
Nutritional Literacy
Pendahuluan
Pola makan sehat menjadi semakin penting di era modern ini, ketika masalah gizi tidak seimbang seperti obesitas, anemia, dan penyakit tidak menular lainnya meningkat di banyak negara termasuk Indonesia. Pengenalan dan pemahaman yang kuat mengenai informasi gizi bukan hanya sekadar tahu apa itu makanan sehat, tetapi juga kemampuan untuk memilah, memahami, serta menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari adalah inti dari nutritional literacy atau literasi gizi. Kondisi ini mempengaruhi pilihan makanan yang kita buat setiap hari dan berkaitan langsung dengan kualitas kesehatan masyarakat secara luas di berbagai kelompok usia dan latar sosial ekonomi. Literasi gizi yang tinggi memampukan individu untuk membuat keputusan nutrisi yang tepat demi kesejahteraan jangka panjang mereka, sementara literasi gizi yang rendah justru dapat memperburuk masalah kesehatan yang terkait dengan pola makan tidak sehat. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Definisi Nutritional Literacy
Definisi Nutritional Literacy Secara Umum
Nutritional literacy atau literasi gizi secara umum merujuk pada kemampuan seseorang untuk memperoleh, memahami, mengevaluasi, serta menggunakan informasi terkait gizi sehingga ia mampu membuat keputusan yang tepat mengenai makanan dan pola makan yang sehat. Konsep ini mencakup rangkaian kemampuan yang relevan mulai dari membaca label gizi, memahami komposisi makanan, sampai menerapkan prinsip gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Literatur kesehatan umumnya memandang literasi gizi sebagai bagian dari health literacy yang memiliki fokus khusus pada konteks makanan dan gizi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Nutritional Literacy dalam KBBI
Istilah “literasi gizi” sendiri belum memiliki entri khusus di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun, jika kita memadankan istilah literasi sebagai kemampuan dalam mengolah dan memahami informasi (literasi) dan gizi sebagai zat makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan badan menurut KBBI, maka literasi gizi dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam memahami dan menggunakan informasi mengenai gizi secara tepat untuk pengambilan keputusan terkait makanan dan kesehatan. [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]
Definisi Nutritional Literacy Menurut Para Ahli
-
Nutbeam, ahli literasi kesehatan, menyatakan bahwa literasi gizi merupakan bagian dari literasi kesehatan yang mencakup kemampuan fungsional, interaktif, dan kritis dalam mengakses serta menggunakan informasi kesehatan dan gizi dalam konteks kehidupan sehari-hari. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Syafei & Badriyah (2019) menjelaskan bahwa literasi gizi adalah tingkatan kemampuan individu dalam memperoleh, memproses, serta memahami informasi gizi untuk kemudian digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan gizi yang tepat guna mencukupi kebutuhan zat gizi sehari-hari. [Lihat sumber Disini - journals.stikim.ac.id]
-
Dewi et al. (2023) dalam kajiannya tentang instrumen literasi gizi menyatakan bahwa literasi gizi mencakup kemampuan memahami informasi gizi serta menerapkannya dalam situasi nyata seperti mengelola pola makan agar sehat. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
-
Hirda (2023) menekankan bahwa level literasi gizi seorang individu diukur berdasarkan kemampuan mereka untuk mendapatkan, menganalisis, dan menerapkan data terkait gizi dalam kehidupan mereka demi meningkatkan kualitas makan dan kesehatannya. [Lihat sumber Disini - myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id]
Faktor yang Mempengaruhi Literasi Gizi
Literasi gizi tidak muncul begitu saja pada setiap individu; terdapat banyak faktor yang mempengaruhi sejauh mana seseorang mampu memahami dan menggunakan informasi gizi secara efektif. Beberapa faktor utama yang diidentifikasi oleh penelitian meliputi:
1. Pendidikan Formal dan Informal
