
Pelayanan Kesehatan Ramah Lansia
Pendahuluan
Seiring dengan meningkatnya angka harapan hidup dan pertumbuhan populasi lansia di Indonesia maupun dunia, kebutuhan akan pelayanan kesehatan yang responsif terhadap karakteristik dan kebutuhan lansia menjadi sangat penting. Lansia sebagai kelompok usia rentan memiliki kondisi fisiologis, psikologis, dan sosial yang berbeda dibandingkan dengan kelompok usia produktif lainnya. Oleh karena itu, layanan kesehatan yang disediakan harus mampu memenuhi kebutuhan khusus ini sehingga lansia dapat menikmati kualitas hidup yang baik, tetap aktif, dan mandiri. Perubahan demografi ini menuntut sistem kesehatan untuk beradaptasi dan menyediakan layanan yang ramah usia, efektif, serta bermutu tinggi untuk memperbaiki derajat kesehatan serta kepuasan lansia dalam mendapatkan pelayanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - e-journal.lppmdianhusada.ac.id]
Definisi Pelayanan Kesehatan Ramah Lansia
Definisi Pelayanan Kesehatan Ramah Lansia Secara Umum
Pelayanan kesehatan ramah lansia merujuk pada penyelenggaraan layanan kesehatan yang dirancang secara khusus untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental, serta sosial lansia, dengan mempertimbangkan karakteristik penuaan dan hambatan yang dialami oleh mereka. Istilah ini sering dikenal juga sebagai age-friendly health services atau layanan kesehatan yang mengadaptasi pendekatan yang menghormati martabat dan kebutuhan pasien usia lanjut. Dalam konteks rumah sakit atau fasilitas kesehatan, konsep ramah lansia sering mencakup penyediaan fasilitas yang mudah diakses, tenaga kesehatan yang kompeten dengan pendekatan komunikasi yang efektif, serta layanan yang holistik dan lintas sektor dalam memenuhi kebutuhan lansia. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]
Definisi Pelayanan Kesehatan Ramah Lansia dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “pelayanan kesehatan” didefinisikan sebagai rangkaian usaha atau tindakan yang dilakukan dalam bidang kesehatan untuk memenuhi kebutuhan kesehatan seseorang atau masyarakat. Namun, istilah “ramah lansia” berarti bersikap atau berperilaku baik, sopan, dan menghormati lansia. Sehingga secara kombinasi pengertian, pelayanan kesehatan ramah lansia berarti layanan kesehatan yang dilakukan dengan cara yang menghormati, memperhatikan, dan memenuhi hak dan kebutuhan lansia secara penuh. (KBBI Online)
Definisi Pelayanan Kesehatan Ramah Lansia Menurut Para Ahli
-
Farsida (2021) menjelaskan bahwa rumah sakit ramah lansia merupakan konsep layanan kesehatan yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan lansia, termasuk dalam memberikan layanan yang efektif, efisien, dan bersahabat kepada pasien usia lanjut. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]
-
WHO (dikutip dalam penelitian optimalisasi layanan posyandu lansia) menyebutkan bahwa sistem layanan kesehatan ramah lansia atau age-friendly health services harus memenuhi prinsip prinsip active ageing, dengan memberikan kemudahan akses, respek, serta dukungan fungsional dan sosial bagi lansia sehingga mereka dapat tetap sehat dan produktif. [Lihat sumber Disini - pamarenda.uho.ac.id]
-
Husna et al. (2025) dalam kajian kebijakan pelayanan lansia menekankan pentingnya pendekatan holistik dan multidisiplin dalam pelayanan kesehatan lansia untuk meningkatkan kualitas hidup dan memenuhi kebutuhan holistik pasien lansia. [Lihat sumber Disini - journal.nurscienceinstitute.id]
-
Lativa (2021) menjelaskan bahwa layanan kesehatan lanjut usia pada tingkat dasar seperti Puskesmas meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang mudah diakses oleh lansia, dan ini merupakan bagian penting dari penyelenggaraan layanan yang ramah terhadap lansia. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]
Konsep Pelayanan Kesehatan Ramah Lansia
