Terakhir diperbarui: 07 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 7 December). Rasionalisme dan Empirisme dalam Penelitian Modern. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/rasionalisme-dan-empirisme-dalam-penelitian-modern  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Rasionalisme dan Empirisme dalam Penelitian Modern - SumberAjar.com

Rasionalisme dan Empirisme dalam Penelitian Modern

Pendahuluan

Dalam ranah filsafat ilmu, pertanyaan mengenai “dari mana pengetahuan manusia berasal dan bagaimana kita memperoleh kebenaran” merupakan isu fundamental. Dua aliran epistemologis, Rasionalisme dan Empirisme, telah memainkan peran penting dalam membentuk kerangka berpikir ilmiah sejak masa klasik hingga modern. Meskipun keduanya kadang dianggap berlawanan, dalam praktik penelitian modern sering kali keduanya saling melengkapi: rasionalisme menyediakan landasan logis dan konseptual, sedangkan empirisme memastikan validitas melalui observasi dan pengalaman. Artikel ini mengeksplorasi kedua aliran tersebut, definisi, tokoh utama, persamaan dan perbedaan, hingga bagaimana keduanya mempengaruhi metode ilmiah dan aplikasinya dalam penelitian kuantitatif maupun eksperimental.


Definisi Rasionalisme dan Empirisme

Definisi Rasionalisme dan Empirisme Secara Umum

Rasionalisme adalah pandangan epistemologis yang menempatkan akal (rasio) dan proses logika-deduktif sebagai sumber utama pengetahuan. Pendukung rasionalisme berargumentasi bahwa ada pengetahuan yang bersifat a priori, dapat diketahui tanpa pengalaman inderawi, seperti dalam matematika dan logika. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Sebaliknya, empirisme memandang bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi, observasi, sensasi, dan penginderaan. Menurut empirisme, pengetahuan valid hanya jika dapat diverifikasi melalui pengalaman nyata di dunia eksternal. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Definisi Rasionalisme dan Empirisme dalam KBBI

Menurut definisi harfiah, “rasionalisme” merujuk pada paham yang mengutamakan rasio atau akal sebagai dasar pengambilan kesimpulan, sedangkan “empirisme” berasal dari akar kata “empiris/empiri” yang berkaitan dengan pengalaman atau observasi inderawi. Istilah “empiris/empirisme” dalam literatur filsafat sering dikaitkan dengan sumber pengetahuan melalui pengalaman. [Lihat sumber Disini - repository.iainkediri.ac.id]

Definisi Rasionalisme dan Empirisme Menurut Para Ahli

Beberapa definisi menurut para ahli:

  • Menurut pandangan dalam epistemologi klasik (dan dijelaskan oleh para filsuf), rasionalisme menegaskan bahwa pengetahuan dapat diperoleh melalui akal tanpa pengalaman inderawi. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]

  • Sebaliknya, empirisme menolak klaim bahwa akal semata cukup; semua ide dan pengetahuan sejati berasal dari pengalaman inderawi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  • Dalam kerangka epistemologi modern, terdapat penelitian yang menyoroti bahwa empirisme dan rasionalisme tidak harus dilihat sebagai kutub yang saling eksklusif, melainkan sebagai dua komponen yang dapat saling melengkapi dalam metodologi ilmiah. [Lihat sumber Disini - e-jurnal.jurnalcenter.com]

  • Studi di Indonesia juga menunjukkan bahwa kedua aliran ini telah mempengaruhi cara pandang terhadap ilmu pengetahuan dan metode penelitian, terutama dalam filsafat ilmu. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]


Tokoh-Tokoh Utama dalam Dua Aliran Ini

Tokoh Rasionalisme

Beberapa tokoh utama rasionalisme klasik antara lain:

  • René Descartes, sering dianggap bapak rasionalisme modern; menekankan metode keraguan sistematis dan penggunaan akal untuk menemukan kebenaran dasar. [Lihat sumber Disini - jer.or.id]

