
Status Gizi Lansia dan Faktor yang Mempengaruhi
Pendahuluan
Penuaan merupakan fase kehidupan yang tak terelakkan dan secara global populasi lansia terus meningkat pesat. Lansia menghadapi berbagai tantangan kesehatan termasuk dalam pemenuhan kebutuhan gizi yang adekuat. Status gizi pada lansia menjadi isu penting karena berdampak langsung terhadap kualitas hidup, fungsi tubuh, risiko penyakit, hingga kemampuan kognitif. Perubahan fisiologis yang terjadi seiring bertambahnya usia, kondisi kesehatan, lingkungan hidup, serta peran keluarga turut memengaruhi kemampuan lansia dalam menjaga status gizi yang optimal. Sementara itu, malnutrisi pada lansia tidak hanya berkaitan dengan kurangnya asupan energi tetapi juga gangguan asupan mikronutrien seperti vitamin dan mineral, yang menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan sehari-hari mereka. Penelitian-penelitian terbaru menunjukkan bahwa faktor gizi berkaitan erat dengan perkembangan kondisi kesehatan lansia seperti hipertensi, penurunan fungsi fisik, serta gangguan kognitif yang sering muncul di usia lanjut. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Definisi Status Gizi Lansia
Definisi Status Gizi Lansia Secara Umum
Status gizi lansia secara umum dapat diartikan sebagai keadaan nutrisi seseorang yang berusia 60 tahun ke atas berdasarkan keseimbangan antara kebutuhan tubuh dengan asupan nutrisi yang diterima. Hal ini mencakup kecukupan jumlah energi, zat gizi makro (karbohidrat, protein, lemak) maupun mikro (vitamin dan mineral) yang diperlukan untuk mempertahankan fungsi fisiologis optimal, menjaga kesehatan, dan mencegah penyakit serta penurunan kualitas hidup. Status gizi yang tidak seimbang bisa berupa kurang gizi, gizi lebih, atau gizi tidak seimbang lainnya yang memengaruhi kesehatan lansia secara langsung. [Lihat sumber Disini - lidsen.com]
Definisi Status Gizi Lansia dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), status gizi adalah tingkat keseimbangan antara zat gizi yang dibutuhkan tubuh dengan yang dipenuhi melalui makanan dan minuman, baik secara kuantitas maupun kualitas. Definisi ini mencerminkan bahwa status gizi merupakan ukuran yang menggambarkan kondisi nutrisi seseorang berdasarkan asupan gizi dan pemanfaatan zat gizi oleh tubuh. Penerapannya pada lansia mencakup evaluasi apakah kebutuhan gizi lansia sudah terpenuhi atau tidak sesuai dengan standar kebutuhan individu pada usia lanjut. (Penafsiran KBBI online).
Definisi Status Gizi Lansia Menurut Para Ahli
-
Simin Nikbin Meydani, Seorang ahli nutrisi dan gerontologi menyatakan bahwa status gizi lansia mencerminkan keseimbangan asupan nutrisi yang penting untuk mempertahankan fungsi imun, metabolik, dan kognitif yang menurun seiring bertambahnya usia. Nutrisi yang memadai penting untuk mencegah malnutrisi dan penyakit terkait usia lanjut. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Volkert et al. (2024), Nutrisi pada lansia dipengaruhi oleh perubahan fisiologis seperti anoreksia terkait usia dan penurunan rasa atau penciuman yang menjadi determinan utama status gizi lansia. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Latorre (2023), Menyatakan bahwa mempertahankan status gizi yang baik pada lansia adalah elemen pencegahan terhadap komplikasi kesehatan kronis serta mengoptimalkan kesejahteraan dan kualitas hidup pada populasi lansia. [Lihat sumber Disini - lidsen.com]
-
WHO Guidelines (2023), Organisasi Kesehatan Dunia menegaskan bahwa status gizi yang baik membantu mengurangi risiko infeksi, sarcopenia, serta gangguan metabolik yang sering terjadi di usia lanjut, dan memerlukan perhatian khusus dalam asupan protein serta mikronutrien. [Lihat sumber Disini - who.int]
Perubahan Fisiologis yang Mempengaruhi Status Gizi
Perubahan fisiologis pada lansia memiliki peran penting dalam menentukan status gizi mereka. Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami serangkaian adaptasi dan penurunan fungsi yang memengaruhi cara tubuh mencerna, menyerap, dan memanfaatkan nutrisi yang masuk.
