
Tingkat Pengetahuan Suami tentang ASI Eksklusif
Pendahuluan
Air Susu Ibu (ASI) eksklusif sejak lahir hingga bayi berumur 6 bulan telah diakui secara luas sebagai asupan terbaik bagi bayi. Pemberian ASI eksklusif terbukti mendukung pertumbuhan optimal, kekebalan tubuh, perkembangan kognitif, serta mengurangi risiko penyakit pada masa bayi. Namun keberhasilan pemberian ASI eksklusif tidak hanya ditentukan oleh ibu semata, dibutuhkan dukungan lingkungan dan keluarga, khususnya dari suami. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa peran suami dalam mendukung menyusui berkorelasi positif dengan keberhasilan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - ojs.polkespalupress.id]
Dalam konteks ini, tingkat pengetahuan suami mengenai ASI eksklusif menjadi aspek yang sangat penting. Pengetahuan suami menentukan sikap, dukungan emosional, serta tindakan nyata dalam membantu ibu menyusui. Oleh karena itu, artikel ini membahas secara mendetail tentang “Tingkat Pengetahuan Suami tentang ASI Eksklusif”, meliputi definisi, sumber informasi, faktor yang mempengaruhi, hingga dampaknya terhadap keberhasilan ASI eksklusif.
Definisi “Tingkat Pengetahuan Suami tentang ASI Eksklusif”
Definisi secara umum
“Tingkat pengetahuan suami tentang ASI eksklusif” dapat diartikan sebagai seberapa jauh seorang suami memahami konsep pemberian ASI eksklusif, yaitu pemberian ASI saja tanpa tambahan makanan atau minuman lain, serta manfaat, durasi, kebutuhan, tantangan, dan cara mendukung istri selama proses menyusui. Pengetahuan ini meliputi aspek teoritis (misalnya manfaat kesehatan) maupun aspek praktis (misalnya bagaimana mendampingi ibu menyusui, membantu perawatan bayi, memahami tantangan).
Definisi dalam KBBI / Literatur baku
Dalam literatur kedokteran dan kebidanan, “ASI eksklusif” sering didefinisikan sebagai pemberian ASI saja sejak lahir hingga bayi berumur 6 bulan tanpa makanan atau minuman tambahan, kecuali suplemen atau obat jika diperlukan. Dukungan suami kemudian didefinisikan sebagai segala bentuk bantuan, emosional, informatif, instrumental, dari suami kepada ibu menyusui agar proses ASI berjalan baik. (Misalnya dalam penelitian kuantitatif yang menilai “dukungan suami” sebagai variabel independen terhadap pemberian ASI eksklusif). [Lihat sumber Disini - siakad.stikesdhb.ac.id]
Definisi menurut para ahli
Berikut sejumlah definisi menurut peneliti/ahli dalam studi ilmiah:
-
Dalam penelitian oleh Ivon Diah Wittiarika dan rekan-rekannya (2025), pengetahuan suami tentang ASI eksklusif diukur bersama sikap, lalu dianalisis hubungannya dengan self-efficacy ibu menyusui. Mereka menekankan bahwa pengetahuan dan sikap suami menjadi faktor penting mempengaruhi kepercayaan diri ibu dalam menyusui. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Studi oleh E Mardiyaningsih (2024) menunjukkan bahwa persepsi ibu terhadap dukungan suami, yang sebagian bergantung pada pengetahuan dan kesadaran suami, sangat penting dalam keberhasilan praktik menyusui di masa pandemi. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Dalam tinjauan sistematik oleh Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (2022), dukungan keluarga termasuk suami diidentifikasi sebagai faktor dominan yang mempengaruhi durasi dan keberhasilan ASI eksklusif. Pengetahuan suami termasuk aspek yang memengaruhi kesiapan mendukung ibu secara emosional dan praktis. [Lihat sumber Disini - sciencescholar.us]
-
Penelitian oleh Suci Arsita Sari dan rekan (2025) di Bojonegoro menyimpulkan bahwa dukungan suami, yang terkait dengan pengetahuan dan kesadaran suami, berpengaruh nyata terhadap pemberian ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - adila.ac.id]
Dengan demikian, “tingkat pengetahuan suami tentang ASI eksklusif” bukan sekadar pemahaman teori, tetapi meliputi keyakinan, sikap, dan kesiapan untuk memberi dukungan aktif selama proses menyusui.
