Terakhir diperbarui: 29 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 29 December). Status Gizi Lansia: Konsep, Perubahan Fisiologis, dan Kebutuhan. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/status-gizi-lansia-konsep-perubahan-fisiologis-dan-kebutuhan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Status Gizi Lansia: Konsep, Perubahan Fisiologis, dan Kebutuhan - SumberAjar.com

Status Gizi Lansia: Konsep, Perubahan Fisiologis, dan Kebutuhan

Pendahuluan

Populasi lansia di seluruh dunia mengalami peningkatan signifikan seiring bertambahnya usia harapan hidup. Lansia merupakan kelompok usia yang rentan terhadap perubahan kesehatan, termasuk dalam hal pemenuhan gizi yang seimbang. Status gizi pada lansia bukan hanya ukuran berat badan atau indeks massa tubuh saja, tetapi mencerminkan keseimbangan antara asupan nutrisi yang masuk dan kebutuhan tubuh untuk mempertahankan fungsi fisiologis yang optimal. Kekurangan atau kelebihan gizi dapat memicu berbagai gangguan kesehatan yang memengaruhi kualitas hidup lansia, sehingga pemahaman yang mendalam tentang konsep status gizi lansia, perubahan fisiologis yang terjadi, kebutuhan gizi yang berubah seiring usia, serta faktor risiko yang berkontribusi menjadi hal esensial dalam upaya peningkatan kesejahteraan lansia secara umum. Penelitian menunjukkan bahwa gangguan nutrisi di kalangan lansia dipengaruhi tidak hanya oleh aspek biologis, tetapi juga faktor sosial dan ekonomi yang kompleks. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]


Definisi Status Gizi Lansia

Definisi Status Gizi Lansia Secara Umum

Status gizi lansia secara umum dapat dipahami sebagai cerminan keseimbangan antara asupan energi dan nutrien dengan kebutuhan fisiologis tubuh lansia yang terus menurun akibat proses penuaan. Dalam konteks ini, status gizi mencakup pemenuhan kebutuhan makronutrien (energi, protein, lemak) dan mikronutrien (vitamin dan mineral) yang cukup untuk mempertahankan kekuatan otot, fungsi organ, serta daya tahan terhadap penyakit. Lansia yang mengalami status gizi kurang atau malnutrisi dapat menghadapi risiko meningkatnya morbiditas, penurunan fungsi fisik, serta gangguan kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Definisi Status Gizi Lansia dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), status gizi diartikan sebagai kondisi kesehatan seseorang yang dipengaruhi oleh asupan zat gizi yang dikonsumsi dan kemampuan tubuh untuk memanfaatkan zat gizi tersebut. Dalam konteks lansia, status gizi mencerminkan kondisi nutrisi yang menentukan kemampuan individu untuk menjalankan aktivitas sehari-hari serta mempertahankan fungsi fisiologis tubuh meskipun terjadi proses penuaan alamiah. (Sumber: KBBI Online)

Definisi Status Gizi Lansia Menurut Para Ahli

  1. Norman et al. menyatakan bahwa malnutrisi pada lansia adalah kondisi yang mencerminkan ketidakseimbangan antara asupan nutrisi dengan kebutuhan tubuh, yang sering disebabkan oleh penurunan kemampuan tubuh dalam menyerap dan memetabolisme nutrien. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Stratidaki et al. mengemukakan bahwa status gizi lansia merupakan indikator penting dari kesejahteraan kesehatan yang dipengaruhi oleh faktor usia, penyakit, pola makan, dan kondisi sosial ekonomi yang secara kolektif menentukan risiko malnutrisi. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  3. Starr dan Huang menggambarkan status gizi lansia sebagai kondisi nutrisi yang mencerminkan kapasitas tubuh untuk merespon stres kesehatan akut atau kronis, yang mana rendahnya cadangan nutrisi menyebabkan peningkatan kerentanan terhadap komplikasi kesehatan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  4. Engelheart et al. mendefinisikan status gizi dalam lansia sebagai penilaian komprehensif yang tidak hanya mempertimbangkan berat badan dan indeks massa tubuh, tetapi juga parameter fungsional seperti massa otot, kekuatan fisik, serta indikator klinis lainnya. [Lihat sumber Disini - foodandnutritionresearch.net]


Konsep Status Gizi pada Lansia

Status gizi pada lansia mencakup berbagai aspek yang menjadi penentu keseluruhan kondisi nutrisi individu lansia. Proses penuaan menyebabkan perubahan dalam tubuh yang berdampak langsung terhadap kemampuan mempertahankan status gizi yang baik. Konsep ini menggabungkan aspek biologis, psikososial, dan lingkungan, sehingga pemahaman holistik menjadi sangat penting dalam konteks kesehatan lansia.

