harus diinternalisasi oleh peserta didik.” [Lihat sumber Disini - ejournal.uin-suka.ac.id]
Dalam konteks ilmiah, idealisme ilmiah menempatkan penelitian bukan hanya sebagai alat untuk menghasilkan produk atau teknologi, tetapi sebagai wujud pencapaian nilai intelektual, etika keilmuan, dan kemajuan manusia secara keseluruhan.
Prinsip-Prinsip Umum Idealisme Ilmiah
Beberapa prinsip yang bisa diidentifikasi dalam idealisme ilmiah yaitu:
- Gagasan atau teori memandu pengamatan dan interpretasi data.
- Nilai dan etika keilmuan menjadi bagian integral dari proses penelitian.
- Tujuan penelitian tidak hanya untuk menjawab “apa” dan “bagaimana”, tetapi juga “mengapa” dari sudut pandang nilai atau cita -cita.
- Ilmu dipandang sebagai pencapaian yang bersifat ideal,mencapai kebenaran, keadilan, kebijaksanaan,bukan sekadar penguasaan fakta empiris.
- Hubungan antara teori dan fakta berjalan dua arah: bukan hanya fakta menguji teori, teori juga mengarahkan fakta.
Kelebihan dan Tantangan
Kelebihan:
- Membantu peneliti berpikir lebih mendalam tentang kerangka teoritis, tujuan dan nilai dalam penelitian.
- Memperkuat integrasi antara ilmu, etika, dan kemajuan manusia.
- Mendorong penelitian yang holistik: tidak hanya teknis, tetapi juga reflektif dan bermakna.
Tantangan:
- Jika terlalu menekankan gagasan ideal tanpa cukup empiris, bisa terjadi spekulasi yang kurang terbukti.
- Kekhawatiran bahwa nilai atau cita-cita menjadi bias penelitian (menjadikan penelitian lebih “normatif” daripada “deskriptif”).
- Dalam praktik, menggabungkan antara teori ideal, nilai, dan data empiris membutuhkan keseimbangan yang matang.
Contoh-Contoh Penerapan Idealisme Ilmiah
Untuk memperjelas bagaimana idealisme ilmiah diterapkan, berikut beberapa contoh konkret dalam dunia penelitian, pendidikan, dan pengembangan ilmu:
Contoh 1: Penelitian Pendidikan Berbasis Nilai
Dalam jurnal “Implementasi Pendidikan Idealisme di Perguruan Tinggi” (2024) ditemukan bahwa filsafat idealisme dalam pendidikan menekankan aspek nilai moral dan spiritual dalam proses pendidikan tinggi. [Lihat sumber Disini - jurnal.itscience.org]
Misalnya, sebuah penelitian pendidikan yang tidak hanya mengukur hasil belajar siswa berdasarkan kuantitas poin tes, tetapi juga mengukur perkembangan karakter, etika, kesadaran kritis, nilai sosial,yakni mengintegrasikan gagasan ideal pendidikan sebagai pencapaian manusia utuh. Penelitian semacam ini mencerminkan idealisme ilmiah karena gagasan nilai pendidikan menjadi landasan kerangka penelitian.
Contoh 2: Kurikulum dan Metode Pengajaran Berdasarkan Idealisme
Jurnal “Analisis Perspektif Aliran Idealisme dan Realisme…” (2024) menunjukkan bahwa dalam pendidikan Islam, idealisme digunakan sebagai kerangka untuk mengembangkan kurikulum yang tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan faktual namun juga pengembangan karakter dan kebebasan moral. [Lihat sumber Disini - ejournal.uin-suka.ac.id]
Sebagai contoh, dalam pengajaran mata pelajaran sains atau sosial di sekolah, metode yang diambil bukan hanya eksperimen dan observasi, tetapi juga diskusi filosofis mengenai konsep “kebenaran”, “kebaikan”, “keindahan”, dan ini adalah penerapan idealisme ilmiah: ilmu diarahkan pada nilai.
Contoh 3: Penelitian Sejarah atau Ilmu Sosial dengan Pendekatan Idealisme
Dalam artikel “Paradigma Positivisme dan Idealisme dalam Ilmu Sejarah” (2021) ditemukan bahwa kaum idealis dalam penelitian sejarah menggunakan pendekatan empati intelektual (verstehen) dan gagasan bahwa fenomena sosial tidak hanya dapat dijelaskan melalui fakta empiris semata tetapi melalui pemahaman ide, nilai, dan konteks kultural. [Lihat sumber Disini - jurnal.radenfatah.ac.id]
Contoh aplikatif: Seorang peneliti sejarah budaya tidak hanya mengumpulkan data arsip, tetapi juga menafsirkan gagasan masyarakat di masa lalu tentang keadilan, kebaikan, hubungan manusia,dan melihat bagaimana gagasan itu membentuk tindakan nyata. Inilah manifestasi idealisme ilmiah: ide/konsep masyarakat menjadi pusat analisis, bukan hanya data lapangan.
