
Luka Dekubitus: Tingkatan, Faktor Risiko, dan Pencegahan
Pendahuluan
Luka dekubitus, yang sering disebut pressure ulcer, pressure injury, atau bed sore, merupakan salah satu masalah kesehatan penting yang muncul pada pasien dengan mobilitas terbatas, terutama yang menjalani tirah baring lama atau penggunaan kursi roda. Pada tingkat global dan nasional, insiden luka dekubitus cukup tinggi dan menjadi indikator kualitas perawatan di fasilitas kesehatan. Di Indonesia, prevalensi kasus dekubitus dilaporkan mencapai sekitar 33, 3% pada pasien rawat inap, angka ini termasuk tinggi bila dibandingkan dengan prevalensi di negara-negara Asia Tenggara lainnya. [Lihat sumber Disini - jurnal.academiacenter.org]
Luka dekubitus bukan sekadar luka kulit biasa; kondisi ini mencerminkan kerusakan jaringan lebih dalam akibat tekanan terus-menerus yang menghambat suplai darah ke jaringan sehingga terjadi nekrosis. Dampak klinisnya meliputi nyeri, infeksi, hingga komplikasi berat yang dapat memperpanjang waktu perawatan dan membebani sistem kesehatan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Dengan latar belakang tersebut, pemahaman mendalam tentang definisi, tingkatan, faktor risiko, dampak, penilaian, serta strategi pencegahan luka dekubitus sangat krusial bagi tenaga kesehatan, khususnya dalam praktik keperawatan agar upaya pencegahan dan perawatannya dapat ditingkatkan secara efektif.
Definisi Luka Dekubitus
Definisi Luka Dekubitus Secara Umum
Luka dekubitus atau luka tekan merupakan cedera lokal pada kulit dan/atau jaringan di bawahnya yang terjadi akibat tekanan yang berkepanjangan pada area tubuh tertentu, terutama di atas penonjolan tulang (bony prominences). Tekanan ini menghambat aliran darah ke jaringan sehingga jaringan mengalami iskemia, hipoksia, serta akhirnya kerusakan dan nekrosis jika tekanan tidak dihilangkan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Luka Dekubitus dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (akses publik), dekubitus merujuk pada luka atau radang kulit pada bagian tubuh yang mengalami tekanan berkepanjangan akibat posisi tubuh yang tidak berubah dalam jangka waktu lama. Ini sering dialami oleh pasien yang terbatas mobilitasnya, misalnya pasien di tempat tidur atau kursi roda. (KBBI Online). [Catatan: tautan sumber KBBI online bila akses didukung]
Definisi Luka Dekubitus Menurut Para Ahli
-
Syed Rafay H. Zaidi & Sandeep Sharma (2024) mendefinisikan luka dekubitus sebagai localized skin and soft tissue injuries yang berkembang karena tekanan yang berkepanjangan dengan atau tanpa gaya geser dan gesekan pada area kulit yang menonjol di atas tulang. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
European Pressure Ulcer Advisory Panel (EPUAP) menyatakan bahwa luka dekubitus mencakup cedera jaringan yang dapat dimulai dari kulit yang tampak utuh dengan eritema tidak hilang s/d ulkus yang lebih dalam melibatkan otot dan tulang. [Lihat sumber Disini - emedicine.medscape.com]
-
Mayoclinic Staff (2024) mendeskripsikan luka dekubitus sebagai area kulit yang rusak akibat tekanan berulang yang mengurangi aliran darah ke jaringan sehingga berisiko terjadi infeksi dan gangguan lebih lanjut. [Lihat sumber Disini - mayoclinic.org]
-
Riset Klinis Nursing Review menekankan bahwa luka dekubitus merupakan cedera jaringan akibat kombinasi tekanan, gesekan, dan shear dalam situasi mobilitas terbatas yang memicu nekrosis jaringan. [Lihat sumber Disini - ejurnal.politeknikpratama.ac.id]
Tingkatan Luka Dekubitus
Luka dekubitus diklasifikasikan berdasarkan tingkat keparahan kerusakan jaringan, dari permukaan kulit hingga struktur yang lebih dalam seperti otot dan tulang. Sistem klasifikasi ini dilakukan untuk menentukan strategi perawatan dan mencegah komplikasi lebih lanjut. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Tingkat I
Luka masih berupa eritema (kemerahan) pada kulit yang utuh, terutama pada area tonjolan tulang yang tidak hilang saat ditekan (non-blanchable erythema). Tidak ada pecahnya kulit, tetapi ini merupakan tanda awal adanya risiko cedera jaringan bila tekanan berlanjut. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Tingkat II