Secara biologis, penuaan dimulai sejak seseorang memasuki usia 60 tahun atau lebih, ditandai oleh penurunan fungsi fisiologis seperti berkurangnya massa otot, penurunan fungsi organ pencernaan, serta perubahan persepsi rasa dan selera makan. Kondisi ini menyebabkan kebutuhan nutrisi dan cara pemenuhan kebutuhan tersebut berbeda secara signifikan dibandingkan dengan kelompok usia yang lebih muda. Proses penuaan juga dapat memperlambat metabolisme dan menurunkan efisiensi penyerapan nutrien oleh tubuh, sehingga lansia lebih rentan terhadap kekurangan nutrisi tertentu seperti vitamin D, vitamin B12, kalsium, serta protein. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

Selain itu, aspek psikososial memengaruhi status gizi lansia melalui faktor seperti isolasi sosial, depresi, keterbatasan mobilitas, atau kurangnya dukungan keluarga yang memengaruhi pola makan. Lingkungan tempat tinggal, akses terhadap makanan bergizi, serta status ekonomi menjadi bagian dari determinan sosial yang juga berkontribusi terhadap tercapainya atau tidaknya status gizi yang optimal pada lansia. Semua faktor ini menunjukkan bahwa status gizi lansia bukan sekadar ukuran angka antropometri, tetapi hasil dari interaksi kompleks antara proses penuaan dan faktor eksternal yang menyertainya. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Perubahan Fisiologis pada Lansia

Proses penuaan membawa perubahan fisiologis yang dapat memengaruhi status gizi lansia secara langsung. Perubahan ini tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan progresif dan kompleks, mencakup berbagai sistem tubuh yang kritikal untuk pemeliharaan kesehatan.

Salah satu perubahan fisiologis yang umum pada lansia adalah penurunan fungsi indera pengecap dan penciuman. Diminished taste and smell dapat menyebabkan penurunan selera makan, yang pada gilirannya mengurangi asupan nutrisi yang penting. Hal ini berdampak pada kualitas pola makan dan risiko malnutrisi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Selain itu, perubahan di saluran pencernaan seperti atrophic gastritis, penurunan motilitas usus, serta gangguan pencernaan dapat berkontribusi terhadap penurunan penyerapan nutrien-esensial. Gastric emptying yang melambat juga dapat memengaruhi nafsu makan dan asupan energi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Perubahan fisiologis lain yang signifikan mencakup penurunan massa otot dan densitas tulang akibat penuaan, yang sering dikaitkan dengan risiko frailty dan osteoporosis. Penurunan massa otot ini juga berkontribusi terhadap penurunan metabolisme basal, perubahan distribusi lemak tubuh, serta peningkatan risiko jatuh dan cedera. [Lihat sumber Disini - ojs.arbain.co.id]

Gangguan fungsi oral seperti penurunan kualitas gigi, dryness of mouth, serta kesulitan menelan juga umum terjadi pada lansia dan dapat secara signifikan menurunkan keinginan atau kemampuan untuk mengonsumsi makanan yang beragam dan bergizi. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]


Kebutuhan Gizi Lansia

Kebutuhan gizi lansia berbeda dengan kelompok usia dewasa muda karena penurunan fungsi fisiologis, perubahan komposisi tubuh, serta peningkatan kebutuhan terhadap nutrien tertentu untuk mempertahankan kesehatan. Lansia membutuhkan pola makan yang kaya akan nutrien padat tetapi cenderung rendah energi total untuk menghindari risiko kelebihan berat badan atau obesitas.

Protein menjadi salah satu nutrien penting yang harus diperhatikan dalam kebutuhan gizi lansia. Protein berperan dalam mempertahankan massa otot, mempercepat penyembuhan luka, serta mendukung fungsi imunitas. Penurunan massa otot yang biasa terjadi pada lansia meningkatkan kebutuhan relatif protein untuk mempertahankan fungsi otot. Selain itu, mikronutrien seperti vitamin D, kalsium, serta vitamin B kompleks (termasuk B12) sangat penting untuk mendukung kesehatan tulang, fungsi neurologis, dan metabolisme energi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

Serat makanan juga penting untuk menjaga fungsi gastrointestinal yang sehat dan mencegah sembelit, ketika motilitas usus cenderung menurun dengan bertambahnya usia. Antioksidan seperti vitamin C dan E dapat membantu melindungi sel dari kerusakan oksidatif yang terkait dengan proses penuaan.