Pentingnya Peran Suami dalam Keberhasilan ASI Eksklusif
Peran suami sangat krusial dalam keberhasilan pemberian ASI eksklusif, dan banyak penelitian yang menunjukkan korelasi positif antara dukungan suami dengan tingginya angka pemberian ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - jurnal.cakrabirawamedia.com]
Beberapa aspek penting dari peran suami antara lain:
-
Memberi dukungan emosional, menyemangati, memberi apresiasi, memahami kesulitan ibu menyusui. Penelitian kualitatif menunjukkan bahwa kehadiran suami memberikan rasa aman dan nyaman bagi ibu, yang mendukung kelancaran menyusui. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Menyediakan dukungan informatif, membantu mencari informasi tentang ASI eksklusif, meredakan mitos, membantu adaptasi ibu baru. [Lihat sumber Disini - jurnal.cakrabirawamedia.com]
-
Bantuan praktis, ikut serta dalam merawat bayi, membantu tugas rumah tangga, memberi waktu bagi ibu untuk menyusui dengan tenang. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Dengan peran ini, suami menjadi bagian penting dari sistem pendukung ibu menyusui, sehingga meningkatkan peluang keberhasilan ASI eksklusif.
Sumber Informasi Suami tentang ASI
Pengetahuan suami tentang ASI eksklusif bisa diperoleh dari berbagai sumber, antara lain:
-
Edukasi dari tenaga kesehatan selama kunjungan antenatal ataupun posnatal, banyak program kesehatan mendorong suami turut hadir dalam konseling menyusui. Misalnya, sebuah studi literatur menyarankan keterlibatan suami melalui edukasi keluarga. [Lihat sumber Disini - journal.ia-education.com]
-
Media publik, pelatihan komunitas, seminar, internet, media sosial, di era digital, informasi ASI semakin mudah diakses, dan ini membantu suami memahami manfaat dan teknik menyusui.
-
Peer support / komunitas orang tua dan suami, berbagi pengalaman dengan suami lain yang mendukung ASI, termasuk kelompok “ayah ASI” yang meningkatkan pengetahuan dan komitmen. [Lihat sumber Disini - ijhn.ub.ac.id]
-
Observasi lingkungan keluarga, suami bisa belajar dari pengalaman keluarga, saudara, teman, misalnya melihat bayi yang mendapatkan ASI eksklusif dan tumbuh sehat.
Tingkat akses dan kualitas dari sumber informasi ini sangat mempengaruhi pemahaman suami terhadap ASI eksklusif.
Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Suami
Pengetahuan suami tentang ASI eksklusif dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor:
-
Pendidikan dan latar belakang suami, suami dengan pendidikan lebih tinggi cenderung mudah memahami literatur kesehatan, menyerap informasi tentang ASI dengan baik. [Lihat sumber Disini - ejournal2.undip.ac.id]
-
Paparan terhadap kampanye kesehatan, suami yang pernah ikut penyuluhan, seminar, atau konseling laktasi lebih berpengetahuan. [Lihat sumber Disini - journal.ia-education.com]
-
Akses ke layanan kesehatan & informasi, suami dari keluarga dengan akses baik ke layanan kesehatan lebih mungkin mendapatkan informasi akurat tentang ASI. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Lingkungan sosial dan budaya, norma bahwa menyusui adalah “urusan ibu saja” bisa membatasi kepedulian suami; sebaliknya budaya dukungan keluarga membuat suami aktif mendukung. [Lihat sumber Disini - jurnal.itkesmusidrap.ac.id]
-
Motivasi dan sikap suami terhadap penyusuan, suami yang sadar manfaat dan yakin pentingnya ASI eksklusif lebih termotivasi untuk mencari info dan mendukung. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Faktor-faktor ini berinteraksi kompleks membentuk sejauh mana suami mendapat dan menyimpan pengetahuan yang tepat tentang ASI eksklusif.
Dampak Pengetahuan terhadap Dukungan Emosional
Pengetahuan yang memadai pada suami berkontribusi besar pada kualitas dukungan emosional bagi ibu menyusui. Suami yang paham manfaat ASI eksklusif biasanya:
-
Memberi apresiasi dan semangat kepada ibu, penelitian menunjukkan bahwa dukungan emosional dari suami berkorelasi dengan keberhasilan menyusui. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Lebih sensitif terhadap kebutuhan ibu, memahami tantangan menyusui (nyeri, frekuensi, kelelahan) sehingga lebih sabar membantu ibu.
-
Membantu menciptakan lingkungan rumah yang kondusif, mengatur tugas rumah, menjaga ketenangan agar ibu bisa menyusui tanpa gangguan, mendukung rutinitas menyusui.