Contoh 4: Pengembangan Teori Ilmiah yang Didorong Cita-Cita Ilmu
Dalam konteks ilmu alam atau interdisipliner, sering ditemukan bahwa teori atau model ilmiah dihasilkan bukan hanya karena data, tetapi karena pemikiran ideal tentang bagaimana alam harus dipahami. Contoh klasik (meskipun bukan dari jurnal Indonesia 2021-2025) adalah pemodelan fisika teoretis yang didorong oleh keindahan matematika atau elegansi teori, meskipun belum terbukti empiris sepenuhnya.
Dalam konteks Indonesia, meskipun belum ada banyak penelitian eksplisit dengan label “idealisme ilmiah”, kerangka idealisme digunakan dalam penelitian pendidikan untuk mengarahkan arah penelitian yang mengandung gagasan transformasi sosial, karakter dan nilai.
Relevansi dan Implikasi untuk Penelitian Ilmiah Masa Kini
Memahami idealisme ilmiah memiliki sejumlah implikasi penting bagi para peneliti, akademisi, mahasiswa, dan praktisi keilmuan:
Memperkuat Kerangka Teoritis Penelitian
Peneliti sebaiknya tidak hanya fokus mengumpulkan data tetapi juga memikirkan gagasan atau model konseptual yang akan mengarahkan penelitian. Dengan kerangka idealisme, penelitian menjadi lebih dari sekadar deskriptif,menjadi transformasional, bermakna, dan mengarah pada nilai.
Memadukan Nilai dan Etika dalam Ilmu
Dalam era modern di mana tantangan keilmuan meliputi isu etika, tanggung jawab sosial, dan dampak penelitian ke masyarakat, idealisme ilmiah mengingatkan bahwa ilmu tidak netral secara nilai, melainkan memiliki orientasi tujuan. Peneliti perlu sadar bahwa penelitian harus berkontribusi pada kebaikan bersama, bukan hanya publikasi atau angka.
Menyeimbangkan Empiris dan Ideal
Meski idealisme menekankan gagasan dan nilai, penelitian ilmiah tetap perlu empiris, sistematis, dan dapat diuji. Implikasi praktisnya adalah bahwa peneliti harus membangun keseimbangan antara kerangka ide yang kuat dan bukti empiris yang valid,menghindari penelitian yang terlalu spekulatif tanpa dasar atau penelitian yang hanya teknis tanpa makna.
Mendidik Generasi Ilmuwan yang Bermakna
Dalam konteks pendidikan tinggi atau penelitian mahasiswa, pembelajaran dan bimbingan penelitian bisa diarahkan bukan hanya pada metodologi dan statistik, tetapi juga pada refleksi tentang “mengapa penelitian ini penting”, “nilai apa yang ingin dicapai”, “bagaimana penelitian ini berkontribusi kepada kemanusiaan”. Ini adalah penerapan idealisme ilmiah dalam pendidikan.
Tantangan Kontekstual di Indonesia
Dalam konteks Indonesia, di mana sumber daya penelitian, akses data, dan kapasitas teoritis kadang terbatas, mengadopsi idealisme ilmiah bisa menjadi tantangan namun juga peluang. Tantangannya: memastikan gagasan atau nilai yang diangkat relevan dengan konteks lokal; memastikan empirisnya kuat; menghindari penelitian yang “terlalu ideal” namun sulit diimplementasikan. Peluangnya: penelitian yang tidak hanya kontribusi kuantitas, tetapi juga kualitas yang mengandung nilai lokal, sosial dan budaya.
Kesimpulan
Idealisme ilmiah merupakan pendekatan yang memandang bahwa gagasan, nilai, dan kerangka teoritis memiliki peran sentral dalam pembangunan ilmu pengetahuan. Definisi umum menunjukkan bahwa gagasan mendahului materi dan pikiran memiliki kedudukan utama; definisi dari KBBI menegaskan idealisme sebagai aliran filsafat yang mengutamakan pikiran atau cita‐cita; dan menurut para ahli, idealisme dalam konteks pendidikan atau penelitian menekankan keunggulan pikiran, nilai, karakter, serta orientasi cita-cita.
Aspek‐aspek seperti ontologi (realitas ide), epistemologi (pengetahuan melalui ide) dan aksiologi (nilai dalam ilmu) menunjukkan bahwa idealisme ilmiah tidak hanya teknis tetapi juga filosofis dan etis. Contoh‐contoh penerapan idealisme ilmiah dalam penelitian pendidikan, kurikulum, ilmu sosial dan pengembangan teori menunjukkan bahwa gagasan ini memiliki arti praktis.
Implikasinya bagi penelitian masa kini adalah pentingnya membangun kerangka teoritis yang kuat, memasukkan nilai dan etika ke dalam proses ilmiah, serta menyeimbangkan antara gagasan ideal dan bukti empiris. Dengan demikian, penelitian tidak hanya menghasilkan data atau publikasi, tetapi juga kontribusi bermakna bagi manusia dan masyarakat.
Singkatnya, idealisme ilmiah mengajak kita untuk “melampaui data”, bahwa ilmu sesungguhnya adalah upaya manusia berpikir, bermakna, dan berkontribusi menuju kebaikan dan pengetahuan yang lebih tinggi. Semoga pemahaman ini mendorong kita untuk melakukan penelitian yang tidak hanya benar secara metodologis, tetapi juga baik secara kultural dan nilai.