Dalam situasi tertentu, kebutuhan cairan juga menjadi perhatian khusus karena lansia sering mengalami penurunan rasa haus yang dapat menyebabkan risiko dehidrasi. Oleh karena itu, asupan cairan yang cukup harus dijaga meskipun tidak selalu terasa haus.


Faktor Risiko Gangguan Gizi Lansia

Gangguan gizi pada lansia dapat dipicu oleh banyak faktor yang bersifat internal maupun eksternal. Faktor internal meliputi kondisi kesehatan yang kronis, penurunan fungsi fisiologis yang berkaitan dengan penuaan, serta perubahan indera yang memengaruhi selera makan dan kemampuan untuk mengonsumsi makanan beragam.

Faktor eksternal mencakup aspek sosial ekonomi seperti pendapatan rendah, terbatasnya akses ke makanan bergizi, dukungan keluarga yang kurang, serta isolasi sosial yang dapat memengaruhi kebiasaan makan. Selain itu, penyakit kronis seperti diabetes, gangguan gastrointestinal, serta gangguan mental seperti depresi juga berkaitan erat dengan risiko malnutrisi pada lansia. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Perubahan gaya hidup, termasuk kurangnya aktivitas fisik dan keterbatasan mobilitas, juga berperan meningkatkan risiko gangguan gizi karena berkontribusi pada penurunan kebutuhan energi dan perubahan komposisi tubuh. Selain itu, lansia yang hidup sendiri atau tinggal jauh dari layanan kesehatan sering memiliki risiko lebih tinggi mengalami malnutrisi karena keterbatasan dukungan dalam penyediaan makanan dan pengawasan nutrisi. [Lihat sumber Disini - bmcgeriatr.biomedcentral.com]


Dampak Status Gizi terhadap Kualitas Hidup

Status gizi yang buruk memiliki dampak signifikan terhadap kualitas hidup lansia. Malnutrisi baik dalam bentuk kekurangan gizi maupun kelebihan gizi memengaruhi keadaan fisik, psikologis, serta kemampuan sosial lansia.

Penelitian menunjukkan bahwa lansia dengan status gizi kurang memiliki risiko lebih tinggi mengalami penurunan massa otot, kelelahan berlebih, keterbatasan mobilitas, serta gangguan tidur. Kondisi ini berdampak buruk pada kemampuan lansia untuk melakukan aktivitas sehari-hari serta meningkatkan kemungkinan isolasi sosial dan depresi. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]

Selain itu, status gizi yang buruk juga berkaitan dengan peningkatan morbiditas dan mortalitas, memperpanjang masa perawatan di fasilitas kesehatan, serta memberikan beban ekonomi yang lebih besar bagi individu dan keluarga. Status gizi yang optimal dapat membantu lansia mempertahankan kemandirian, fungsi fisik yang lebih baik, serta kualitas hidup yang lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Pemantauan dan Intervensi Gizi Lansia

Pemantauan status gizi pada lansia merupakan langkah penting untuk memastikan pemenuhan kebutuhan nutrisi yang tepat. Penilaian status gizi dapat dilakukan melalui berbagai metode seperti antropometri, evaluasi asupan makanan, serta penggunaan instrumen khusus seperti Mini Nutritional Assessment (MNA) yang sering digunakan dalam praktik klinis untuk mengidentifikasi risiko malnutrisi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Intervensi gizi yang efektif mencakup edukasi tentang pola makan sehat, dukungan untuk meningkatkan asupan nutrisi melalui makanan padat nutrien, serta penyesuaian pola makan yang mempertimbangkan perubahan fisiologis yang terjadi. Selain itu, dukungan sosial dan keluarga juga penting dalam memastikan lansia mendapatkan akses ke makanan bergizi dan bantuan dalam persiapan makanan.

Lansia yang berada dalam risiko atau mengalami malnutrisi mungkin memerlukan pendekatan nutrisi klinis, termasuk suplementasi nutrien tertentu atau kolaborasi dengan ahli gizi profesional untuk merancang rencana makan yang disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu.


