Terakhir diperbarui: 15 November 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 15 November). Struktur Ilmiah: Komponen dan Contoh dalam Penelitian. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/struktur-ilmiah-komponen-dan-contoh-dalam-penelitian  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Struktur Ilmiah: Komponen dan Contoh dalam Penelitian - SumberAjar.com

Struktur Ilmiah: Komponen dan Contoh dalam Penelitian

Pendahuluan

Penelitian ilmiah merupakan salah satu pilar fundamental dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan menggunakan prosedur yang sistematis, terukur dan dapat dipertanggungjawabkan, penelitian membantu manusia tidak hanya memahami fenomena, tetapi juga menemukan solusi atas masalah yang konkret di lapangan. Sebuah penelitian yang baik tidak cukup hanya memiliki pertanyaan yang menarik,tetapi juga harus dijalankan dalam kerangka yang benar, di mana setiap komponen memiliki posisi yang jelas dalam rangkaian kerja ilmiah. Struktur ilmiah dalam penelitian menjadi kerangka yang mengarahkan bagaimana sebuah studi harus dibangun, dijalankan, dan dilaporkan. Sistematisnya struktur ini memungkinkan pembaca atau peneliti lain untuk menelusuri logika penelitian, memahami pilihan metode, menilai kualitas data, serta mengevaluasi interpretasi hasil. Oleh sebab itu, memahami struktur ilmiah serta komponen-komponennya menjadi keharusan bagi setiap peneliti dan akademisi. Artikel ini akan mengulas secara mendalam: definisi struktur ilmiah, definisi menurut KBBI, definisi menurut para ahli, kemudian membahas komponen utama struktur ilmiah dalam penelitian, lengkap dengan contoh konkret untuk masing-masing. Di akhir, artikel akan menyimpulkan inti pembahasan dan memberi panduan ringkas untuk penerapan.


Definisi Struktur Ilmiah

Definisi Struktur Ilmiah secara umum

Secara umum, struktur ilmiah dapat dipahami sebagai kerangka atau susunan sistematis yang membentuk keseluruhan proses dan laporan penelitian. Kerangka ini mencakup tahapan mulai dari identifikasi masalah, pengumpulan data, analisis, hingga pelaporan hasil dengan cara yang logis dan teratur. Sebagai contoh, dalam artikel penelitian dikatakan bahwa “komponen penelitian terdapat: rumusan masalah, teori ilmiah, variabel, hipotesis, populasi dan sampel, dan data” yang menunjukkan bahwa struktur ilmiah mencakup berbagai elemen yang berhubungan satu sama lain. [Lihat sumber Disini - journal.stkipsubang.ac.id]
Penelitian ilmiah yang baik “mempunyai struktur yang merupakan kerangka petunjuk mengenai tahapan kegiatan yang harus dilakukan oleh peneliti.” [Lihat sumber Disini - digilib.uin-suka.ac.id]
Dengan demikian, secara umum struktur ilmiah adalah susunan terorganisir dari komponen-komponen penelitian yang memastikan penelitian dapat dilakukan dengan cara yang kredibel, valid, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Definisi Struktur Ilmiah dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “ilmiah” merujuk pada sesuatu yang bersifat berdasarkan ilmu, menggunakan metode atau cara-cara yang dapat diuji, dan bersifat sistematis. Sementara “struktur” berarti susunan atau kerangka. Oleh karena itu, bila digabungkan, “struktur ilmiah” dapat diartikan sebagai kerangka atau susunan yang berdasarkan ilmu dan dilaksanakan secara sistematis. (Catatan: definisi literal “struktur ilmiah” tidak muncul secara eksplisit di KBBI daring, namun pengertian komponen-kata “struktur” dan “ilmiah” memungkinkan interpretasi ini.) Sebagai rujukan, dalam KBBI “ilmiah” berarti “bersangkutan dengan ilmu pengetahuan; berdasarkan ilmu pengetahuan.” dan “struktur” berarti “susunan atau kerangka”.

Definisi Struktur Ilmiah menurut para ahli

Berikut beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli terkait penelitian ilmiah dan struktur proses penelitian:

  1. John W. Creswell (2014) menyatakan bahwa penelitian ilmiah adalah “langkah-langkah dari asumsi-asumsi yang luas dengan metode terperinci dalam pengumpulan, analisis, dan interpretasi data.” [Lihat sumber Disini - ejournal.uksw.edu]
  2. Michael Babbie (2021) menyebut bahwa penelitian ilmiah “berhubungan dengan logika, pengumpulan data melalui observasi, dan analisis data dengan pengamatan berdasarkan format apa adanya yang logis.” [Lihat sumber Disini - ejournal.uksw.edu]
  3. Dalam penelitian yang muncul di Indonesia, dikatakan bahwa “penelitian merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dengan hati-hati dan cerdas untuk memperoleh berbagai data guna memecahkan permasalahan yang ditetapkan.” [Lihat sumber Disini - jurnal.stieyasaanggana.ac.id]
  4. Menurut sebuah literatur metodologi, “penelitian ilmiah terdiri dari dua tingkatan yaitu teori dan empiris … penelitian ilmiah melibatkan proses iterasi terus menerus antara teori dan observasi empiris penelitian.” [Lihat sumber Disini - repository.unai.edu]

Dari definisi-definisi tersebut dapat diambil bahwa struktur ilmiah dalam penelitian tidak hanya soal susunan laporan, tetapi mencakup bagaimana peneliti merancang, menjalankan, dan melaporkan penelitian secara sistematis, berdasarkan teori dan empiris, serta mempertimbangkan metode, analisis dan interpretasi.


Komponen Utama Struktur Ilmiah dalam Penelitian

Berikut bagian-bagian atau komponen penting yang lazim ditemukan dalam struktur ilmiah penelitian; setiap bagian akan dijelaskan sekaligus diberikan contoh agar lebih konkret.

1. Judul penelitian

Komponen paling depan adalah judul penelitian. Judul harus mencerminkan fokus penelitian secara jelas dan ringkas, menggambarkan variabel atau objek yang diteliti serta konteksnya. Panduan penulisan jurnal menyebut bahwa judul disusun dengan menggambarkan isi tulisan secara ringkas namun jelas. [Lihat sumber Disini - pskp.kemendikdasmen.go.id]
Contoh: “Analisis Pengaruh Kompetensi Guru Terhadap Hasil Belajar Siswa di SMP Negeri X Jakarta”.

2. Abstrak dan Kata Kunci

Bagian ini memuat ringkasan penelitian,tujuan, metode, hasil utama, dan implikasi,serta kata kunci yang membantu indeksasi. Sebuah panduan menyebut: abstrak berisi pokok permasalahan, alasan penelitian, bagaimana pelaksanaannya termasuk metode, apa saja yang telah dilakukan atau dihasilkan, dan prospeknya. [Lihat sumber Disini - pskp.kemendikdasmen.go.id]
Contoh:

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kompetensi guru terhadap hasil belajar siswa di SMP Negeri X Jakarta. Metode yang digunakan adalah survei kuantitatif dengan sampel 200 siswa dan teknik analisis regresi linier. Hasil menunjukkan bahwa kompetensi guru memiliki pengaruh positif signifikan terhadap hasil belajar siswa. Implikasi penelitian ini adalah pentingnya pengembangan kompetensi guru melalui pelatihan berkelanjutan.
Kata kunci: kompetensi guru, hasil belajar, SMP.

3. Pendahuluan

Pada bagian ini peneliti menguraikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. Guideline menyebut bagian pendahuluan “memperkenalkan topik dengan jelas dan memberikan pemahaman tentang relevansi penelitian”. [Lihat sumber Disini - lib.uir.ac.id]
Contoh:
Latar belakang yang menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar siswa di SMP Negeri X berada di bawah standar nasional. Rumusan masalah: “Apakah kompetensi guru berdampak signifikan terhadap hasil belajar?” Tujuan: “Untuk menganalisis pengaruh kompetensi guru terhadap hasil belajar siswa.” Manfaat: bagi sekolah, guru, dan pembuat kebijakan pendidikan.

4. Tinjauan Pustaka (Kerangka Teori)

Bagian ini membahas teori-teori relevan, penelitian sebelumnya, dan membangun kerangka konseptual. Dalam pedoman disebut sebagai bagian penting struktural dalam artikel ilmiah. [Lihat sumber Disini - revoedu.org]
Contoh:
Teori kompetensi guru menurut Richard E. Boyatzis (1982) yang memandang kompetensi sebagai kombinasi pengetahuan, keterampilan dan sikap. Penelitian sebelumnya (misalnya di Kota Y 2022) menunjukkan bahwa kompetensi guru berpengaruh 28 % terhadap hasil belajar. Kerangka konseptual menggambarkan variabel independen (kompetensi guru) dan variabel dependen (hasil belajar siswa), serta variabel kontrol seperti latar belakang sosial ekonomi.

