Terakhir diperbarui: 03 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 3 January). Psychological Empowerment. SumberAjar. Retrieved 24 February 2026, from https://sumberajar.com/kamus/psychological-empowerment  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Psychological Empowerment - SumberAjar.com

Psychological Empowerment

Pendahuluan

Psychological empowerment telah menjadi topik utama dalam penelitian perilaku organisasi dan manajemen sumber daya manusia selama beberapa dekade terakhir. Di tengah dunia kerja yang dinamis, kebutuhan untuk memahami bagaimana motivasi intrinsik dan pengalaman psikologis karyawan memengaruhi kinerja organisasi makin penting. Psychological empowerment berkontribusi pada bagaimana individu memaknai pekerjaan mereka, merasa kompeten, memiliki kendali atas keputusan yang berkaitan dengan tugas mereka, dan merasakan dampak nyata dari peran yang mereka jalani. Pemahaman komprehensif tentang psychological empowerment bukan hanya relevan bagi akademisi, tetapi juga praktisi HR dan pemimpin organisasi yang ingin meningkatkan produktivitas dan keterlibatan karyawan secara berkelanjutan.


Definisi Psychological Empowerment

Definisi Psychological Empowerment Secara Umum

Psychological empowerment secara umum dipahami sebagai suatu keadaan psikologis di mana seorang individu merasa memiliki motivasi intrinsik untuk melaksanakan tugas pekerjaannya. Empowerment ini bukan sekadar pemberian wewenang secara struktural, tetapi lebih kepada cara individu memaknai pekerjaannya, merasa mampu, memiliki kontrol atas tindakan mereka, serta merasakan dampak positif dari perannya dalam lingkungan kerja. Penelitian menunjukkan bahwa psychological empowerment terbentuk sebagai konstruksi motivasional yang mencerminkan orientasi aktif terhadap peran kerja, bukan respon pasif terhadap tugas yang diberikan. [Lihat sumber Disini - jurnal.mediaakademik.com]

Definisi Psychological Empowerment dalam KBBI

Menurut Kamusan Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pemberdayaan adalah proses memberikan kekuatan, kemampuan, dan wewenang kepada seseorang agar mampu mengembangkan kapasitasnya secara optimal (KBBI Online). Psychological empowerment dapat ditafsirkan sebagai pemberdayaan psikologis di mana individu diberikan ruang untuk memiliki kontrol, kepercayaan diri, serta rasa berdaya atas perannya dalam organisasi, yang sesuai dengan definisi pemberdayaan dalam KBBI.

Definisi Psychological Empowerment Menurut Para Ahli

  1. Spreitzer (1995): Psychological empowerment didefinisikan sebagai motivational construct yang diwujudkan dalam empat kognisi, meaning, competence, self-determination, dan impact, yang mencerminkan orientasi aktif seseorang terhadap peran kerja mereka. [Lihat sumber Disini - repository.uinjkt.ac.id]

  2. Aam Amaliah & Laila Meliyandrie (2021) menjelaskan bahwa psychological empowerment mencakup empat indikator utama yang menunjukkan bagaimana karyawan menilai makna pekerjaan mereka, keyakinan atas kemampuan diri, tingkat kebebasan mengambil keputusan, serta pengaruh yang dirasakan pada hasil kerja. [Lihat sumber Disini - jurnal.mediaakademik.com]

  3. Thomas dan Velthouse (1990) menyatakan psychological empowerment berkaitan dengan persepsi individu terhadap pengalaman bekerja yang memberdayakan, meningkatkan motivasi intrinsik melalui pemahaman dan kontrol terhadap peran dan tugas yang dijalankan. [Lihat sumber Disini - journal.unair.ac.id]

  4. Research pada organisasi kontemporer menegaskan bahwa psychological empowerment mencerminkan bagaimana pekerja merasa dihargai, memiliki otonomi, dan berkontribusi terhadap hasil serta tujuan organisasi yang lebih luas, sehingga berpengaruh pada motivasi dan keterlibatan kerja. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Dimensi Psychological Empowerment

Psychological empowerment tidak tunggal, melainkan terdiri dari beberapa dimensi penting yang saling berinteraksi untuk menciptakan perasaan berdaya pada individu. Berdasarkan teori klasik yang banyak digunakan dalam penelitian organisasi:

1. Meaning (Makna Pekerjaan)

Dimensi ini merujuk pada hubungan antara nilai dan keyakinan individu dengan tuntutan tugas yang dijalankan. Ketika pekerjaan dianggap selaras dengan nilai pribadi, pekerjaan dirasakan lebih bermakna, sehingga individu terdorong secara psikologis untuk terlibat secara lebih aktif. [Lihat sumber Disini - eprints.upj.ac.id]

2. Competence (Kompetensi Diri)

Kompetensi adalah keyakinan atas kemampuan diri untuk menyelesaikan tugas pekerjaan dengan efektif. Individu merasa yakin bahwa mereka memiliki keterampilan, kapasitas, dan keahlian untuk mengatasi tantangan pekerjaannya. [Lihat sumber Disini - eprints.upj.ac.id]