Kesimpulan

Status gizi lansia merupakan aspek penting dalam kesehatan dan kualitas hidup individu lansia. Proses penuaan membawa perubahan fisiologis yang signifikan, termasuk penurunan fungsi indera, gangguan pencernaan, serta perubahan komposisi tubuh yang semuanya memengaruhi kebutuhan dan pemanfaatan nutrien. Pemahaman yang komprehensif tentang definisi status gizi lansia, kebutuhan nutrisi yang spesifik, serta faktor risiko gangguan gizi sangat krusial dalam upaya menjaga kesejahteraan lansia. Dampak status gizi yang buruk dapat mempercepat penurunan fungsi fisik, meningkatkan morbiditas, serta mengurangi kualitas hidup secara keseluruhan. Oleh karena itu, pemantauan yang tepat dan intervensi nutrisi yang responsif menjadi kunci dalam mendukung lansia untuk hidup sehat dan mandiri di masa tuanya.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Status gizi lansia adalah kondisi keseimbangan antara asupan zat gizi dan kebutuhan tubuh pada usia lanjut yang dipengaruhi oleh perubahan fisiologis, kondisi kesehatan, serta faktor sosial dan lingkungan.

Lansia rentan mengalami gangguan status gizi karena adanya penurunan fungsi pencernaan, berkurangnya nafsu makan, perubahan indera pengecap, penyakit kronis, keterbatasan ekonomi, serta kurangnya dukungan sosial.

Perubahan fisiologis pada lansia meliputi penurunan massa otot, berkurangnya kepadatan tulang, gangguan fungsi pencernaan, penurunan metabolisme basal, serta menurunnya fungsi indera pengecap dan penciuman.

Kebutuhan gizi utama lansia meliputi protein untuk menjaga massa otot, kalsium dan vitamin D untuk kesehatan tulang, vitamin B kompleks untuk fungsi saraf, serat untuk pencernaan, serta cairan untuk mencegah dehidrasi.

Pemantauan status gizi lansia dapat dilakukan melalui pengukuran antropometri, penilaian asupan makanan, evaluasi kondisi klinis, serta penggunaan instrumen seperti Mini Nutritional Assessment (MNA).

Status gizi buruk pada lansia dapat menyebabkan penurunan fungsi fisik, meningkatnya risiko penyakit, keterbatasan aktivitas sehari-hari, gangguan psikologis, serta menurunnya kemandirian dan kualitas hidup.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pelayanan Kesehatan Ramah Lansia Pelayanan Kesehatan Ramah Lansia Status Gizi Lansia dan Faktor yang Mempengaruhi Status Gizi Lansia dan Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Menggunakan Produk Herbal pada Lansia Motivasi Menggunakan Produk Herbal pada Lansia Risiko Jatuh pada Lansia Risiko Jatuh pada Lansia Kualitas Hidup Lansia Kualitas Hidup Lansia Aktivitas Fisik Lansia Aktivitas Fisik Lansia Risiko Jatuh pada Lansia: Faktor Risiko dan Pencegahan Risiko Jatuh pada Lansia: Faktor Risiko dan Pencegahan Kesehatan Lansia Kesehatan Lansia Gangguan Mobilitas Fisik Pasien Lansia Gangguan Mobilitas Fisik Pasien Lansia Keamanan Obat Lansia: Konsep, Tantangan, dan Pencegahan Risiko Keamanan Obat Lansia: Konsep, Tantangan, dan Pencegahan Risiko Hydration Level pada Lansia Hydration Level pada Lansia Penyakit Degeneratif pada Lansia Penyakit Degeneratif pada Lansia Evaluasi Penggunaan Obat Sedatif pada Lansia Evaluasi Penggunaan Obat Sedatif pada Lansia Manajemen Terapi Polifarmasi pada Lansia Manajemen Terapi Polifarmasi pada Lansia Risiko Interaksi Obat pada Lansia Risiko Interaksi Obat pada Lansia Gangguan Mobilitas Fisik Lansia: Konsep, Determinan, dan Dampak Gangguan Mobilitas Fisik Lansia: Konsep, Determinan, dan Dampak Status Hidrasi Pasien: Konsep, Pemeriksaan, dan Indikator Klinis Status Hidrasi Pasien: Konsep, Pemeriksaan, dan Indikator Klinis Keterbatasan Aktivitas: Pengertian dan Faktor Keterbatasan Aktivitas: Pengertian dan Faktor  Kesiapan Peningkatan Kesehatan: Definisi dan Implementasi Kesiapan Peningkatan Kesehatan: Definisi dan Implementasi Nutritional Status: Pengertian dan Penilaian Nutritional Status: Pengertian dan Penilaian
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…