Tingkat pendidikan seseorang secara umum berpengaruh besar terhadap kemampuan literasi gizi mereka. Individu dengan pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki akses dan pemahaman yang lebih baik terhadap informasi kompleks termasuk terkait gizi, label makanan, dan kebutuhan nutrisi. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat pendidikan menjadi salah satu faktor signifikan yang memengaruhi literasi faktual gizi dalam masyarakat. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
2. Akses Informasi Kesehatan dan Gizi
Kemampuan untuk mengakses sumber informasi yang valid, termasuk pendidikan gizi formal, media kesehatan, dan teknologi informasi digital, merupakan faktor penting. Mereka yang memiliki keterbatasan akses terhadap informasi yang akurat sering kali memiliki literasi gizi yang rendah. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
3. Sikap dan Motivasi terhadap Gizi Sehat
Penelitian menunjukkan bahwa sikap individu terhadap pentingnya gizi berhubungan positif dengan kemampuan mereka dalam memahami informasi gizi, sehingga sikap ini menjadi faktor yang signifikan dalam membangun literasi gizi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
4. Faktor Sosial dan Ekonomi
Status sosial ekonomi seperti pendapatan keluarga dan pekerjaan dapat berpengaruh terhadap literasi gizi karena memengaruhi kemampuan membeli makanan sehat, akses ke pendidikan kualitas, serta lingkungan sosial yang mendukung atau tidak mendukung pembelajaran nutrisi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Lebih jauh lagi, faktor budaya, kebiasaan makan masyarakat lokal, serta paparan pada strategi pemasaran makanan olahan juga turut memengaruhi pilihan makanan dan sekaligus tingkat literasi gizi dalam sebuah komunitas. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Dampak Literasi Gizi terhadap Pilihan Makanan
Literasi gizi memiliki dampak yang signifikan terhadap bagaimana individu memilih makanan dan pola makan mereka sehari-hari. Dampak ini tidak hanya bersifat individual, tetapi juga berkontribusi pada status gizi dan kesehatan masyarakat secara umum.
1. Perilaku Konsumsi Makanan Sehat
Individu dengan literasi gizi yang baik umumnya lebih mampu membedakan antara makanan sehat dan tidak sehat, memahami label nutrisi, serta menerapkan informasi tersebut dalam pola makan harian mereka. Mereka lebih cenderung memilih makanan yang seimbang dan bergizi, mengurangi konsumsi makanan tinggi gula, lemak jenuh, atau garam, serta mempertimbangkan nilai gizi dari setiap pilihan makanan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
2. Pencegahan Penyakit Tidak Menular
Literasi gizi yang memadai berkaitan dengan kemampuan untuk mengadopsi pola makan yang dapat membantu mencegah penyakit tidak menular seperti obesitas, diabetes tipe 2, dan penyakit kardiovaskular. Pengetahuan tentang nutrisi memungkinkan individu untuk membuat keputusan yang lebih tepat dalam konteks kesehatan jangka panjang. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
3. Pengambilan Keputusan Terkait Label Makanan
Kemampuan memahami label makanan merupakan bagian penting dari literasi gizi. Individu dengan kompetensi ini mampu mengevaluasi informasi pada label dan memilih produk yang lebih sehat, sehingga terhindar dari konsumsi makanan dengan nilai gizi rendah atau bahan berbahaya. [Lihat sumber Disini - journal.aspirasi.or.id]
4. Pola Makan dan Status Gizi
Beberapa studi menunjukkan bahwa individu dengan literasi gizi rendah cenderung mengalami pola makan yang tidak sehat dan berisiko terhadap masalah gizi seperti defisiensi gizi tertentu maupun kelebihan kalori yang meningkatkan risiko obesitas dan penyakit terkait. [Lihat sumber Disini - myjurnal.poltekkes-kdi.ac.id]
Peran Pendidikan Gizi dalam Meningkatkan Literasi
Pendidikan gizi memainkan peran yang sangat penting dalam membangun dan meningkatkan literasi gizi di berbagai lapisan masyarakat. Upaya pendidikan ini dapat dilakukan melalui berbagai jalur mulai dari sekolah, komunitas, layanan kesehatan hingga media digital.