  • Baruch Spinoza, mengembangkan rasionalisme dengan pandangan metafisik dan logis yang sistematis terhadap realitas dan pengetahuan. [Lihat sumber Disini - jer.or.id]

  • Gottfried Wilhelm Leibniz, juga tokoh penting, dengan gagasan bahwa ada ide-ide bawaan (innate ideas) dan rasio dapat menjelaskan aspek fundamental dari realitas. [Lihat sumber Disini - jer.or.id]

Tokoh Empirisme

Di sisi empirisme, tokoh-tokoh utama antara lain:


Perbedaan dan Persamaan Rasionalisme, Empirisme

Persamaan

Perbedaan

Aspek Rasionalisme Empirisme
Sumber utama pengetahuan Akal / logika / rasio (a priori) [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu] Pengalaman inderawi / pengamatan / sensasi (a posteriori) [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Sikap terhadap ide bawaan (innate ideas) Mendukung, beberapa pengetahuan dianggap sudah ada sejak lahir [Lihat sumber Disini - jer.or.id] Menolak, pikiran manusia pada awalnya kosong (tabula rasa) [Lihat sumber Disini - e-jurnal.jurnalcenter.com]
Penekanan pada Deduksi, logika, konsep abstrak (misalnya matematika, logika) [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu] Observasi, eksperimen, realitas empiris [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Potensi kelemahan Bisa terlalu abstrak, jauh dari kenyataan empiris; sulit menjamin validasi melalui observasi Bisa terbatas pada data inderawi, kesulitan menjelaskan pengetahuan non-empiris seperti matematika, logika, struktur konseptual

Pengaruh Keduanya terhadap Metode Ilmiah

Dalam kerangka epistemologi modern, rasionalisme dan empirisme secara bersama-sama membentuk fondasi metodologi ilmiah.

  • Artikel terkini menegaskan bahwa epistemologi ilmu pengetahuan (filosofi ilmu) sering memasukkan rasionalisme, empirisme, serta paradigma lain seperti positivisme, konstruktivisme, dan kritisisme sebagai dasar teori dan metode. [Lihat sumber Disini - ejournal.unisai.ac.id]

  • Metode ilmiah, dengan tahapan seperti deduksi hipotesis, observasi/eksperimen, verifikasi data empiris, menunjukkan integrasi antara rasionalisme dan empirisme: hipotesis dapat muncul dari akal/rasio, tetapi validasi harus melalui pengalaman inderawi dan verifikasi empiris. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Pandangan monolitik yang hanya mengedepankan salah satu aliran cenderung bermasalah. Sebagai contoh, dalam konteks medis, ada kritik bahwa gerakan Evidence‑Based Medicine (EBM) cenderung memprivilegi empirisme, artinya penekanan besar pada data observasi dan statistik, kadang mengabaikan nilai rasional-teoretis atau mekanisme konseptual. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  • Namun demikian, banyak peneliti kontemporer menyadari bahwa sintesis antara rasio dan empiris menghasilkan pendekatan ilmiah yang lebih seimbang, baik secara konseptual maupun praktis. [Lihat sumber Disini - e-jurnal.jurnalcenter.com]


Peran Rasionalisme dalam Penelitian Kuantitatif

Dalam penelitian kuantitatif, rasionalisme memainkan peran penting sebagai:

  • Landasan konseptual dan teoritis sebelum pengukuran: misalnya dalam merumuskan variabel, hipotesis, konstruk, dan model konseptual yang akan diuji. Rasionalisme memungkinkan peneliti untuk menggunakan akal dan logika deduktif dalam merumuskan kerangka teoretis.

  • Ide analitis dan logika statistik: banyak konsep dalam analisis data, seperti hubungan antar variabel, probabilitas, inferensi statistik, pada dasarnya memakai logika dan matematika, yang bersifat a priori.

