Terakhir diperbarui: 07 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 7 December). Dialektika Ilmu: Proses dan Penerapannya. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/dialektika-ilmu-proses-dan-penerapannya  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Dialektika Ilmu: Proses dan Penerapannya - SumberAjar.com

Dialektika Ilmu: Proses dan Penerapannya

Pendahuluan

Dalam perkembangan pengetahuan dan ilmu, sering muncul pandangan bahwa realitas atau fenomena bisa dipahami secara statis, artinya, sesuatu dianggap tetap, bisa dikategorikan secara sederhana, dan dipahami sebagai entitas terpisah. Namun, pandangan tersebut seringkali gagal menangkap dinamika, perubahan, interaksi, serta kontradiksi yang inheren dalam realitas, baik di alam, pikiran, maupun masyarakat.

Pendekatan dialektis muncul sebagai salah satu cara untuk memahami realitas secara dinamis, kompleks dan menyeluruh. Dengan mengakomodasi kontradiksi, perubahan, dan interaksi, dialektika menawarkan metode analisis yang lebih responsif terhadap perkembangan, konflik, dan transformasi.

Artikel ini akan membahas pengertian dialektika dalam filsafat dan ilmu, asal-usulnya, proses khas (tesis, antitesis, sintesis), perannya sebagai metode dalam analisis ilmiah dan sosial, bagaimana kontradiksi menjadi motor perkembangan ilmu, serta contoh penerapan dalam kajian sosial dan sains.


Definisi Dialektika

Definisi Dialektika Secara Umum

Secara umum, “dialektika” merujuk pada metode atau cara berargumentasi dan berpikir yang melibatkan pertentangan dan oposisi antara dua gagasan, posisi, atau fenomena, dengan makna bahwa melalui konflik atau ketegangan antara oposisi tersebut, muncul pemahaman baru atau bentuk baru penyatuan. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]

Dialektika melihat realitas tidak sebagai sesuatu yang statis dan terpisah, melainkan sebagai kesatuan dalam gerak, di mana elemen-elemen berbeda saling berinteraksi, berkontradiksi, dan berkembang. [Lihat sumber Disini - iac.gatech.edu]

Definisi Dialektika dalam KBBI

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “dialektika” dapat diartikan sebagai metode berpikir atau cara membahas suatu masalah secara kritis melalui perbandingan antara dua pandangan atau pendapat yang berlawanan, untuk kemudian memperoleh kesimpulan atau sintesis yang lebih matang. (Catatan: definisi persis dari KBBI silakan dicek di laman resmi KBBI.)

Definisi Dialektika Menurut Para Ahli

Beberapa pemikir dan filsuf yang mendefinisikan dialektika antara lain:

  • Georg Wilhelm Friedrich Hegel, ia menekankan dialektika sebagai metode “spekulatif” untuk menangkap perkembangan gagasan dan realitas melalui pertentangan batin, bukan sekadar debat retoris. Bagi Hegel, dialektika bukan sekadar formula “tesis-antitesis-sintesis”, melainkan proses dinamis di mana gagasan berkembang melalui kontradiksi internal menuju integrasi yang lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Karl Marx, dalam tradisi materialisme dialektis, Marx mengambil dialektika Hegel sebagai fondasi, namun “merealisasikannya” dalam analisis sosial dan material. Dialektika bagi Marx bukan sekadar logika gagasan, melainkan alat untuk memahami realitas sosial, ekonomi, dan sejarah sebagai proses dinamis penuh kontradiksi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Beberapa peneliti kontemporer filsafat ilmu menyebut dialektika sebagai metode untuk “menelaah perkembangan realitas sebagai pertumbuhan”, yakni menangkap bahwa realitas bersifat berubah, berkembang, berproses, dan tidak bisa dipahami statis. [Lihat sumber Disini - repo.driyarkara.ac.id]

  • Dalam kajian hukum modern, dialektika telah digunakan untuk merefleksikan perubahan paradigma hukum dari masa ke masa, menunjukkan bahwa hukum dan norma tidaklah absolut dan statis, melainkan berkembang melalui konflik, transformasi, dan reinterpretasi. [Lihat sumber Disini - journal.sadra.ac.id]


Asal-Usul Dialektika (Hegel, Marx, dst.)