Salah satu perubahan yang sering terjadi adalah penurunan sensitivitas terhadap rasa dan bau sehingga dapat menimbulkan berkurangnya nafsu makan dan selera makan yang menurun. Permasalahan ini sering disebut dalam studi gizi lansia karena berdampak pada penurunan asupan makanan yang berimbas pada keseimbangan gizi. [Lihat sumber Disini - lidsen.com] Selain itu, lansia mengalami perubahan fisiologis seperti penurunan fungsi gastrointestinal, penurunan produksi enzim pencernaan, berkurangnya massa otot (sarcopenia), dan perubahan metabolisme yang memengaruhi pemanfaatan nutrisi makro dan mikro. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Penurunan fungsi sistem pencernaan ini dapat menyebabkan gangguan absorpsi beberapa zat gizi penting seperti vitamin B12, kalsium, dan vitamin D, yang kemudian meningkatkan risiko penyakit seperti osteoporosis, anemia, dan gangguan imun. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id] Lansia juga cenderung mengalami penurunan massa otot yang berhubungan erat dengan kecukupan asupan protein, yang apabila tidak terpenuhi dapat mempercepat kelemahan fisik dan risiko jatuh. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com] Dalam banyak kasus lansia, kehilangan gigi dan gangguan fungsi oral seperti disfagia turut menghambat kemampuan mengunyah dan menelan makanan, sehingga berdampak buruk pada asupan energi dan protein mereka. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Perubahan fisiologis semacam ini membuat lansia lebih rentan terhadap kondisi yang disebut malnutrisi terkait usia, yaitu kondisi di mana kebutuhan nutrisi tidak terpenuhi akibat kombinasi perubahan metabolik, penurunan asupan makanan, serta gangguan pemanfaatan zat gizi. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Faktor Kesehatan dan Lingkungan Lansia
Status gizi lansia tidak hanya dipengaruhi oleh perubahan fisiologis, tetapi juga oleh berbagai faktor kesehatan dan lingkungan yang dapat memperkuat atau memperlemah kemampuan tubuh lansia dalam memenuhi kebutuhan nutrisinya.
Penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, serta gangguan pencernaan sangat umum ditemukan pada lansia dan memengaruhi status gizi mereka melalui berkurangnya nafsu makan, peningkatan kebutuhan metabolik, atau bahkan pembatasan diet tertentu yang menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi. Dalam satu studi, prevalensi lansia dengan status gizi overweight dan underweight ditemukan beragam dan berkaitan dengan kejadian hipertensi, menunjukkan hubungan antara kondisi gizi dan penyakit tidak menular di kelompok usia ini. [Lihat sumber Disini - afdifaljournal.com]
Lingkungan hidup juga memainkan peran kunci dalam menentukan status gizi lansia. Lansia yang tinggal di daerah dengan keterbatasan akses terhadap makanan bergizi cenderung mengalami risiko malnutrisi lebih tinggi. Faktor sosial ekonomi seperti pendapatan rendah, keterbatasan sumber daya, dan lingkungan yang kurang mendukung ketersediaan makanan sehat turut memperburuk status gizi lansia. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id]
Selain itu, faktor kesehatan mental seperti depresi juga memengaruhi pola makan lansia. Dukungan keluarga dan lingkungan sosial yang kuat dapat membantu meningkatkan asupan makanan dan kesejahteraan emosional lansia sehingga berdampak positif terhadap status gizi mereka. Sebuah studi menunjukkan keterkaitan antara dukungan keluarga dan status gizi lansia dengan kejadian depresi, menunjukkan hubungan kompleks antara faktor psikososial dan nutrisi di usia lanjut. [Lihat sumber Disini - jurnal.ikta.ac.id]
Risiko Malnutrisi pada Lansia
Malnutrisi pada lansia adalah kondisi serius yang ditandai oleh ketidakseimbangan antara kebutuhan nutrisi dan asupan makanan yang tersedia. Kondisi ini tidak hanya mencakup kekurangan zat gizi tetapi juga dapat meliputi kelebihan asupan energi yang menyebabkan obesitas dan masalah metabolik lainnya. [Lihat sumber Disini - ejurnal.poltekkes-tjk.ac.id]
Risiko malnutrisi pada lansia sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor internal dan eksternal. Penurunan nafsu makan, gangguan oral, kehadiran penyakit kronis, serta keterbatasan mobilitas dapat menyebabkan lansia makan lebih sedikit dan kehilangan berat badan secara signifikan. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com] Studi pembahasan menunjukkan bahwa lansia dengan masalah kesehatan dan nutrisi yang tidak diatasi memiliki risiko tinggi mengalami komplikasi seperti penurunan kualitas hidup, peningkatan kesakitan, serta gangguan fungsi fisik dan mental. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]
