Terakhir diperbarui: 03 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 3 December). SPK Penentuan Pola Belajar Siswa. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/spk-penentuan-pola-belajar-siswa  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

SPK Penentuan Pola Belajar Siswa - SumberAjar.com

SPK Penentuan Pola Belajar Siswa

Pendahuluan

Pendidikan modern menghadapi tantangan untuk mengakomodasi perbedaan individual antar siswa, termasuk cara atau pola mereka dalam belajar. Setiap siswa memiliki preferensi belajar yang berbeda,ada yang lebih efektif dengan media visual, ada yang melalui mendengarkan, membaca, atau praktik langsung. Pemahaman terhadap pola belajar tersebut penting agar proses pembelajaran lebih efisien dan hasilnya optimal.

Sistem Pendukung Keputusan (SPK) untuk menentukan pola belajar siswa muncul sebagai solusi untuk membantu guru atau lembaga pendidikan dalam mengidentifikasi gaya belajar siswa secara sistematis dan objektif. Dengan demikian, materi dan metode pembelajaran dapat disesuaikan dengan karakteristik siswa, meningkatkan efektivitas belajar dan keterlibatan siswa. Artikel ini membahas konsep pola belajar siswa, definisi menurut berbagai perspektif, serta implementasi SPK dalam menentukan pola belajar siswa berdasarkan penelitian terbaru.


Definisi SPK Penentuan Pola Belajar Siswa

Definisi secara umum

“Pola belajar” atau “gaya belajar” merujuk pada cara individu menerima, memproses, dan menginternalisasi informasi dalam proses belajar. Pola ini mencerminkan preferensi pribadi: misalnya seseorang lebih mudah memahami jika materi disajikan secara visual, auditori, kinestetik, atau melalui membaca/tulisan. SPK untuk penentuan pola belajar siswa adalah sistem informasi yang dirancang untuk membantu menilai dan mengklasifikasikan gaya belajar siswa berdasarkan data (misalnya jawaban kuesioner, perilaku dalam LMS, atau observasi), sehingga menghasilkan rekomendasi metode atau media pembelajaran yang sesuai dengan gaya belajar masing-masing siswa. SPK ini mengotomatisasi proses evaluasi dan pengambilan keputusan, tidak bergantung hanya pada intuisi guru saja, sehingga lebih konsisten dan dapat diterapkan dalam skala besar.

Definisi dalam KBBI

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “gaya belajar” dapat diartikan sebagai cara atau metode individu dalam belajar atau menghayati pembelajaran. Sementara “sistem pendukung keputusan” dapat didefinisikan sebagai sistem informasi yang membantu pengambil keputusan (decision maker) dalam menyelesaikan permasalahan kompleks dengan menyediakan rekomendasi berdasarkan data dan kriteria tertentu. Maka, SPK penentuan gaya belajar siswa adalah sistem yang membantu menentukan cara belajar yang paling sesuai bagi siswa berdasarkan evaluasi karakteristik belajar mereka.

Definisi menurut para ahli

Beberapa definisi dan pengertian dari literatur akademik:

  • Menurut Muhammad Anwar dkk. (2021), SPK gaya belajar adalah sistem pakar yang menggunakan metode inferensi (misalnya forward chaining) untuk mendiagnosis gaya belajar siswa secara otomatis melalui serangkaian aturan (if–then). Sistem ini memungkinkan siswa, guru, atau wali untuk memperoleh hasil diagnosis gaya belajar, serta rekomendasi metode belajar yang sesuai. [Lihat sumber Disini - jurnal.konselingindonesia.com]
  • Menurut Nur Widianningsih & kolega (penelitian SPK gaya belajar anak usia 12–18 tahun), pola belajar adalah preferensi individu dalam menerima informasi, bisa visual, aural, read/write, atau kinestetik, dan SPK digunakan untuk memetakan preferensi tersebut dengan media pembelajaran yang sesuai. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
  • Menurut Santi Tiodora Sianturi & Umi Laili Yuhana (2022), gaya belajar didefinisikan sebagai karakteristik habit siswa dalam memahami materi, baik melalui visual, verbal, sensori, intuitif, reflektif, atau sekuensial/global, dan sistem SPK dapat dibangun dengan metode machine learning (misalnya Decision Tree, Naïve Bayes, K-Nearest Neighbor) berdasarkan data perilaku belajar siswa pada LMS, bukan hanya data kuesioner statis. [Lihat sumber Disini - iptek.its.ac.id]
  • Dalam studi oleh BD Pranata dkk. (2023), gaya belajar adalah cara individu memperoleh, mengatur, dan memproses informasi dalam pembelajaran; SPK membantu mengklasifikasikan siswa sesuai gaya belajarnya agar guru dapat menyusun strategi pembelajaran sesuai karakteristik siswa. [Lihat sumber Disini - repository.unpkediri.ac.id]

Dengan demikian, definisi pola belajar siswa dan SPK untuk menentukannya mencakup aspek preferensi kognitif dan metode untuk mendeteksi preferensi tersebut secara sistematis melalui bantuan sistem.