5. Metode Penelitian

Di bagian ini diuraikan jenis penelitian, populasi dan sampel, instrumen, teknik pengumpulan data, serta teknik analisis data. Sebuah panduan menyebut bahwa metode penelitian adalah bagian penting yang menjelaskan langkah-langkah penelitian agar dapat direplikasi. [Lihat sumber Disini - lib.uir.ac.id]
Contoh:
Jenis penelitian: kuantitatif deskriptif-analisis. Populasi: seluruh siswa kelas IX SMP Negeri X (n = 500). Sampel: 200 siswa ditentukan dengan teknik purposive sampling. Instrumen: kuesioner kompetensi guru dan tes hasil belajar. Teknik analisis: regresi linier sederhana dengan tingkat signifikasi 0,05.

6. Hasil Penelitian

Bagian hasil menyajikan temuan penelitian secara objektif,bisa dalam bentuk narasi, tabel, grafik,tanpa interpretasi berlebih. Pedoman menyebut bahwa “bagian hasil menampilkan temuan utama dari penelitian.” [Lihat sumber Disini - revoedu.org]
Contoh:
Tabel 1 menunjukkan rata-rata nilai hasil belajar siswa 72,3 (SD = 8,1). Analisis regresi menunjukkan koefisien β = 0,45 (p < 0,01), yang berarti bahwa kompetensi guru menjelaskan 20,25 % variabilitas hasil belajar siswa.

7. Pembahasan

Di bagian ini peneliti menafsirkan hasil penelitian, menghubungkannya dengan teori/penelitian sebelumnya, serta memberikan pemahaman mengapa hasil muncul seperti itu. Pedoman menyebut bahwa pembahasan “menafsirkan hasil penelitian dan menjelaskan hubungannya dengan teori atau penelitian sebelumnya.” [Lihat sumber Disini - revoedu.org]
Contoh:
Hasil memperkuat teori Boyatzis (1982) bahwa kompetensi guru berperan penting dalam hasil belajar. Temuan serupa dengan penelitian di Kota Y (2022) yang menemukan pengaruh 19 %. Perbedaan nilai persentase bisa dijelaskan karena perbedaan konteks sekolah dan variabel kontrol yang berbeda. Implikasi: sekolah perlu meningkatkan kompetensi instruksional dan profesional guru agar hasil belajar meningkat.

8. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan merangkum temuan utama sesuai tujuan penelitian dan rumusan masalah, serta bisa diikuti dengan saran untuk penelitian selanjutnya dan praktik. Panduan menyebut struktur ini jelas. [Lihat sumber Disini - fkip.umsu.ac.id]
Contoh:
Kesimpulan: Kompetensi guru berpengaruh positif dan signifikan terhadap hasil belajar siswa di SMP Negeri X. Saran: Sekolah perlu menyelenggarakan pelatihan rutin bagi guru dan melibatkan evaluasi kompetensi secara berkala; penelitian selanjutnya disarankan memasukkan variabel motivasi siswa sebagai mediator.

9. Daftar Pustaka

Komponen ini memuat semua referensi yang digunakan dan harus ditulis sesuai format yang berlaku. [Lihat sumber Disini - penerbitdeepublish.com]
Contoh: Referensi dari buku Boyatzis (1982), artikel penelitian Kota Y (2022) yang dapat diakses publik, dan lain-lain.

10. (Opsional) Lampiran

Kadang penelitian menyertakan lampiran seperti kuesioner lengkap, data mentah, instrumen pengukuran. Meskipun tidak selalu wajib, lampiran dapat meningkatkan transparansi.


Contoh Ringkas Struktur Ilmiah Penelitian

Untuk membuat gambaran konkret, berikut skema ringkas:

  1. Judul: “Analisis Pengaruh Kompetensi Guru Terhadap Hasil Belajar Siswa di SMP Negeri X Jakarta”
  2. Abstrak & Kata Kunci
  3. Pendahuluan: Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan, Manfaat
  4. Tinjauan Pustaka / Kerangka Teori
  5. Metode Penelitian: desain, populasi/sampel, instrumen, teknik analisis
  6. Hasil Penelitian: data dan temuan utama
  7. Pembahasan: interpretasi hasil, kaitan teori, implikasi
  8. Kesimpulan & Saran
  9. Daftar Pustaka
  10. Lampiran (jika perlu)

Dengan struktur seperti itu, penelitian memiliki alur yang jelas, pembaca dapat mengikuti logika penelitian, dan laporan menjadi terdokumentasi dengan baik.