Masalah malnutrisi lansia semakin diperparah oleh ketidakseimbangan asupan mikronutrien seperti vitamin D, vitamin B12, asam folat, dan kalsium yang bisa memicu masalah kesehatan serius seperti anemia, osteoporosis, dan gangguan imun. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Faktor lingkungan seperti kemiskinan, keterbatasan akses ke makanan bergizi, serta dukungan sosial yang kurang memadai juga memperbesar kemungkinan lansia mengalami malnutrisi. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id]
Peran Dukungan Keluarga dalam Pemenuhan Gizi
Dukungan keluarga merupakan salah satu faktor penting dalam memastikan lansia mendapatkan asupan gizi yang memadai. Lansia yang hidup sendiri atau kurang mendapat perhatian dari anggota keluarga cenderung memiliki asupan makanan yang kurang baik, yang pada akhirnya dapat menurunkan status gizinya. Dengan adanya dukungan keluarga, lansia dapat menerima bantuan dalam persiapan makanan, pengingat makan, serta motivasi untuk mengikuti pola makan sehat sesuai dengan kebutuhan gizi mereka. [Lihat sumber Disini - jurnal.ikta.ac.id]
Keluarga juga memiliki peran dalam memantau kesehatan lansia, membantu mengidentifikasi perubahan perilaku makan, serta bekerja sama dengan tenaga kesehatan untuk menyesuaikan diet lansia sesuai dengan kondisi kesehatan mereka. Dukungan sosial yang kuat dari keluarga dapat membantu lansia merasa lebih termotivasi untuk memenuhi kebutuhan nutrition mereka dan mencegah isolasi sosial yang sering mengurangi minat makan. Dukungan keluarga juga terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap kejadian depresi serta status gizi lansia, menunjukkan hubungan erat antara dukungan emosional, psikologis, dan nutrisi. [Lihat sumber Disini - jurnal.ikta.ac.id]
Hubungan Gizi dengan Fungsi Kognitif
Status gizi yang buruk pada lansia memiliki dampak yang signifikan terhadap fungsi kognitif. Lansia yang mengalami malnutrisi dan kekurangan asupan nutrisi penting sering kali menunjukkan penurunan kemampuan kognitif, seperti memori, konsentrasi, dan kemampuan berpikir. Beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara gangguan makan, malnutrisi, dan gangguan fungsi kognitif pada lansia, terutama pada mereka yang tinggal di panti jompo atau memiliki demensia ringan hingga sedang. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Masalah gizi seperti defisiensi vitamin B12 dan asam folat dapat memperburuk kondisi neurologis lansia karena peran nutrisi ini dalam sintesis neurotransmitter dan fungsi sistem saraf. Kehilangan nafsu makan atau masalah menelan juga berkontribusi terhadap penurunan asupan nutrisi yang secara tidak langsung mempercepat penurunan kognitif. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Penelitian menunjukkan pula bahwa pendampingan dalam makan dan percepatan pemberian makanan yang tepat dapat membantu menjaga status gizi lansia, yang selanjutnya membantu mempertahankan fungsi kognitif mereka. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Kesimpulan
Status gizi lansia adalah indikator penting kesehatan yang memengaruhi kualitas hidup, fungsi fisik, serta proses kognitif di usia lanjut. Definisi status gizi mencakup keseimbangan antara kebutuhan nutrisi tubuh dengan asupan makanan yang memadai, dan dipengaruhi oleh aspek fisiologis, kesehatan, lingkungan, serta dukungan keluarga. Lansia menghadapi perubahan fisiologis seperti pengurangan nafsu makan, penurunan fungsi pencernaan dan gangguan oral yang dapat memperburuk asupan nutrisi mereka. Selain itu, kondisi kesehatan kronis dan lingkungan sosial-ekonomi juga memainkan peran besar terhadap status gizi lansia. Risiko malnutrisi di kalangan lansia mencakup kekurangan maupun kelebihan gizi yang memiliki dampak serius terhadap kesehatan dan fungsi kognitif. Dukungan keluarga terbukti menjadi faktor penting dalam memastikan pemenuhan asupan gizi yang adekuat, membantu lansia dalam aktivitas makan dan memberikan dukungan psikososial. Secara keseluruhan, pemahaman komprehensif tentang status gizi dan faktor-faktor yang memengaruhinya menjadi kunci dalam merancang intervensi kesehatan yang efektif guna meningkatkan kesejahteraan lansia.