Metode dan Model Gaya Belajar yang Sering Dipakai

Dalam banyak penelitian terkait SPK penentuan pola belajar, model gaya belajar yang digunakan adalah model berbasis preferensi sensorik atau kognitif, misalnya model VARK (Visual, Aural, Read/Write, Kinesthetic), serta model yang lebih kompleks seperti model dari Felder‑Silverman Learning Style Model (FSLSM) yang mempertimbangkan dimensi seperti cara menerima informasi (visual/verbal), cara memproses (aktif/reflektif), persepsi (sensori/intuisi), serta kecepatan dan cara memahami (sekuensial/global). Banyak SPK dan sistem pakar maupun sistem berbasis machine learning mengandalkan model-model ini untuk mengklasifikasikan gaya belajar siswa.

Misalnya, penelitian oleh Sianturi & Yuhana (2022) menggunakan data perilaku siswa pada LMS untuk mendeteksi gaya belajar secara otomatis berdasarkan dimensi FSLSM, dan menemukan bahwa algoritma Decision Tree memberikan tingkat akurasi tinggi dalam klasifikasi gaya belajar. [Lihat sumber Disini - iptek.its.ac.id]

Begitu juga penelitian oleh Riani dkk. (2023) mengombinasikan metode Simple Additive Weighting (SAW) dan Weighted Product (WP) dalam SPK berbasis web untuk menentukan gaya belajar dominan siswa menurut model VARK. [Lihat sumber Disini - ejournal.uigm.ac.id]

Ini menunjukkan bahwa SPK dapat memanfaatkan berbagai metode, dari logika berbasis aturan (expert system) hingga metode komputasi/kecerdasan buatan, tergantung kebutuhan dan konteks penggunaan.


Implementasi SPK Penentuan Pola Belajar Siswa: Studi dan Hasil Penelitian

Beberapa penelitian dan implementasi nyata SPK dalam konteks pendidikan di Indonesia maupun penelitian internasional menunjukkan efektivitas pendekatan ini:

  • Dalam penelitian oleh Anwar dkk. (2021), sistem pakar berbasis web dengan metode forward chaining berhasil mendeteksi gaya belajar siswa dan memberikan rekomendasi metode belajar sesuai gaya mereka. Sistem ini dirancang untuk pendidikan teknik/engineering dan dapat membantu guru maupun siswa. [Lihat sumber Disini - jurnal.konselingindonesia.com]
  • Penelitian oleh Sianturi & Yuhana (2022) menggunakan data perilaku siswa di LMS selama pembelajaran daring, dan mengolahnya dengan algoritma Decision Tree, Naïve Bayes, dan K-Nearest Neighbor. Hasil menunjukkan bahwa Decision Tree menghasilkan akurasi tinggi (hingga 98% pada cross-validation) dalam mengklasifikasikan gaya belajar siswa berdasarkan data perilaku. [Lihat sumber Disini - iptek.its.ac.id]
  • Dalam penelitian terbaru 2023 oleh Riani dkk., SPK berbasis web dengan kombinasi metode SAW dan WP diterapkan pada siswa SMP/SMA/SMK untuk menentukan gaya belajar dominan (visual, aural, read/write, kinestetik) berdasarkan model VARK. Hasil menunjukkan mayoritas responden memiliki gaya belajar visual, dan sistem dianggap valid dalam membantu menentukan gaya belajar dominan. [Lihat sumber Disini - ejournal.uigm.ac.id]
  • Studi oleh E Sari (2024) mengembangkan instrumen diagnostik untuk mengidentifikasi gaya belajar dan keterampilan berpikir kritis dalam materi tertentu. Hasil menunjukkan bahwa instrumen tersebut memiliki validitas tinggi untuk aspek berpikir kritis, namun reliability untuk gaya belajar perlu diperbaiki, menunjukkan bahwa pengukuran gaya belajar masih memiliki keterbatasan dan perlu terus dikembangkan dengan metode yang tepat. [Lihat sumber Disini - ejournal.umm.ac.id]
  • Penelitian oleh Raditya Bayu Rahadian & C. Asri Budiningsih (2023) menunjukkan bahwa aplikasi manajemen kelas berbasis database gaya belajar siswa dapat membantu guru dalam memilih metode dan media pembelajaran yang sesuai, meningkatkan daya tarik belajar dan manajemen kelas sesuai preferensi siswa. [Lihat sumber Disini - arxiv.org]

Temuan-temuan ini mendukung ide bahwa SPK penentuan pola belajar siswa memiliki potensi nyata untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas pembelajaran, terutama dalam konteks pendidikan yang beragam.