1. Pendidikan Gizi di Sekolah
Integrasi pendidikan gizi dalam kurikulum sekolah membantu anak-anak dan remaja memahami dasar-dasar gizi seimbang sejak dini. Program ini meliputi pembelajaran tentang kelompok makanan, kebutuhan nutrisi, serta praktek langsung seperti membaca label gizi dan memilih makanan sehat. Strategi ini mempersiapkan generasi muda untuk membuat pilihan makanan yang lebih baik seumur hidup. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
2. Penyuluhan dan Pelatihan Komunitas
Pendidikan tidak hanya terbatas di sekolah tetapi juga dapat dilakukan melalui penyuluhan kesehatan di komunitas. Lembaga kesehatan masyarakat dan organisasi non-profit dapat menyelenggarakan pelatihan untuk orang tua, lansia, dan kelompok masyarakat lain sehingga informasi gizi menjadi lebih mudah dipahami dan diterapkan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
3. Peran Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan seperti dokter, ahli gizi, dan perawat memiliki peran penting dalam menyediakan edukasi personal tentang gizi kepada pasien. Penyuluhan individual ini memperkuat pemahaman dan membantu menerjemahkan informasi gizi ke dalam pola makan yang realistis dan bisa diikuti. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
4. Media dan Teknologi Digital
Dalam era digital, media sosial dan aplikasi kesehatan menjadi medium efektif untuk menyampaikan edukasi gizi. Sumber-sumber ini dapat membantu masyarakat mengakses informasi gizi berbasis bukti dengan cara yang interaktif dan mudah dipahami. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Hubungan Nutritional Literacy dengan Kesehatan Masyarakat
Bukan hanya individu yang dipengaruhi oleh literasi gizi; dampaknya dirasakan pada skala populasi dan kesehatan masyarakat secara keseluruhan.
1. Pengurangan Beban Penyakit
Peningkatan literasi gizi di masyarakat berkontribusi pada pengurangan prevalensi penyakit terkait pola makan tidak sehat seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Dengan pemahaman yang baik tentang nutrisi, masyarakat dapat menerapkan pola makan sehat yang mendukung kesehatan jangka panjang serta menurunkan biaya perawatan kesehatan komunitas. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
2. Peningkatan Kualitas Hidup
Kelompok masyarakat yang memiliki tingkat literasi gizi tinggi cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik karena mereka memiliki kontrol yang lebih baik terhadap pola makan dan event kesehatan yang memengaruhi kesejahteraan fisik serta mental. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
3. Perubahan Norma Sosial
Literasi gizi mampu memengaruhi norma dan budaya makan dalam masyarakat. Ketika informasi gizi yang tepat tersebar luas, masyarakat dapat membentuk kebiasaan baru yang lebih sehat serta saling mendukung satu sama lain dalam membuat pilihan makanan yang baik. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
4. Dampak pada Generasi Berikutnya
Ketika keluarga memiliki literasi gizi yang baik, hal ini berpotensi diturunkan kepada generasi berikutnya melalui pola asuh dan pembiasaan makan sehat sejak dini, sehingga menghasilkan generasi dengan tingkat kesehatan yang lebih baik. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]
Kesimpulan
Nutritional literacy atau literasi gizi merupakan kemampuan penting yang mencakup proses memperoleh, memahami, mengolah, serta menerapkan informasi tentang gizi untuk membuat keputusan nutrisi yang tepat. Kemampuan ini melibatkan aspek kognitif dan praktik yang menentukan apakah seseorang dapat mengenali informasi gizi yang valid, memilih makanan sehat, serta menerapkan pola makan seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Literasi gizi dipengaruhi oleh faktor pendidikan, akses informasi, sikap terhadap kesehatan, serta faktor sosial ekonomi yang kesemuanya berdampak pada pilihan makanan individu.
Peran pendidikan gizi baik melalui sekolah, komunitas, tenaga kesehatan maupun media digital sangat penting dalam meningkatkan literasi gizi masyarakat. Literasi gizi yang kuat tidak hanya berdampak positif pada kesehatan individu tetapi juga memberikan kontribusi besar terhadap kesehatan masyarakat secara luas, termasuk pencegahan penyakit tidak menular, peningkatan kualitas hidup, serta perubahan norma sosial dalam pola makan. Upaya strategis untuk memperkuat literasi gizi dapat menciptakan komunitas yang lebih sehat, berdaya, dan tangguh menghadapi tantangan kesehatan di masa depan.