Pelayanan kesehatan ramah lansia didasarkan pada kesadaran bahwa lansia memiliki kebutuhan kesehatan yang kompleks dan berbeda dibandingkan dengan individu usia lain. Konsep layanan ini menekankan prinsip penghormatan martabat lansia, partisipasi aktif lansia dalam pengambilan keputusan terkait perawatan kesehatan mereka, serta pendekatan holistik yang mencakup aspek fisik, mental, sosial, dan lingkungan. Salah satu pendekatan yang dikenal adalah prinsip age-friendly health services yang dirumuskan oleh World Health Organization (WHO), yang menekankan adaptasi sistem kesehatan untuk kebutuhan lansia. Layanan ini meliputi aksesibilitas yang mudah, komunikasi yang efektif, proses pelayanan yang sesuai dengan karakteristik lansia, serta fasilitas yang mendukung kenyamanan mereka selama mendapatkan perawatan. [Lihat sumber Disini - pamarenda.uho.ac.id]
Dalam praktiknya, penerapan konsep ramah lansia juga mencakup kolaborasi antara fasilitas kesehatan dengan komunitas dan keluarga pasien untuk memastikan kontinuitas perawatan serta dukungan sosial yang memadai. Di Indonesia, pemerintah melalui berbagai kebijakan kesehatan memperluas layanan primer seperti Puskesmas yang dilengkapi fasilitas dan pendekatan yang ramah lansia sebagai bagian dari upaya meningkatkan derajat kesehatan lansia di tingkat komunitas. [Lihat sumber Disini - kesprimkom.kemkes.go.id]
Pelayanan ini tidak hanya berfokus pada penyembuhan penyakit, tetapi juga pada upaya promotif dan preventif, seperti pemeriksaan kesehatan rutin, penyuluhan edukasi kesehatan, serta rehabilitasi yang disesuaikan dengan kondisi lansia. Pendekatan ini menempatkan lansia sebagai subjek utama dalam proses pelayanan, bukan sekadar objek perawatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]
Kebutuhan Khusus Lansia dalam Pelayanan
Lansia mengalami perubahan biologis dan psikososial yang mempengaruhi respons mereka terhadap layanan kesehatan. Secara biologis, lansia sering mengalami penurunan fungsi organ dan peningkatan risiko penyakit degeneratif seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan mobilitas. Hal ini memerlukan penanganan yang lebih intensif dan berkesinambungan dari tenaga kesehatan. Selain itu, penurunan fungsi kognitif yang sering terjadi juga menuntut adaptasi dalam pendekatan komunikasi agar informasi kesehatan dapat dipahami dengan baik oleh lansia. [Lihat sumber Disini - pamarenda.uho.ac.id]
Di aspek psikososial, lansia sering mengalami isolasi sosial, perubahan peran dalam keluarga, hingga kecemasan terkait penyakit atau ketergantungan pada orang lain. Kebutuhan tersebut harus dipenuhi melalui pendekatan layanan yang empatik dan dukungan sosial, termasuk melalui pelayanan konseling, dukungan kelompok lansia, serta keterlibatan keluarga dalam proses perawatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]
Selain itu, lansia sering kali memiliki keterbatasan mobilitas, sehingga kebutuhan akan akses fisik yang mudah seperti jalur khusus, fasilitas kursi roda, serta fasilitas kesehatan yang responsif terhadap mobilitas lansia menjadi sangat penting. Standar aksesibilitas fasilitas kesehatan pro-lansia mencakup penyediaan fasilitas umum yang mudah diakses, jalur yang bebas hambatan, dan sistem administrasi yang sederhana agar lansia tidak mengalami kesulitan saat ingin memperoleh layanan. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]
Sikap dan Kompetensi Tenaga Kesehatan
Tenaga kesehatan memegang peranan kunci dalam pelayanan kesehatan ramah lansia. Sikap profesional yang penuh empati, rasa hormat, dan kesabaran dalam berinteraksi dengan pasien lansia sangat penting untuk menciptakan pengalaman pelayanan yang positif. Kompetensi ini mencakup kemampuan komunikasi yang efektif, pemahaman karakteristik penuaan, serta keterampilan klinis yang sesuai untuk menangani berbagai kondisi kesehatan lansia. [Lihat sumber Disini - journal.nurscienceinstitute.id]
Peningkatan kompetensi tenaga kesehatan dapat dilakukan melalui pelatihan formal dalam bidang geriatri, pendidikan lanjut terkait pendekatan holistik, serta pembelajaran lintas disiplin yang membantu tenaga kesehatan memahami kebutuhan fisik dan psikososial lansia secara menyeluruh. Hal ini sejalan dengan kebutuhan mendesak akan tenaga kesehatan yang kompeten dalam merawat lansia, sesuai dengan tuntutan layanan kesehatan lanjut usia di berbagai fasilitas kesehatan termasuk di puskesmas dan rumah sakit. [Lihat sumber Disini - journal.nurscienceinstitute.id]