3. Self-Determination (Penentuan Nasib Sendiri / Otonomi)

Dimensi ini menunjukkan sejauh mana seseorang merasa bebas untuk memulai dan mengatur tindakan pekerjaannya. Semakin tinggi tingkat otonomi, semakin kuat perasaan bahwa pekerjaan dapat dikontrol secara psikologis. [Lihat sumber Disini - eprints.upj.ac.id]

4. Impact (Dampak terhadap Lingkungan Kerja)

Impact menggambarkan sejauh mana seorang individu merasa dapat memengaruhi hasil, keputusan, dan proses strategis dalam lingkungan kerja mereka. Rasa memiliki dampak dapat meningkatkan rasa berdaya dan keterlibatan terhadap organisasinya. [Lihat sumber Disini - eprints.upj.ac.id]


Faktor yang Mempengaruhi Psychological Empowerment

Berbagai faktor internal maupun eksternal dapat membentuk psychological empowerment, di antaranya:

1. Karakteristik Individu

Faktor seperti kepercayaan diri (self-esteem), pengalaman kerja, serta motivasi intrinsik memengaruhi bagaimana seseorang merasakan pemberdayaan secara psikologis. Individu dengan self-esteem tinggi cenderung lebih percaya bahwa mereka mampu memengaruhi lingkungan kerja dan memiliki peran penting dalam tugas mereka. [Lihat sumber Disini - eprints.upj.ac.id]

2. Karakteristik Pekerjaan

Elemen pekerjaan seperti tingkat variasi tugas, besarnya otonomi, serta kompleksitas pekerjaan dapat mendorong perasaan berdaya. Tugas yang menantang dan diberi ruang kontrol biasanya meningkatkan psychological empowerment. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

3. Kepemimpinan dan Budaya Organisasi

Gaya kepemimpinan yang memberikan dukungan, peluang pengambilan keputusan, serta budaya yang menghargai partisipasi aktif dapat memperkuat psychological empowerment. Kepemimpinan yang menghargai kontribusi karyawan membuat individu merasa dilibatkan dan dihormati secara psikologis. [Lihat sumber Disini - ppipress.com]

4. Dukungan Organisasi

Dukungan organisasi termasuk peluang pengembangan karier, pengakuan prestasi, serta komunikasi yang jelas memperkuat rasa otonomi dan kompetensi individu. Organisasi yang menyediakan sumber daya psikologis tinggi biasanya menciptakan lingkungan kerja yang lebih memberdayakan. [Lihat sumber Disini - wepub.org]


Psychological Empowerment dan Motivasi Kerja

Psychological empowerment memiliki hubungan erat dengan motivasi kerja terutama motivasi intrinsik. Ketika karyawan merasa pekerjaannya bermakna, kompeten, memiliki otonomi serta dampak terhadap hasil, motivasi internal mereka meningkat secara signifikan. Hal ini sejalan dengan teori motivasi kontemporer yang menekankan aspek psikologis sebagai pendorong kinerja optimal.

Penelitian menunjukkan bahwa psychological empowerment mampu meningkatkan motivasi intrinsik yang pada akhirnya berdampak pada engagement dan kedekatan emosional terhadap pekerjaan. Karyawan yang merasa berdaya cenderung menunjukkan semangat kerja yang lebih tinggi, keinginan untuk berkontribusi lebih, serta kesiapan untuk menghadapi tantangan kerja yang lebih kompleks. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Dampak Psychological Empowerment terhadap Kinerja

Psychological empowerment berdampak positif terhadap berbagai indikator kinerja individu dan organisasi secara umum:

1. Kinerja Individual dan Produktivitas

Karyawan yang merasa berdaya cenderung memiliki kinerja yang lebih tinggi karena mereka merasa termotivasi untuk memberikan usaha terbaik dalam tugas mereka. Psychological empowerment juga berkorelasi dengan performa kerja yang lebih baik dalam berbagai konteks organisasi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

2. Keterlibatan Kerja (Work Engagement)

Employee engagement merupakan dampak yang konsisten dari psychological empowerment. Karyawan yang berdaya merasa terlibat lebih dalam peran kerja mereka, menunjukkan energi, dedikasi, dan fokus terhadap pekerjaan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

3. Kepuasan Kerja dan Komitmen Organisasi

Empowerment psikologis memperkuat kepuasan kerja serta keterikatan emosional karyawan kepada organisasi. Hal ini dapat mengurangi turnover intention dan meningkatkan loyalitas organisasi secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

4. Kreativitas dan Inovasi

Psikologis pemberdayaan berkaitan positif dengan kreativitas karyawan karena karyawan merasa bebas untuk bereksperimen, memberikan ide baru, dan mengambil inisiatif dalam proses kerja. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]


Psychological Empowerment dalam Konteks Organisasi

Dalam konteks organisasi, psychological empowerment bukan hanya teori tetapi praktik manajerial yang dapat diadopsi dalam berbagai fungsi manajemen sumber daya manusia:

1. Desain Pekerjaan dan Delegasi

Organisasi yang menyediakan struktur kerja yang memberi ruang otonomi kepada karyawan dapat meningkatkan tingkat psychological empowerment. Desain tugas yang menantang dan fleksibel memungkinkan individu mempertahankan kontrol terhadap pekerjaan mereka.

