
Sikap Ibu terhadap KB Modern
Pendahuluan
Program Keluarga Berencana (KB) modern menjadi salah satu instrumen utama dalam perencanaan reproduksi dan pengendalian angka kelahiran di Indonesia. Pemilihan metode kontrasepsi tidak hanya dipengaruhi oleh ketersediaan alat, tetapi juga oleh pengetahuan, sikap, dan faktor sosial-kultural dari ibu, yang seringkali menjadi akseptor utama. Sikap ibu terhadap KB modern menjadi elemen krusial: sikap positif dapat mendorong pemilihan metode yang tepat dan konsisten, sedangkan sikap negatif atau keraguan dapat menghambat penggunaan kontrasepsi modern atau menyebabkan preferensi terhadap metode kurang optimal. Oleh karena itu penting untuk memahami berbagai aspek yang membentuk sikap tersebut, termasuk pengetahuan, persepsi, dukungan keluarga, akses layanan, serta mitos yang berkembang di masyarakat. Artikel ini mengulas secara mendalam “Sikap Ibu terhadap KB Modern”, meliputi definisi, jenis metode, faktor yang mempengaruhi sikap, serta implikasinya terhadap pemilihan metode kontrasepsi.
Definisi Sikap Ibu terhadap KB Modern
Definisi secara umum
“Sikap” dalam konteks ini merujuk pada disposisi mental atau kecenderungan ibu, baik positif maupun negatif, terhadap penggunaan metode kontrasepsi modern. Sikap meliputi keyakinan, perasaan, dan kecenderungan bertindak ketika mempertimbangkan atau memutuskan menggunakan KB modern.
Definisi dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “sikap” didefinisikan sebagai “cara pandang dan perasaan seseorang terhadap sesuatu yang mendorongnya bertindak dalam rangka tertentu.” Dengan demikian “sikap ibu terhadap KB modern” dapat dipahami sebagai cara pandang dan perasaan ibu terhadap KB modern yang kemudian mempengaruhi keputusan dan perilaku penggunaan kontrasepsi.
Definisi menurut para ahli
-
Menurut teori perilaku dalam kesehatan, pengetahuan tentang kesehatan (termasuk metode kontrasepsi) mempengaruhi attitude, yang kemudian mempengaruhi perilaku kesehatan. Sebagai contoh, penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan lebih baik cenderung memiliki sikap lebih terbuka terhadap KB. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
-
Dalam konteks kontrasepsi, Perbedaan Pengetahuan dan Sikap tentang Kontrasepsi Modern pada Wanita Usia Subur setelah Dilakukan Konseling Terstruktur menunjukkan bahwa intervensi edukasi (konseling terstruktur) dapat meningkatkan pengetahuan sekaligus memperbaiki sikap terhadap kontrasepsi modern. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Penelitian Hubungan Pengetahuan Dengan Sikap Dalam Pemilihan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang Pada Wanita Usia Subur di Kediri (2025) menemukan bahwa pengetahuan yang tidak menyeluruh, rasa takut atau tidak nyaman, serta pengaruh lingkungan (cerita dari orang lain) menjadi sumber sikap negatif terhadap kontrasepsi jangka panjang. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
-
Data empiris dari Hubungan Antara Sikap Ibu, Dukungan Suami dan Peran Nakes dengan Keberhasilan Program KB (2024) menunjukkan bahwa sikap ibu berperan signifikan dalam keberhasilan program KB, di mana sikap positif terkait dengan penggunaan dan keberlanjutan alat kontrasepsi. [Lihat sumber Disini - journal.myrepublikcorp.com]
Jenis-Jenis Metode KB Modern
Metode KB modern mencakup berbagai bentuk kontrasepsi yang dikendalikan secara medis atau farmakologis dan terbukti efektif mencegah kehamilan. Beberapa kategori utama:
-
Metode kontrasepsi jangka pendek, misalnya pil KB oral, suntik KB (3 bulan), kondom. [Lihat sumber Disini - e-jurnal.stikesmitraadiguna.ac.id]
-
Metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP), seperti alat dalam rahim (IUD), implan, sterilisasi (MOW/MOP). MKJP dianggap lebih efektif, durasinya lama (tahun), dan tidak memerlukan tindakan rutin seperti pil atau suntik. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
Pilihan metode sering dipengaruhi oleh preferensi pribadi, pengetahuan, akses layanan, serta persepsi terhadap keamanan, efek samping, dan kemudahan pemakaian. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.ac.id]
Faktor yang Mempengaruhi Sikap Ibu
Beberapa faktor yang secara empiris ditemukan mempengaruhi sikap ibu terhadap KB modern antara lain:
-
Pengetahuan dan Informasi, Ibu dengan pengetahuan baik tentang metode kontrasepsi cenderung memiliki sikap positif dan memilih metode modern atau lebih efektif. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
-
Dukungan Suami dan Keluarga, Suami dan anggota keluarga lain memegang peran penting dalam keputusan KB. Ketidaksepakatan atau larangan dari suami dapat menjadi penghambat besar. [Lihat sumber Disini - journal.myrepublikcorp.com]
-
Akses dan Ketersediaan Layanan Kesehatan, Akses terhadap fasilitas kesehatan, ketersediaan petugas, dan kemudahan mendapatkan kontrasepsi mempengaruhi sikap dan keputusan. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Pengaruh Sosial dan Budaya / Norma Komunitas, Keyakinan tradisional, mitos, dan persepsi negatif di lingkungan sekitar dapat membentuk sikap negatif. [Lihat sumber Disini - repository.unsri.ac.id]
-
Pengalaman Pribadi atau Cerita Orang Lain, Fear, ketidaknyamanan, cerita efek samping dari pengguna lain dapat mempengaruhi rasa takut atau enggan menggunakan metode tertentu. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
Pengaruh Pengetahuan terhadap Sikap KB
Pengetahuan merupakan fondasi utama dalam membentuk sikap:
-
Penelitian di daerah kerja Puskesmas Wawonasa (2025) menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan kurang baik lebih sering memilih metode non-hormonal atau metode yang dianggap “aman/convensional”, dibanding ibu dengan pengetahuan baik. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
-
Studi di Kediri (2025) menemukan hubungan signifikan antara pengetahuan dan sikap terhadap metode kontrasepsi jangka panjang, semakin baik pengetahuan, semakin besar kemungkinan sikap positif terhadap MKJP. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
-
Intervensi konseling terstruktur yang meningkatkan pengetahuan ternyata juga mampu memperbaiki sikap terhadap kontrasepsi modern. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dengan demikian, peningkatan literasi dan edukasi kontrasepsi menjadi strategi kunci untuk membentuk sikap positif dan mendukung pemilihan metode kontrasepsi yang efektif dan sesuai kebutuhan.