Dukungan emosional ini tak kalah penting dibanding dukungan praktis, karena kondisi psikologis ibu sangat mempengaruhi produksi ASI dan kelangsungan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - jurnal.itkesmusidrap.ac.id]
Perilaku Suami dalam Mendukung Menyusui
Beberapa bentuk perilaku nyata suami dalam mendukung menyusui, antara lain:
-
Mengantar istri ke layanan kesehatan untuk konseling atau kontrol kehamilan / nifas, agar suami mendapat informasi langsung dari tenaga kesehatan.
-
Membantu pekerjaan rumah, memberi waktu ibu beristirahat dan menyusui dengan nyaman.
-
Merawat bayi, mengganti popok, menimang, membantu tugas suami dalam pengasuhan agar ibu lebih fokus menyusui.
-
Memberi dorongan moral, memuji ibu, memberi semangat saat menyusui sulit atau di malam hari.
-
Membantu mencari informasi/ edukasi ASI, membaca literatur, ikut seminar, berdiskusi komunitas parenting/menyusui.
Penelitian menunjukkan bahwa ibu yang mendapatkan dukungan suami dalam bentuk informatif maupun emosional lebih mungkin memberikan ASI eksklusif dengan sukses. [Lihat sumber Disini - jurnal.cakrabirawamedia.com]
Hambatan Suami dalam Memberikan Dukungan
Walaupun penting, dukungan suami tidak selalu maksimal. Beberapa hambatan yang sering muncul:
-
Kurangnya pengetahuan dan kesadaran, suami tidak tahu manfaat ASI eksklusif atau menganggap menyusui cukup “urusan ibu.” [Lihat sumber Disini - jurnal.itkesmusidrap.ac.id]
-
Norma sosial dan stereotip gender, budaya yang memandang pengasuhan bayi dan menyusui sebagai tugas perempuan saja. [Lihat sumber Disini - jurnal.itkesmusidrap.ac.id]
-
Kesibukan atau tekanan kerja, suami bekerja jauh, waktu terbatas, sehingga sulit mendampingi ibu.
-
Kurangnya akses ke edukasi, suami tidak diajak dalam konseling antenatal/posnatal, sehingga tidak mendapat informasi.
-
Rendahnya motivasi atau sikap pasif terhadap peran, tanpa dorongan dari istri atau lingkungan, suami bisa enggan terlibat aktif.
Hambatan-hambatan ini dapat melemahkan potensi suami sebagai pendukung aktif ASI eksklusif meskipun telah menikah dan tinggal serumah.
Hubungan Pengetahuan Suami dengan Keberhasilan ASI Eksklusif
Sejumlah penelitian empiris di Indonesia menunjukkan bahwa pengetahuan dan dukungan suami berhubungan signifikan dengan pemberian ASI eksklusif.
-
Sebuah penelitian di Puskesmas wilayah kerja, menunjukkan bahwa ketika suami mendukung, ibu lebih kemungkinan besar memberi ASI eksklusif; p-value signifikan. [Lihat sumber Disini - siakad.stikesdhb.ac.id]
-
Studi lain menemukan bahwa selain dukungan, pengetahuan dan sikap suami juga memengaruhi self-efficacy ibu menyusui, meskipun dalam kasus ibu post-seksio caesarea, sikap suami berpengaruh signifikan pada kepercayaan diri ibu menyusui, sedangkan pengetahuan saja tidak selalu cukup. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Tinjauan literatur sistematik menunjukkan bahwa dukungan suami, sebagai bagian dari lingkungan keluarga, adalah salah satu faktor dominan yang memengaruhi durasi dan keberhasilan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Kombinasi antara dukungan suami dan motivasi ibu terbukti secara kuantitatif meningkatkan angka pemberian ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - jurnal.jomparnd.com]
Dari temuan-temuan ini, dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan suami, bila diiringi sikap positif dan dukungan aktif, secara nyata meningkatkan kemungkinan keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Kesimpulan
Pengetahuan suami tentang ASI eksklusif memainkan peran kunci dalam menunjang keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Pengetahuan ini mencakup pemahaman teori tentang manfaat ASI serta kesiapan untuk mendampingi secara emosional dan praktis. Suami yang terinformasi dan mendukung dapat memberi dukungan emosional, membantu praktis, dan menciptakan lingkungan rumah yang kondusif bagi proses menyusui. Sebaliknya, kurangnya pengetahuan, norma sosial tradisional, kesibukan, atau sikap pasif dapat menjadi hambatan serius. Oleh karena itu, upaya promosi ASI eksklusif perlu melibatkan suami, dengan edukasi, penyuluhan, dan intervensi yang menumbuhkan kesadaran dan peran aktif, agar target ASI eksklusif dapat tercapai lebih optimal.