Konsep dialektika berasal dari tradisi filsafat Yunani kuno, di mana metode debat dan dialog (seperti dalam karya­karya Plato) digunakan untuk mengeksplorasi konsep melalui oposisi argumentatif. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]

Namun, dialektika mendapat “nafas baru” di era modern melalui Hegel. Hegel merehabilitasi dialektika bukan sekadar sebagai alat debat, tetapi sebagai metode spekulatif untuk memahami realitas dan gagasan sebagai sesuatu yang berkembang, berubah, dan penuh kontradiksi. Bagi Hegel, realitas, termasuk sejarah, pikiran, masyarakat, tidak bisa dipahami sebagai kumpulan entitas statis, melainkan sebagai proses dinamis. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]

Kemudian, pada abad ke-19, dialektika Hegel diadaptasi oleh Karl Marx dan Friedrich Engels ke dalam pendekatan materialisme dialektis. Marx dan Engels memindahkan fokus dialektika dari gagasan (ideal) ke realitas material, dengan melihat bahwa masyarakat, sejarah, ekonomi, dan kondisi material dunia saling berinteraksi dalam kontradiksi yang menghasilkan perubahan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Dengan demikian, dialektika berkembang menjadi metode umum, tidak hanya dalam filsafat, tetapi juga dalam analisis sosial, ekonomi, sejarah, bahkan ilmu alam, sebagai cara memahami dinamika, perubahan, dan kontradiksi dalam setiap aspek realitas. [Lihat sumber Disini - academia.edu]


Proses Tesis, Antitesis, Sintesis

Salah satu representasi paling populer dari dialektika, meskipun tidak sepenuhnya akurat menurut Hegel, adalah skema tesis → antitesis → sintesis. Dalam skema ini:

  • “Tesis” melambangkan gagasan, kondisi, atau status quo awal, yaitu suatu konsep atau keadaan yang sudah mapan;

  • “Antitesis” adalah oposisi atau kritik terhadap tesis, muncul sebagai lawan atau kontradiksi dari tesis;

  • “Sintesis” merupakan hasil dari pertentangan antara tesis dan antitesis, berupa gagasan atau kondisi baru yang melampaui dan mengandung unsur dari keduanya, sekaligus mengatasi kontradiksi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Dalam tradisi Hegel, meskipun skema ini sering dipakai untuk menjelaskan dialektika, Hegel sendiri menganggapnya sebagai “skema mati” (a lifeless schema), karena untuk Hegel, dialektika lebih kompleks: ia melihat proses sebagai gerakan internal gagasan atau realitas itu sendiri, bukan sekadar formula eksternal. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]

Meski demikian, penggunaan tesis, antitesis, sintesis tetap populer, karena secara sederhana menggambarkan dinamika konflik dan penyatuan: kondisi lama bertentangan dengan penentang, kemudian melahirkan kondisi baru yang lebih tinggi atau lebih kompleks.

Proses ini, dalam konteks ilmu, sejarah, atau masyarakat, menunjukkan bahwa perkembangan tidak linier dan tidak statis, melainkan melalui konflik, negasi, dan transformasi.


Dialektika sebagai Metode Analisis Ilmiah

Dialektika tidak hanya penting dalam filsafat, tapi juga bisa dijadikan metode analisis ilmiah, terutama ketika peneliti ingin menangkap dinamika, kompleksitas, interaksi, dan perubahan dalam fenomena yang dipelajari. Beberapa karakteristik penting dialektika sebagai metode:

  • Membuka ruang bagi kontradiksi internal, artinya, tidak mengabaikan bahwa dalam fenomena ilmiah bisa ada aspek yang saling berkontradiksi, tetapi justru menjadikannya subjek analisis. [Lihat sumber Disini - iac.gatech.edu]

  • Memahami realitas sebagai proses dan totalitas, bukan memotong bagian secara isolatif dan statis, tetapi melihat bagaimana bagian-bagian saling berhubungan, berinteraksi, dan membentuk keseluruhan dinamis. [Lihat sumber Disini - academia.edu]

  • Mendorong sintesis dari oposisi, dengan tujuan memperoleh pemahaman baru yang lebih mendalam, reflektif, menyeluruh, dan lebih rasional dalam menginterpretasi fenomena. [Lihat sumber Disini - plato.stanford.edu]

Sebagai contoh penggunaan: dalam penelitian hukum atau paradigma hukum, metode dialektika telah dipakai untuk menganalisis bagaimana paradigma hukum berubah dari masa ke masa: dari hukum klasik Yunani, ke hukum di Abad Pertengahan, ke hukum modern, melalui rangkaian konflik, penolakan, dan reinterpretasi. [Lihat sumber Disini - journal.sadra.ac.id]

Dengan demikian, dialektika memberi alat bagi ilmuwan untuk tidak terjebak pada asumsi statis, melainkan mempertimbangkan dinamika historis, sosial, dan kultural, sebuah metode analisis yang reflektif dan adaptif.


Peran Kontradiksi dalam Pengembangan Ilmu

Kontradiksi, baik dalam gagasan, data, asumsi, maupun fenomena, sering dianggap sebagai masalah, kekurangan, atau kesalahan. Namun dalam kerangka dialektika, kontradiksi justru menjadi mesin perubahan dan perkembangan. Beberapa peran kontradiksi dalam pengembangan ilmu antara lain:

  • Memunculkan pertanyaan kritis, kontradiksi mengungkap batas-batas dari konsep atau teori yang ada, memaksa ilmuwan untuk mempertanyakan, meninjau ulang, dan mengkritik asumsi lama.