Manfaat dan Dampak SPK Penentuan Pola Belajar Siswa

Penggunaan SPK untuk menentukan pola belajar siswa membawa sejumlah manfaat:

  • Membantu guru/instruktur memilih metode dan media pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik siswa, sehingga meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran.
  • Membantu institusi pendidikan dalam personalisasi pembelajaran, tidak semua siswa menerima materi dengan cara yang sama; melalui SPK, metode bisa disesuaikan, mendukung keberagaman gaya belajar.
  • Memberi dasar data objektif, keputusan tentang metode pembelajaran tidak hanya berdasarkan persepsi subjektif, tetapi berdasarkan data (kuesioner, aktivitas LMS, observasi, dll).
  • Mempermudah skala besar, untuk sekolah dengan banyak siswa, SPK memudahkan identifikasi gaya belajar siswa tanpa perlu evaluasi manual satu per satu.
  • Mendukung adaptasi pembelajaran online/blended learning, terutama penting di era digital, di mana interaksi daring dan LMS umum digunakan; SPK berbasis data perilaku daring memungkinkan identifikasi gaya belajar secara otomatis.

Tantangan dan Batasan dalam SPK Penentuan Pola Belajar

Meskipun banyak manfaat, ada sejumlah tantangan dan keterbatasan:

  • Validitas dan reliabilitas instrumen, misalnya dalam penelitian oleh E Sari (2024) ditemukan bahwa instrumen gaya belajar memiliki reliabilitas rendah sehingga perlu revisi. [Lihat sumber Disini - ejournal.umm.ac.id]
  • Representasi data, jika data hanya berbasis kuesioner statis, hasil bisa subjektif; jika berbasis perilaku di LMS, dibutuhkan data yang cukup dan representatif agar klasifikasi akurat.
  • Perubahan gaya belajar, siswa bisa berubah pola belajar tergantung materi, konteks, atau usia, SPK perlu adaptif, bukan hanya sekali diagnosa.
  • Kompleksitas implementasi, SPK berbasis algoritma/machine learning memerlukan pemrograman, manajemen data, dan akses infrastruktur (misalnya LMS), yang mungkin tidak tersedia di semua sekolah.
  • Kebijakan dan privasi data, pengumpulan data siswa (jawaban kuesioner, aktivitas LMS) harus memperhatikan privasi dan etika.

Rekomendasi untuk Pengembangan SPK Pola Belajar di Konteks Indonesia

Berdasarkan literatur dan tantangan di atas, berikut beberapa rekomendasi jika institusi/in developer mau membuat sistem SPK gaya belajar:

  • Gunakan kombinasi metode, misalnya kuesioner + analisis perilaku LMS + observasi guru agar hasil lebih komprehensif.
  • Pilih model gaya belajar yang sesuai, misalnya model VARK untuk preferensi sensorik, atau model FSLSM untuk dimensi kognitif dan gaya berpikir; bisa dipertimbangkan untuk adaptasi dengan konteks lokal siswa.
  • Pastikan instrumen diuji validitas & reliabilitas jika berbasis kuesioner, kalau perlu lakukan studi pendahuluan seperti uji coba dan analisis statistik untuk memastikan konsistensi.
  • Terapkan evaluasi berkala, karena gaya belajar bisa berubah, buat fitur untuk mendeteksi ulang secara periodik agar rekomendasi tetap relevan.
  • Perhatikan aspek privasi & transparansi, informasikan kepada siswa/ortu bahwa data dikumpulkan, tujuan penggunaan, dan jaminan kerahasiaan.
  • Libatkan guru sebagai “expert user”, hasil SPK sebaiknya dikombinasi dengan pemahaman guru, karena kontekstual dan karakter siswa bisa lebih kompleks daripada sekadar data.