Kesimpulan

Struktur ilmiah dalam penelitian bisa dipahami sebagai kerangka yang sistematis dan terorganisir, yang mencakup berbagai komponen mulai dari judul, abstrak, pendahuluan, tinjauan pustaka, metode, hasil, pembahasan, kesimpulan, hingga daftar pustaka dan lampiran. Struktur ini penting agar penelitian dapat dipahami, dievaluasi, dan direplikasi oleh pihak lain. Definisi-definisi dari ahli maupun referensi Indonesia menunjukkan bahwa penelitian ilmiah selalu mengandung elemen sistematis, empiris, dan berbasis teori serta data. Penerapan struktur yang baik bukan hanya persoalan formalitas, tetapi akan meningkatkan kualitas penelitian,kemampuan untuk menjawab rumusan masalah, menyajikan temuan secara transparan, dan memberikan kontribusi nyata terhadap ilmu pengetahuan atau praktik. Bagi Anda yang akan melakukan penelitian atau menulis laporan ilmiah, pastikan setiap komponen struktur ini dihadirkan dan diolah dengan seksama agar hasil akhir dapat diterima dan bernilai ilmiah.

 

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Struktur ilmiah adalah susunan sistematis yang digunakan dalam penelitian untuk memastikan alur berpikir, metode, dan hasil dapat dipahami, diuji, serta direplikasi oleh peneliti lain.

Komponen utama struktur ilmiah meliputi judul, abstrak, pendahuluan, tinjauan pustaka, metode penelitian, hasil penelitian, pembahasan, kesimpulan, daftar pustaka, dan lampiran tambahan bila diperlukan.

Struktur ilmiah penting karena memberikan kerangka yang jelas, memudahkan pembaca menilai kualitas penelitian, memastikan proses ilmiah bersifat sistematis, serta memungkinkan verifikasi dan replikasi penelitian.

Sebagian besar penelitian akademik wajib mengikuti struktur ilmiah karena standar ini memastikan penelitian memenuhi kaidah ilmiah dan dapat diterima dalam dunia akademik maupun publikasi jurnal.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Struktur Sosial: Konsep dan Karakteristik Struktur Sosial: Konsep dan Karakteristik Jurnal Ilmiah: Pengertian, Struktur, dan Contoh penulisan beserta sumber [pdf] Jurnal Ilmiah: Pengertian, Struktur, dan Contoh penulisan beserta sumber [pdf] Argumentasi Ilmiah: Ciri, Struktur, dan Contohnya Argumentasi Ilmiah: Ciri, Struktur, dan Contohnya Perubahan Struktur Keluarga: Konsep dan Implikasi Sosial Perubahan Struktur Keluarga: Konsep dan Implikasi Sosial Nilai Ilmiah: Pengertian, Karakteristik, dan Contohnya Nilai Ilmiah: Pengertian, Karakteristik, dan Contohnya Kebenaran Ilmiah: Pengertian, Jenis, dan Kriterianya Kebenaran Ilmiah: Pengertian, Jenis, dan Kriterianya Argumentasi: Pengertian, Struktur, dan Contoh dalam Ilmiah Argumentasi: Pengertian, Struktur, dan Contoh dalam Ilmiah Literasi Ilmiah: Definisi, Ciri, dan Contoh dalam Pendidikan Literasi Ilmiah: Definisi, Ciri, dan Contoh dalam Pendidikan Realisme Ilmiah: Pengertian dan Contoh dalam Kajian Alam Realisme Ilmiah: Pengertian dan Contoh dalam Kajian Alam Narasi Ilmiah: Definisi, Struktur, dan Contoh Penulisan Narasi Ilmiah: Definisi, Struktur, dan Contoh Penulisan Penalaran Ilmiah: Ciri, Langkah, dan Contoh Penalaran Ilmiah: Ciri, Langkah, dan Contoh Perspektif Ilmiah: Pengertian dan Contohnya dalam Penelitian Sosial Perspektif Ilmiah: Pengertian dan Contohnya dalam Penelitian Sosial Prinsip Validasi Pengetahuan Ilmiah Prinsip Validasi Pengetahuan Ilmiah Struktur Paradigma Ilmiah: Unsur dan Tahapannya Struktur Paradigma Ilmiah: Unsur dan Tahapannya Relativisme Ilmiah: Pengertian dan Kritiknya Relativisme Ilmiah: Pengertian dan Kritiknya Rasionalisme Ilmiah: Pengertian, Prinsip, dan Contoh Rasionalisme Ilmiah: Pengertian, Prinsip, dan Contoh Relevansi Ilmiah: Pengertian, Fungsi, dan Contoh Relevansi Ilmiah: Pengertian, Fungsi, dan Contoh Konteks Akademik: Definisi dan Pentingnya dalam Kajian Ilmiah Konteks Akademik: Definisi dan Pentingnya dalam Kajian Ilmiah Exploratory Factor Analysis (EFA): Perbedaan dan Contoh Exploratory Factor Analysis (EFA): Perbedaan dan Contoh Justifikasi Ilmiah: Pengertian, Fungsi, dan Contohnya Justifikasi Ilmiah: Pengertian, Fungsi, dan Contohnya
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…