  • Membantu abstraksi dan generalisasi: Melalui rasionalisme, peneliti bisa membangun teori umum berdasarkan logika dan struktur konseptual tanpa harus langsung mereferensi ke data empiris, sebelum akhirnya diuji secara empiris.

Sejumlah literatur filsafat ilmu di Indonesia menegaskan bahwa rasionalisme memberi kontribusi mendasar terhadap struktur pengetahuan dan metodologi ilmiah, meskipun sering mendapat kritik. [Lihat sumber Disini - jer.or.id]


Peran Empirisme dalam Penelitian Eksperimental

Sementara itu, empirisme sangat dominan dalam penelitian eksperimental karena:

  • Observasi dan penginderaan inderawi menjadi pijakan utama, eksperimen memungkinkan peneliti untuk menguji hipotesis melalui data nyata dan pengalaman inderawi.

  • Verifikasi dan validasi teori, setelah kerangka dan hipotesis dibangun (sering melalui rasionalisme), empirisme memungkinkan pengujian secara objektif.

  • Replikasi dan generalisasi hasil, pengalaman empiris memungkinkan penelitian diuji ulang (reproduksi), serta memberi dasar bagi kesimpulan yang dapat digeneralisir.

Dalam literatur filsafat ilmu kontemporer, integrasi empirisme dengan rasionalisme sering dianggap sebagai fondasi yang ideal bagi penelitian ilmiah modern, termasuk penelitian sosial, eksperimental, maupun kuantitatif. [Lihat sumber Disini - e-jurnal.jurnalcenter.com]


Relevansi Kedua Aliran dalam Penelitian Modern

  • Dalam abad ke-21, paradigma ilmiah tidak lagi monolitik: banyak penelitian menggunakan campuran logika deduktif dan verifikasi empiris, yang pada dasarnya adalah sintesis rasionalisme dan empirisme. [Lihat sumber Disini - ejournal.unuja.ac.id]

  • Keberadaan banyak pendekatan epistemologis dalam filsafat ilmu, seperti rasionalisme, empirisme, positivisme, konstruktivisme, dan kritisisme, menunjukkan dinamika dan keragaman metodologis, memungkinkan fleksibilitas dalam memilih metode yang cocok sesuai jenis penelitian. [Lihat sumber Disini - ejournal.unisai.ac.id]

  • Dalam konteks penelitian kontemporer, baik di ilmu alam, sosial, humaniora, maupun interdisipliner, sintesis antara rasio dan pengalaman penting untuk memastikan teori valid dan aplikasi nyata.

  • Memahami akar epistemologis (rasionalisme dan empirisme) membantu peneliti lebih kritis terhadap asumsi metodologis mereka, serta lebih sadar tentang kekuatan dan batasan metode yang digunakan.


Kesimpulan

Rasionalisme dan empirisme adalah dua aliran epistemologis yang telah menjadi tulang punggung perkembangan ilmu pengetahuan modern. Rasionalisme menekankan akal dan logika sebagai sumber pengetahuan, sedangkan empirisme menempatkan pengalaman inderawi sebagai dasar validitas pengetahuan. Meskipun secara historis keduanya sering dipandang sebagai aliran yang berseberangan, dalam praktik penelitian modern, baik kuantitatif maupun eksperimental, kedua pendekatan ini tidak eksklusif melainkan saling melengkapi. Rasionalisme menyediakan landasan konseptual dan teoretis, sedangkan empirisme memastikan bahwa teori diuji dan diverifikasi melalui observasi nyata. Pemahaman yang seimbang dan kritis terhadap kedua aliran ini memberi kekuatan metodologis bagi peneliti dan membantu menjaga integritas ilmiah. Oleh sebab itu, relevansi rasionalisme dan empirisme tetap kuat dalam konteks metodologi ilmiah masa kini, menyediakan pijakan untuk menghasilkan pengetahuan yang valid, andal, dan bermakna.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Rasionalisme adalah aliran epistemologi yang menekankan akal dan logika sebagai sumber utama pengetahuan. Dalam pandangan ini, beberapa pengetahuan dianggap dapat diperoleh tanpa pengalaman inderawi.