Kesimpulan

SPK penentuan pola belajar siswa merupakan pendekatan sistematis dan objektif untuk mengidentifikasi gaya belajar individu. Dengan memanfaatkan metode seperti expert system (forward chaining), teknik multi-kriteria (SAW/WP), atau algoritma pembelajaran mesin (Decision Tree, Naïve Bayes, KNN), SPK mampu menghasilkan diagnosa gaya belajar dan rekomendasi metode pembelajaran yang sesuai. Studi empiris di Indonesia menunjukkan bahwa pendekatan ini efektif, dapat membantu guru dan institusi untuk menyesuaikan metode pembelajaran dengan karakteristik siswa, meningkatkan efektivitas dan efisiensi pembelajaran.

Namun demikian, tantangan seperti validitas instrumen, representasi data, dan dinamika gaya belajar perlu diperhatikan. Oleh karena itu, pengembangan SPK sebaiknya dilakukan secara holistik: menggabungkan data kuesioner, observasi, perilaku LMS, serta melibatkan guru sebagai bagian dari proses. Dengan penerapan yang tepat, SPK pola belajar dapat menjadi alat penting untuk mencapai pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berkualitas.

 

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

SPK Penentuan Pola Belajar Siswa adalah sistem yang membantu mengidentifikasi gaya belajar siswa, seperti visual, auditori, membaca/menulis, atau kinestetik, menggunakan data dan metode tertentu sehingga guru dapat menyesuaikan strategi pembelajaran.

SPK membantu guru memahami preferensi belajar siswa secara lebih akurat, mempermudah personalisasi pembelajaran, meningkatkan efektivitas belajar, dan memberikan rekomendasi berbasis data yang lebih objektif.

Beberapa metode yang sering digunakan antara lain model VARK, model Felder-Silverman, algoritma Decision Tree, K-Nearest Neighbor, Naive Bayes, serta metode multi-kriteria seperti SAW dan Weighted Product.

Guru, sekolah, konselor, orang tua, dan pengembang sistem e-learning dapat memanfaatkan SPK ini untuk memahami karakteristik belajar siswa dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran.

Ya, pola belajar siswa dapat berubah seiring bertambahnya usia, pengalaman, atau perubahan konteks pembelajaran. Oleh karena itu, evaluasi berkala diperlukan agar rekomendasi tetap relevan.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Gaya Belajar: Jenis-jenis, Ciri, dan Implikasinya dalam Pembelajaran Gaya Belajar: Jenis-jenis, Ciri, dan Implikasinya dalam Pembelajaran Hubungan Motivasi dengan Hasil Belajar Hubungan Motivasi dengan Hasil Belajar Hubungan Gaya Belajar dengan Prestasi Siswa Hubungan Gaya Belajar dengan Prestasi Siswa Pengaruh Teknologi terhadap Motivasi Belajar Pengaruh Teknologi terhadap Motivasi Belajar Strategi Peningkatan Minat Belajar Siswa Strategi Peningkatan Minat Belajar Siswa Sistem Mobile Monitoring Kebiasaan Belajar Sistem Mobile Monitoring Kebiasaan Belajar Minat Belajar: Faktor dan Pengaruhnya terhadap Prestasi Minat Belajar: Faktor dan Pengaruhnya terhadap Prestasi Motivasi Belajar: Pengertian, Faktor, dan Teori-Teorinya Motivasi Belajar: Pengertian, Faktor, dan Teori-Teorinya Persepsi Siswa terhadap Proses Pembelajaran Persepsi Siswa terhadap Proses Pembelajaran Kemandirian Belajar: Definisi, Indikator, dan Contoh Kemandirian Belajar: Definisi, Indikator, dan Contoh Faktor Lingkungan terhadap Hasil Belajar Faktor Lingkungan terhadap Hasil Belajar SPK Penentuan Metode Pembelajaran Efektif SPK Penentuan Metode Pembelajaran Efektif Efikasi Diri Belajar: Konsep dan Performa Akademik Efikasi Diri Belajar: Konsep dan Performa Akademik Sistem Informasi Portfolio Siswa Sistem Informasi Portfolio Siswa Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Jurusan Siswa Sistem Pendukung Keputusan Penentuan Jurusan Siswa Gaya Belajar: Jenis dan Strategi Penyesuaiannya Gaya Belajar: Jenis dan Strategi Penyesuaiannya Hubungan Media Digital dengan Motivasi Belajar Hubungan Media Digital dengan Motivasi Belajar Minat Belajar: Konsep dan Pembentukannya Minat Belajar: Konsep dan Pembentukannya Sistem Web Pembelajaran Interaktif Sistem Web Pembelajaran Interaktif Orientasi Tujuan Belajar: Konsep dan Implikasi Orientasi Tujuan Belajar: Konsep dan Implikasi
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…