  • Menstimulus pemikiran baru, melalui negasi terhadap kondisi lama, muncul gagasan atau teori baru yang lebih kompleks, komprehensif, dan bisa menjelaskan fenomena secara lebih luas.

  • Mengakomodasi dinamika realitas, realitas tidak homogen dan statis; ada perubahan, konflik, interaksi, adaptasi. Kontradiksi memaksa ilmu untuk memperhitungkan dinamika ini.

  • Memungkinkan sintesis atau integrasi baru, lewat proses dialektis, kontradiksi bisa diatasi dengan sintesis baru yang menjaga elemen-elemen penting dari posisi lama, sekaligus memperbaruinya sesuai konteks dan perkembangan.

Dengan demikian, kontradiksi bukan untuk dihindari, tetapi diungkap, dianalisis, dan dipahami sebagai bagian dari evolusi ilmu.


Penerapan Dialektika dalam Kajian Sosial dan Sains

Pendekatan dialektis banyak digunakan dalam kajian sosial, terutama teori sosial, ekonomi, sejarah, karena masyarakat dan sejarah umumnya bersifat dinamis, penuh kontradiksi, konflik, dan perubahan. Misalnya:

  • Dalam tradisi Materialisme Dialektis (sebagaimana dipakai oleh Marx dan Engels), dialektika digunakan untuk menganalisis struktur sosial, ekonomi, dan sejarah: bagaimana relasi sosial, kondisi material, kekuasaan, dan konflik menghasilkan transformasi sosial. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Dalam bidang hukum: metode dialektika dipakai untuk meneliti evolusi paradigma hukum, menunjukkan bahwa norma dan sistem hukum tidak absolut, melainkan berkembang melalui konflik nilai, perubahan sosial, reinterpretasi. [Lihat sumber Disini - journal.sadra.ac.id]

  • Dalam epistemologi dan filsafat ilmu: dialektika dipandang sebagai metode untuk memahami realitas, pengetahuan, dan perkembangan sains sebagai proses reflektif, tidak stagnan, melainkan terus berubah sesuai interaksi gagasan dan realitas. [Lihat sumber Disini - repo.driyarkara.ac.id]

Selain itu, metode dialektika juga bisa diadaptasi secara lintas-disiplin: baik dalam ilmu sosial, sejarah, filsafat, maupun dalam kajian kontemporer tentang masyarakat, budaya, dan transformasi sosial.


Contoh Analisis Dialektis dalam Penelitian

Sebagai contoh, dalam sebuah artikel kontemporer (2024) yang menelaah “Tradisi Dialektika Hegel dan Marx” dijelaskan bagaimana Marx mengadaptasi dialektika Hegel untuk analisis sosial dan ekonomi. Artikel tersebut menekankan bahwa dialektika, dengan penekanan pada interkoneksi, kontradiksi, dan dinamika historis, memungkinkan analisis perkembangan sosial-historis secara lebih mendalam. [Lihat sumber Disini - culturajournal.com]

Contoh lain: dalam penelitian hukum modern, metode dialektika Hegel digunakan untuk merefleksikan pergeseran paradigma hukum dari era klasik ke modern, melalui proses dialektis tesis-antitesis-sintesis, dengan tujuan mengungkap kebenaran yang lebih komprehensif tentang hakikat hukum dan realitas sosial di baliknya. [Lihat sumber Disini - journal.sadra.ac.id]

Lebih jauh lagi: dalam epistemologi ilmu pengetahuan, dialektika diposisikan sebagai metode analisis yang mampu menangkap kompleksitas realitas, dinamika pemikiran, dan transformasi konsep, sebagai upaya memahami ilmu bukan sebagai kumpulan pengetahuan statis, tetapi sebagai proses reflektif dan berkembang. [Lihat sumber Disini - repo.driyarkara.ac.id]


Kesimpulan

Dialektika, sebagai metode berpikir dan analisis, menawarkan perspektif yang jauh lebih dinamis, reflektif, dan realistis dibanding pendekatan statis. Melalui pengakuan terhadap kontradiksi, konflik, dan interaksi dalam realitas, baik di tingkat gagasan, sosial, maupun materi, dialektika memungkinkan pemahaman yang lebih mendalam, kontekstual, dan evolutif terhadap fenomena.

Dengan landasan dari tradisi filsafat klasik, dikembangkan oleh pemikir modern seperti Hegel, dan diadaptasi secara material oleh Marx dan Engels, dialektika telah menjadi metode penting untuk analisis ilmiah, sosial, ekonomi, sejarah, dan kajian lintas disiplin.