Ditemukan kehilangan dermis parsial sehingga terlihat sebagai luka terbuka dangkal tanpa jaringan mati (slough) atau dapat berupa blister. Pada tahap ini, kerusakan mulai melibatkan lapisan dermis namun belum mencapai jaringan yang lebih dalam. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Tingkat III
Kerusakan jaringan lebih dalam hingga lapisan subkutan, dengan luka yang lebih besar dengan kemungkinan keluarnya nanah dan bau. Ini menunjukkan bahwa derajat cedera melampaui permukaan kulit. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Tingkat IV
Kerusakan jaringan sangat dalam hingga melibatkan otot, tendon, dan/atau tulang. Ini merupakan tingkat paling parah dan berisiko tinggi terjadi infeksi sistemik serta komplikasi serius lainnya. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Selain empat tingkatan utama di atas, ada juga kategori unstageable pressure injury yang tidak dapat dinilai karena seluruh dasar luka tertutup oleh jaringan mati atau eschar, serta suspected deep tissue injury di mana jaringan dalam terlihat gelap atau berbeda teksturnya namun kulit tetap utuh. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Faktor Risiko Terjadinya Luka Dekubitus
Luka dekubitus memiliki etiologi multifaktorial. Kombinasi dari tekanan eksternal, faktor internal pasien, serta kondisi klinis tertentu meningkatkan risiko terjadinya cedera jaringan ini. [Lihat sumber Disini - ejurnal.politeknikpratama.ac.id]
Tekanan Berkepanjangan dan Imobilitas
Faktor utama adalah tekanan berkepanjangan tanpa perubahan posisi tubuh, terutama pada pasien dengan mobilitas terbatas akibat tirah baring atau penggunaan kursi roda. [Lihat sumber Disini - mayoclinic.org]
Faktor Usia dan Kondisi Fisiologis
Usia lanjut terkait dengan penurunan elastisitas kulit, perfusi darah dan kemampuan regeneratif jaringan, sehingga berisiko tinggi terjadi luka dekubitus. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Kondisi Medis dan Komorbiditas
Penyakit kronis seperti diabetes, gangguan perfusi atau sirkulasi serta kondisi hemodinamik tidak stabil (mis. pada pasien ICU) juga meningkatkan risiko karena jaringan menjadi lebih rentan terhadap tekanan dan trauma. [Lihat sumber Disini - journal.unikadelasalle.ac.id]
Nutrisi dan Status Kesehatan Umum
Malnutrisi, rendahnya kadar albumin dan anemia membatasi suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan kulit, sehingga mempercepat kerusakan jaringan saat tekanan diberikan. [Lihat sumber Disini - journal.unikadelasalle.ac.id]
Inkontinensia dan Kelembaban Kulit
Kontak berkepanjangan dengan kelembaban (urin/stool) meningkatkan kerentanan kulit terhadap kerusakan. [Lihat sumber Disini - mayoclinic.org]
Faktor Klinis Lainnya
Penggunaan ventilator mekanik, kurangnya sensasi, gesekan, shear, serta penggunaan alat medis juga merupakan faktor yang meningkatkan risiko luka dekubitus. [Lihat sumber Disini - ejurnal.politeknikpratama.ac.id]
Dampak Luka Dekubitus terhadap Pasien
Luka dekubitus dapat membawa dampak klinis, fisik, psikologis dan sosial yang besar bagi pasien yang mengalaminya. [Lihat sumber Disini - ejurnal.politeknikpratama.ac.id]
Meningkatkan Lama Perawatan dan Biaya
Pasien dengan luka dekubitus sering memerlukan perawatan jangka panjang yang intensif, yang menyebabkan lama tinggal di rumah sakit meningkat dan beban biaya perawatan pun bertambah. [Lihat sumber Disini - ejurnal.politeknikpratama.ac.id]
Rasa Sakit dan Infeksi
Luka dekubitus dapat menjadi sangat nyeri, serta bila tidak ditangani secara tepat bisa terjadi infeksi lokal atau bahkan infeksi yang menyebar ke tulang (osteomyelitis) atau aliran darah (sepsis). [Lihat sumber Disini - mayoclinic.org]
Penurunan Kualitas Hidup
Kondisi ini dapat mengurangi kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari, menurunkan kualitas tidur, dan memberikan tekanan psikososial akibat keterbatasan mobilitas dan perawatan yang intensif. [Lihat sumber Disini - ejurnal.politeknikpratama.ac.id]
Penilaian Risiko Luka Dekubitus
Penilaian risiko merupakan langkah penting dalam pencegahan luka dekubitus. Alat penilaian risiko membantu profesional kesehatan mengidentifikasi pasien berisiko tinggi dan melakukan intervensi dini.