2. Kepemimpinan yang Mendukung

Gaya kepemimpinan yang partisipatif dan suportif membantu menciptakan lingkungan kerja yang mempromosikan empowerment. Ketua tim atau manajer yang mendengarkan masukan karyawan dan melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan menciptakan rasa berdaya.

3. Budaya Organisasi yang Terbuka

Organisasi dengan budaya terbuka, transparan, dan menghargai keikutsertaan karyawan akan mempercepat terbentuknya psychological empowerment di antara anggotanya.


Kesimpulan

Psychological empowerment adalah konsep psikologis yang kuat dan relevan dalam manajemen kontemporer, yang mencerminkan motivasi intrinsik individu terhadap pekerjaan mereka. Ini terdiri dari empat dimensi utama, meaning, competence, self-determination, dan impact, serta dipengaruhi oleh faktor individu, karakteristik pekerjaan, kepemimpinan, dan dukungan organisasi. Psychological empowerment memiliki dampak positif nyata pada motivasi kerja, keterlibatan, kinerja, kepuasan kerja, kreativitas, dan hasil organisasi secara keseluruhan. Organisasi yang mampu menerapkan strategi pemberdayaan psikologis dapat menciptakan lingkungan kerja yang produktif dan inovatif.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Psychological empowerment adalah kondisi psikologis individu yang mencerminkan rasa berdaya dalam bekerja, ditandai oleh perasaan bermakna terhadap pekerjaan, keyakinan atas kemampuan diri, kebebasan dalam mengambil keputusan, serta keyakinan bahwa individu memiliki dampak nyata terhadap lingkungan kerja.

Dimensi psychological empowerment terdiri dari empat aspek utama, yaitu meaning (makna pekerjaan), competence (kompetensi diri), self-determination (otonomi atau kebebasan bertindak), dan impact (pengaruh terhadap hasil dan keputusan organisasi).

Psychological empowerment penting karena dapat meningkatkan motivasi intrinsik, keterlibatan kerja, kinerja karyawan, kepuasan kerja, serta komitmen terhadap organisasi. Karyawan yang merasa berdaya cenderung lebih produktif dan inovatif.

Psychological empowerment memiliki hubungan erat dengan motivasi kerja, khususnya motivasi intrinsik. Ketika individu merasa pekerjaannya bermakna, memiliki kompetensi, dan otonomi, motivasi kerja akan meningkat secara alami.

Psychological empowerment dapat ditingkatkan melalui pemberian otonomi kerja, dukungan kepemimpinan, kejelasan peran, peluang pengembangan kompetensi, serta budaya organisasi yang terbuka dan partisipatif.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Psychological Contract: Konsep, Harapan Kerja, dan Hubungan Kerja Psychological Contract: Konsep, Harapan Kerja, dan Hubungan Kerja Psychological Flexibility: Konsep dan Kesejahteraan Psychological Flexibility: Konsep dan Kesejahteraan Psychological Safety: Konsep dan Lingkungan Sosial Psychological Safety: Konsep dan Lingkungan Sosial Psychological Well-Being: Konsep dan Indikator Psychological Well-Being: Konsep dan Indikator Psychological Capital: Komponen dan Manfaatnya Psychological Capital: Komponen dan Manfaatnya Psychological Readiness: Konsep dan Implikasi Psychological Readiness: Konsep dan Implikasi Konsep Fungsi Psikologis Sehat Konsep Fungsi Psikologis Sehat Kesiapan Pasien Menghadapi Perubahan Kesehatan Kesiapan Pasien Menghadapi Perubahan Kesehatan Pengelolaan Stres Pasien Pengelolaan Stres Pasien Kesiapan Mental Ibu Menghadapi Menyusui Kesiapan Mental Ibu Menghadapi Menyusui Pemberdayaan Masyarakat: Konsep, Tujuan, dan Strategi Pemberdayaan Masyarakat: Konsep, Tujuan, dan Strategi Hubungan Kesiapan Mental Ibu dengan Keberhasilan IMD Hubungan Kesiapan Mental Ibu dengan Keberhasilan IMD Perubahan Psikologis Ibu pada Masa Menyusui Perubahan Psikologis Ibu pada Masa Menyusui Resiliensi: Definisi, Faktor Pembentuk, dan Contoh Resiliensi: Definisi, Faktor Pembentuk, dan Contoh Sense of Meaning: Konsep dan Kesejahteraan Psikologis Sense of Meaning: Konsep dan Kesejahteraan Psikologis Dukungan Psikologis: Konsep dan Kesehatan Mental Dukungan Psikologis: Konsep dan Kesehatan Mental Respon Emosional Terhadap Hospitalisasi Respon Emosional Terhadap Hospitalisasi Perubahan Emosi pada Ibu Hamil Perubahan Emosi pada Ibu Hamil Stres Kerja Mahasiswa: Konsep dan Adaptasi Stres Kerja Mahasiswa: Konsep dan Adaptasi Konsep Kesehatan Mental Mahasiswa Konsep Kesehatan Mental Mahasiswa
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…