Dalam penelitian maupun analisis kultural, sosial, atau ilmiah, pendekatan dialektis membantu kita melihat bahwa perubahan, konflik, dan transformasi bukanlah “anomali” atau “masalah” saja, melainkan bagian intrinsik dari proses perkembangan dan pencarian pengetahuan.

Dengan demikian, dialektika bukan sekadar teknik berpikir, melainkan kerangka analitis kritis yang relevan dalam memahami dan mengkaji realitas yang kompleks dan terus berubah.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Dialektika dalam ilmu adalah metode berpikir yang melihat realitas sebagai proses dinamis yang berkembang melalui kontradiksi, konflik, dan sintesis untuk menghasilkan pemahaman baru.

Dialektika Hegel berfokus pada perkembangan ide atau kesadaran melalui kontradiksi, sedangkan Marx menerapkan dialektika pada realitas material dan sosial sehingga kontradiksi kelas menjadi pusat analisis.

Proses tesis–antitesis–sintesis menggambarkan perkembangan pemikiran atau fenomena melalui konflik antara kondisi awal (tesis) dengan lawannya (antitesis), yang kemudian menghasilkan gagasan atau kondisi baru yang lebih tinggi (sintesis).

Kontradiksi dianggap motor penggerak perubahan. Melalui kontradiksi, teori atau fenomena lama dipertanyakan, dikritik, dan kemudian melahirkan pemahaman baru yang lebih komprehensif.

Dalam penelitian sosial, dialektika digunakan untuk menganalisis dinamika masyarakat, konflik sosial, perubahan nilai, dan hubungan antarstruktur. Pendekatan ini menekankan hubungan timbal balik, kontradiksi, serta perkembangan historis.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Dialektika Pengertian, Prinsip, dan Contoh dalam Kajian Ilmiah Dialektika Pengertian, Prinsip, dan Contoh dalam Kajian Ilmiah Filsafat Ilmu Kontemporer: Ciri dan Arah Perkembangan Filsafat Ilmu Kontemporer: Ciri dan Arah Perkembangan Teori dan Praksis dalam Filsafat Ilmu Teori dan Praksis dalam Filsafat Ilmu Hubungan Filsafat Ilmu dengan Metodologi Penelitian Hubungan Filsafat Ilmu dengan Metodologi Penelitian Hubungan Ilmu dan Nilai: Kajian Filosofis Hubungan Ilmu dan Nilai: Kajian Filosofis Nilai dan Moralitas dalam Ilmu Pengetahuan Nilai dan Moralitas dalam Ilmu Pengetahuan Progresivisme Ilmu: Pengertian dan Contoh dalam Dunia Akademik Progresivisme Ilmu: Pengertian dan Contoh dalam Dunia Akademik Aksiologi: Pengertian, Prinsip, dan Contoh dalam Filsafat Ilmu Aksiologi: Pengertian, Prinsip, dan Contoh dalam Filsafat Ilmu Filsafat Ilmu: Hubungan antara Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Filsafat Ilmu: Hubungan antara Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi  Ilmu dan Metafisika: Hubungan dan Perbedaannya Ilmu dan Metafisika: Hubungan dan Perbedaannya Jurnal Ilmiah: Pengertian, Struktur, dan Contoh penulisan beserta sumber [pdf] Jurnal Ilmiah: Pengertian, Struktur, dan Contoh penulisan beserta sumber [pdf] Aksiologi Ilmu: Nilai dan Etika dalam Riset Aksiologi Ilmu: Nilai dan Etika dalam Riset Metafisika Pengetahuan: Hubungannya dengan Ilmu Metafisika Pengetahuan: Hubungannya dengan Ilmu Prinsip Universalitas dalam Ilmu Pengetahuan Prinsip Universalitas dalam Ilmu Pengetahuan Idealisme dalam Filsafat Ilmu: Ciri dan Relevansinya Idealisme dalam Filsafat Ilmu: Ciri dan Relevansinya Teori Kritis Habermas: Prinsip dan Contoh dalam Riset Sosial Teori Kritis Habermas: Prinsip dan Contoh dalam Riset Sosial Paradigma Postmodern dalam Ilmu Pengetahuan Paradigma Postmodern dalam Ilmu Pengetahuan Falsifikasi: Pengertian, Fungsi, dan Contohnya dalam Filsafat Ilmu Falsifikasi: Pengertian, Fungsi, dan Contohnya dalam Filsafat Ilmu Epistemologi: Pengertian, Ruang Lingkup, dan Contoh dalam Ilmu Pengetahuan Epistemologi: Pengertian, Ruang Lingkup, dan Contoh dalam Ilmu Pengetahuan Relativisme Ilmiah: Pengertian dan Kritiknya Relativisme Ilmiah: Pengertian dan Kritiknya
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…