Empirisme adalah aliran yang menyatakan bahwa seluruh pengetahuan berasal dari pengalaman inderawi. Validitas pengetahuan harus dibuktikan melalui observasi dan pengamatan nyata.

Rasionalisme mengutamakan akal sebagai sumber pengetahuan, sedangkan empirisme menempatkan pengalaman inderawi sebagai dasar pengetahuan. Rasionalisme bersifat deduktif, sementara empirisme bersifat induktif dan berbasis observasi.

Keduanya berkontribusi dalam metode ilmiah: rasionalisme membantu penyusunan teori dan hipotesis secara logis, sedangkan empirisme memastikan pengujian dan verifikasi melalui eksperimen serta observasi.

Ya, keduanya sangat relevan. Penelitian modern umumnya menggabungkan logika teoretis yang berasal dari rasionalisme dengan proses verifikasi empiris yang berasal dari empirisme, sehingga menghasilkan metodologi yang lebih kuat dan seimbang.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Rasionalisme vs Empirisme: Perbandingan dan Relevansinya Rasionalisme vs Empirisme: Perbandingan dan Relevansinya Rasionalisme Ilmiah: Pengertian, Prinsip, dan Contoh Rasionalisme Ilmiah: Pengertian, Prinsip, dan Contoh Empirisme dalam Penelitian: Definisi dan Contohnya Empirisme dalam Penelitian: Definisi dan Contohnya Epistemologi Empiris dalam Riset Lapangan Epistemologi Empiris dalam Riset Lapangan Prinsip Akal Budi dalam Penalaran Ilmiah Prinsip Akal Budi dalam Penalaran Ilmiah Pengetahuan Empiris: Pengertian dan Ciri-Cirinya Pengetahuan Empiris: Pengertian dan Ciri-Cirinya Epistemologi Positivistik: Ciri dan Contohnya Epistemologi Positivistik: Ciri dan Contohnya Teori Pengetahuan: Perspektif Kritis dan Modern Teori Pengetahuan: Perspektif Kritis dan Modern Positivisme: Pengertian dan Kritiknya dalam Dunia Ilmiah Positivisme: Pengertian dan Kritiknya dalam Dunia Ilmiah Epistemologi Modern: Perkembangan dan Implikasinya Epistemologi Modern: Perkembangan dan Implikasinya Post-Positivisme: Karakteristik dan Contoh dalam Penelitian Modern Post-Positivisme: Karakteristik dan Contoh dalam Penelitian Modern Falsifikasi Karl Popper: Prinsip dan Penerapan Falsifikasi Karl Popper: Prinsip dan Penerapan Logika Empiris: Pengertian, Ciri, dan Contoh dalam Penelitian Logika Empiris: Pengertian, Ciri, dan Contoh dalam Penelitian Kajian Filosofis terhadap Penelitian Modern Kajian Filosofis terhadap Penelitian Modern Rasionalitas Akademik dan Penerapannya dalam Riset Rasionalitas Akademik dan Penerapannya dalam Riset Ontologi Kritis: Definisi dan Contoh dalam Ilmu Sosial Ontologi Kritis: Definisi dan Contoh dalam Ilmu Sosial Budaya Kerja Modern: Konsep dan Perubahan Nilai Budaya Kerja Modern: Konsep dan Perubahan Nilai Penelitian Pendidikan Modern: Ciri dan Contohnya Penelitian Pendidikan Modern: Ciri dan Contohnya Persepsi Konsumen terhadap Obat Herbal Modern Persepsi Konsumen terhadap Obat Herbal Modern Komunikasi Sosial Modern: Konsep dan Pola Interaksi Komunikasi Sosial Modern: Konsep dan Pola Interaksi
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…