Sikap profesional juga mencakup kemampuan untuk melibatkan lansia dalam pengambilan keputusan terkait rencana perawatan mereka serta menjaga martabat dan otonomi mereka selama proses pemberian layanan kesehatan. Pendekatan ini selain meningkatkan efektivitas pelayanan juga berkontribusi pada tingkat kepuasan lansia terhadap pelayanan yang diberikan. [Lihat sumber Disini - journal.nurscienceinstitute.id]
Aksesibilitas Fasilitas Kesehatan bagi Lansia
Aksesibilitas merupakan faktor penting dalam memastikan pelayanan kesehatan dapat dinikmati oleh lansia tanpa hambatan berarti. Akses ini mencakup kemudahan fisik untuk mencapai fasilitas kesehatan, adanya jalur yang ramah kursi roda, ruang tunggu yang nyaman, serta sistem administrasi yang sederhana. Fasilitas kesehatan ramah lansia juga harus mampu menangani kebutuhan mobilitas terbatas, antara lain dengan lift, kursi roda, serta fasilitas sanitasi yang mudah dijangkau. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]
Selain akses fisik, kemudahan administratif seperti proses pendaftaran yang cepat, jalur layanan prioritas lansia, serta sistem informasi yang jelas sangat dibutuhkan untuk meminimalkan tekanan atau kelelahan saat memperoleh layanan kesehatan. Aksesibilitas yang baik juga terkait dengan distribusi fasilitas kesehatan yang merata, sehingga lansia di daerah terpencil tetap mendapatkan layanan yang layak tanpa harus menempuh jarak jauh. [Lihat sumber Disini - jptam.org]
Dalam konteks pelayanan primer seperti puskesmas, upaya peningkatan aksesibilitas dilakukan dengan menyediakan layanan promotif, preventif, serta rehabilitatif yang khusus bagi lansia, sehingga lansia dapat memperoleh pelayanan kesehatan menyeluruh tanpa hambatan fisik, biaya, atau administrasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.uns.ac.id]
Dampak Pelayanan Ramah Lansia terhadap Kepuasan
Pelayanan kesehatan yang dirancang ramah terhadap lansia memiliki dampak positif yang signifikan terhadap tingkat kepuasan lansia. Kepuasan ini diukur dari kemampuan penyedia layanan dalam memberikan informasi kesehatan yang mudah dipahami, sikap profesional dan empati tenaga kesehatan, serta kemudahan akses terhadap fasilitas dan layanan yang tepat waktu. Hasil studi menunjukkan bahwa kualitas layanan kesehatan lansia yang tinggi, termasuk dimensi empati, responsivitas, dan jaminan layanan, berkorelasi dengan tingkat kepuasan pasien lansia yang lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - ejurnal.undana.ac.id]
Pelayanan yang ramah lansia tidak hanya meningkatkan kepuasan pasien, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup lansia secara keseluruhan. Peningkatan kepuasan ini berdampak pada meningkatnya partisipasi lansia dalam pemeriksaan kesehatan rutin, peningkatan motivasi untuk menjaga kesehatan, serta pengurangan hambatan psikologis dalam mengakses sumber daya kesehatan. Dengan demikian, pelayanan yang ramah lansia menjadi alat penting dalam mendorong active aging dan memperkuat sistem kesehatan yang inklusif bagi semua usia. [Lihat sumber Disini - ejurnal.undana.ac.id]
Kesimpulan
Pelayanan kesehatan ramah lansia adalah pendekatan pelayanan kesehatan yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan fisik, psikologis, sosial, dan lingkungan lansia secara holistik. Konsep ini melibatkan penyediaan fasilitas yang mudah diakses, sikap profesional dan empati tenaga kesehatan, proses layanan yang responsif terhadap karakteristik lansia, serta dukungan administratif yang efisien. Layanan ini berfokus pada upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang ramah usia untuk meningkatkan kualitas hidup dan kepuasan lansia. Penerapannya tidak hanya meningkatkan pengalaman lansia dalam mendapatkan layanan kesehatan, tetapi juga mendorong partisipasi aktif mereka dalam menjaga kesehatan jangka panjang. Dengan demikian, pelayanan kesehatan ramah lansia memainkan peran penting dalam respons sistem kesehatan terhadap perubahan demografi, serta dalam memperbaiki derajat kesehatan dan kesejahteraan lansia secara menyeluruh.