Dukungan Suami dalam Pengambilan Keputusan KB
Dalam konteks keluarga, keputusan KB sering melibatkan pasangan. Dukungan suami memainkan peran penting:
-
Menurut penelitian di Jakarta Barat (2024), sikap ibu, dukungan suami, dan peran petugas kesehatan bersama-sama memengaruhi keberhasilan program KB. [Lihat sumber Disini - journal.myrepublikcorp.com]
-
Dalam budaya patrilineal atau masyarakat di mana suami dianggap kepala keluarga, persetujuan suami dapat menjadi determinan utama apakah seorang ibu berani memakai kontrasepsi atau tidak. Ketidaksepakatan suami bisa menyebabkan “unmet need” meskipun ibu mungkin menginginkan KB. [Lihat sumber Disini - journal.myrepublikcorp.com]
-
Oleh karena itu, edukasi serta kampanye KB sebaiknya melibatkan suami agar keputusan menjadi kerjasama pasangan, bukan hanya keputusan ibu sendiri.
Mitos dan Persepsi Negatif tentang KB Modern
Mitos, kekhawatiran, dan persepsi keliru sering menjadi penghambat pemakaian KB modern. Beberapa masalah umum:
-
Kekhawatiran terhadap efek samping, rasa tidak nyaman, atau dampak kesehatan jangka panjang, seperti yang dilaporkan dalam penelitian MKJP di Kediri. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
-
Informasi sesat atau cerita dari lingkungan/teman yang menakut-nakuti, misalnya soal komplikasi IUD, implan, atau dampak hormonal, dapat menciptakan sikap negatif. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
-
Kurangnya edukasi yang benar dan konsisten; ketika ibu hanya mendengar mitos, bukan informasi berbasis bukti, maka persepsi negatif cenderung dominan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
Mitos dan persepsi negatif ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk edukasi kesehatan reproduksi yang akurat dan menjangkau luas, baik lewat tenaga kesehatan maupun media penyuluhan.
Keterjangkauan dan Akses Pelayanan KB
Akses terhadap layanan KB sangat menentukan realisasi sikap positif menjadi tindakan nyata. Faktor terkait:
-
Jarak ke fasilitas kesehatan, kehadiran petugas KB, dan ketersediaan metode, jika layanan sulit dijangkau, ibu cenderung menunda atau memilih metode sederhana saja. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Kemudahan mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan atau sosialisasi rutin melalui fasilitas kesehatan mempengaruhi sikap dan keputusan. [Lihat sumber Disini - journal.myrepublikcorp.com]
-
Di lokasi dengan akses terbatas atau kurangnya penyuluhan, tingkat penggunaan metode jangka panjang (seperti IUD) sering rendah meskipun efektivitasnya tinggi. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Oleh karena itu, perlu upaya memperluas layanan KB, terutama di daerah terpencil atau dengan masyarakat yang belum terjangkau informasi.
Dampak Sikap terhadap Pemilihan Metode Kontrasepsi
Sikap ibu, positif atau negatif, secara langsung mempengaruhi pilihan metode kontrasepsi:
-
Ibu dengan sikap positif dan pengetahuan baik cenderung memilih metode modern dan jangka panjang (MKJP) ketika sesuai kondisi. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]
-
Sebaliknya, sikap negatif (karena mitos, ketakutan, persepsi risiko) sering membuat ibu memilih metode jangka pendek atau metode tradisional, atau bahkan menolak menggunakan kontrasepsi sama sekali. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Dalam jangka panjang, sikap dan pilihan metode kontrasepsi berdampak pada keberhasilan program KB, sehingga sikap ibu menjadi indikator penting dalam evaluasi program KB di komunitas. [Lihat sumber Disini - journal.myrepublikcorp.com]
Kesimpulan
Sikap ibu terhadap KB modern adalah determinan krusial dalam keberhasilan program KB. Sikap ini dibentuk oleh pengetahuan, pendidikan, dukungan suami/family, akses layanan, serta persepsi dan mitos dalam masyarakat. Pengetahuan yang baik dan akses informasi memupuk sikap positif, yang kemudian mendorong penggunaan metode kontrasepsi modern (termasuk MKJP), sedangkan sikap negatif, persepsi keliru, dan keterbatasan akses cenderung menghambat pemanfaatan KB secara optimal. Untuk itu, perlu intervensi edukasi yang intens, inklusif (melibatkan suami), serta peningkatan ketersediaan layanan KB agar ibu dapat membuat keputusan berdasarkan informasi dan kenyamanan.