Braden Scale
Braden Scale merupakan alat yang menilai risiko luka dekubitus berdasarkan enam kriteria: persepsi sensorik, kelembaban, aktivitas, mobilitas, nutrisi, serta geseran/shear. Skor total yang rendah menunjukkan risiko lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Waterlow Score
Waterlow Score adalah alat penilaian lain yang menggabungkan variabel seperti usia, mobilitas, nutrisi, serta keadaan kulit untuk menentukan risiko pasien terhadap perkembangan tekanan luka. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Penilaian risiko yang sistematis memungkinkan tim keperawatan melakukan pengawasan lebih intensif pada pasien dengan skor risiko tinggi dan menerapkan strategi pencegahan yang tepat.
Upaya Pencegahan Luka Dekubitus dalam Keperawatan
Pencegahan merupakan aspek utama dalam mengurangi kejadian luka dekubitus, terutama pada pasien dengan risiko tinggi.
Reposisi dan Perubahan Posisi
Mengubah posisi pasien secara berkala (misalnya setiap dua jam) membantu mengurangi tekanan pada area tubuh tertentu, sehingga aliran darah kembali normal ke jaringan. [Lihat sumber Disini - mayoclinic.org]
Penggunaan Alas/Teknologi Tekanan Rendah
Kasur khusus yang mengurangi tekanan serta cushion pada kursi roda dapat membantu mendistribusikan tekanan secara lebih merata dan mengurangi risiko luka tekan. [Lihat sumber Disini - link.springer.com]
Perawatan Kulit dan Kontrol Kelembaban
Membersihkan kulit secara teratur, menjaga kelembaban kulit yang optimal, serta mengontrol inkontinensia dapat mengurangi risiko kerusakan kulit. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Edukasi dan Pelatihan Perawat
Pendidikan terus menerus tentang penilaian risiko, teknik reposisi yang benar, serta praktik pencegahan berbasis bukti dapat meningkatkan pengetahuan serta keterampilan perawat dalam mengantisipasi luka dekubitus. [Lihat sumber Disini - onlinelibrary.wiley.com]
Kesimpulan
Luka dekubitus adalah cedera jaringan yang kompleks dan serius yang terjadi akibat tekanan berkepanjangan, terutama pada pasien dengan mobilitas yang terbatas. Berbagai definisi klinis menekankan bahwa kondisi ini bukan sekadar luka permukaan, tetapi cedera yang memengaruhi kulit dan jaringan di bawahnya melalui mekanisme tekanan, gesekan, dan shear. Teknik klasifikasi luka dekubitus dibagi menjadi beberapa tingkatan, mulai dari eritema permukaan hingga kerusakan mendalam yang melibatkan otot dan tulang. Faktor risiko mencakup imobilitas, usia lanjut, malnutrisi, komorbiditas, serta kondisi klinis lainnya yang mempercepat terjadinya cedera jaringan.
Dampak luka dekubitus sangat luas, termasuk peningkatan lama perawatan, risiko infeksi, hingga penurunan kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, penilaian risiko awal menggunakan alat seperti Braden Scale dan Waterlow Score sangat penting untuk menargetkan intervensi pencegahan secara tepat. Strategi pencegahan meliputi reposisi berkala, penggunaan alat yang mengurangi tekanan, perawatan kulit yang tepat, serta edukasi profesional kesehatan. Kombinasi pendekatan ini dapat membantu mengurangi kejadian luka dekubitus dan meningkatkan hasil klinis pasien secara signifikan.