Terakhir diperbarui: 30 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 30 December). Health Seeking Behavior: Konsep, Determinan Sosial, dan Akses. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/health-seeking-behavior-konsep-determinan-sosial-dan-akses  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Health Seeking Behavior: Konsep, Determinan Sosial, dan Akses - SumberAjar.com

Health Seeking Behavior: Konsep, Determinan Sosial, dan Akses

Pendahuluan

Perilaku pencarian kesehatan atau health seeking behavior merupakan aspek penting dalam sistem kesehatan masyarakat yang mencerminkan bagaimana individu atau kelompok merespons gejala penyakit, menentukan pilihan tindakan, serta langkah-langkah yang diambil untuk memperoleh layanan kesehatan yang diperlukan. Perilaku ini bukan sekadar respons terhadap sakit, tetapi juga cerminan dari pengetahuan, kepercayaan, kepercayaan sosial, serta ketersediaan sumber daya dalam masyarakat. Perilaku pencarian kesehatan yang baik berhubungan erat dengan hasil kesehatan yang lebih baik, pemanfaatan layanan yang tepat waktu, dan pencapaian tujuan pembangunan kesehatan, termasuk cakupan kesehatan menyeluruh (universal health coverage). Namun di banyak konteks, terutama di negara berkembang seperti Indonesia, perilaku pencarian layanan kesehatan sering kali dipengaruhi oleh serangkaian determinan sosial budaya, akses, serta hambatan struktural yang kompleks. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Definisi Health Seeking Behavior

Definisi Health Seeking Behavior Secara Umum

Health seeking behavior secara umum merujuk pada langkah-langkah yang diambil oleh individu yang merasakan kebutuhan akan pertolongan untuk mengatasi masalah kesehatan yang dialami. Ini mencakup kesadaran akan gejala, keputusan untuk mencari pertolongan, hingga pemilihan tindakan pencarian layanan kesehatan yang akan dilakukan. Perilaku ini menyangkut tidak hanya pencarian perawatan medis formal, tetapi juga penyembuhan mandiri, penggunaan obat tradisional, atau konsultasi dengan tenaga non-profesional. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Definisi Health Seeking Behavior dalam KBBI

Istilah health seeking behavior belum secara resmi tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai entri tersendiri karena merupakan istilah teknis dalam kesehatan masyarakat. Namun, konsepnya dapat dijelaskan sebagai perilaku individu atau kelompok dalam mengenali kondisi kesehatan dan langkah-langkah yang diambil untuk mencari bantuan, pengobatan, atau layanan kesehatan yang sesuai. Pengertian ini menggabungkan kesadaran terhadap kesehatan, pengambilan keputusan, hingga tindakan nyata dalam pencarian layanan. (Catatan: KBBI sendiri lebih banyak menggunakan istilah umum seperti “perilaku sakit”, “pencarian bantuan”, dan sejenisnya, sehingga definisi teknis ini sering dijabarkan melalui literatur kesehatan klinis dan kesehatan masyarakat).

Definisi Health Seeking Behavior Menurut Para Ahli

  1. Widayanti et al. (2020) mendefinisikan health-seeking behavior sebagai langkah-langkah yang diambil oleh seorang individu yang menyadari adanya kebutuhan akan bantuan kesehatan saat mereka berupaya menyelesaikan masalah kesehatan yang dialami. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Notoadmodjo (2010) menyatakan bahwa perilaku pencarian kesehatan adalah perilaku untuk memperoleh penyembuhan atau pemecahan masalah kesehatan pada seseorang yang mengalami sakit atau masalah kesehatan lain. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]

  3. Ogden (2012) melihat perilaku ini sebagai proses pengambilan keputusan individu untuk mendapatkan bantuan profesional dalam masalah kesehatan. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]

  4. Wade & Halligan (2004) juga menjelaskan perilaku ini sebagai tindakan yang dilakukan individu yang mengalami masalah kesehatan atau penyakit untuk mendapatkan pengobatan yang sesuai. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]


Pola Perilaku Pencarian Pelayanan Kesehatan

Pola perilaku pencarian layanan kesehatan sangat beragam dan dipengaruhi oleh konteks sosial serta sumber daya yang tersedia. Perilaku ini dapat dikategorikan dalam beberapa bentuk:

  1. Tidak melakukan tindakan apapun terhadap gejala yang dialami, yang sering kali terjadi karena kurangnya pengetahuan atau sikap yang kurang peka terhadap kesehatan.

  2. Penyembuhan mandiri (self-care atau self-medication), baik tanpa obat atau dengan penggunaan obat-obatan modern dan tradisional.

  3. Pencarian layanan profesional formal, seperti kunjungan ke puskesmas, dokter praktek, fasilitas kesehatan lainnya.

  4. Kombinasi antara penyembuhan mandiri dan layanan formal, tergantung pada tingkat keparahan gejala dan kepercayaan individu terhadap jenis layanan tertentu. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]

Pola-pola ini berkaitan dengan persepsi awal mengenai penyebab dan signifikan gejala, pengalaman sebelumnya, serta dukungan sosial dari keluarga atau komunitas. Selain itu, pilihan antara perawatan tradisional atau medis formal sering dipengaruhi oleh faktor budaya dan kepercayaan lokal yang kuat. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]


Determinan Sosial dan Budaya dalam Health Seeking Behavior

Determinasi perilaku pencarian kesehatan tidak hanya bergantung pada kondisi klinis atau gejala yang dialami, tetapi juga pada sejumlah faktor sosial dan budaya yang saling berinteraksi:

  1. Pengetahuan dan Sikap, Tingkat pengetahuan individu tentang penyakit, gejala dan pengobatan berpengaruh besar terhadap keputusan untuk mencari layanan kesehatan. Pengetahuan yang baik sering berkorelasi dengan perilaku pencarian layanan yang lebih tepat. [Lihat sumber Disini - jurnal.kesehatan.cendikiajenius-ind.id]

  2. Norma dan Nilai Budaya, Nilai-nilai budaya lokal yang mengatur persepsi tentang kesembuhan, penggunaan obat tradisional, serta kepercayaan terhadap sistem kesehatan modern mempengaruhi bagaimana dan kapan seseorang mencari layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unar.ac.id]

  3. Pengaruh Sosial dan Keluarga, Peran keluarga, pendapat tokoh masyarakat, serta tekanan sosial dapat mengubah keputusan individu untuk mencari layanan kesehatan tertentu.

  4. Status Ekonomi dan Pendidikan, Individu dengan tingkat pendidikan dan status ekonomi yang lebih tinggi cenderung memiliki perilaku pencarian kesehatan yang lebih proaktif dan memanfaatkan layanan formal secara lebih baik. [Lihat sumber Disini - jurnal.kesehatan.cendikiajenius-ind.id]

  5. Keyakinan tentang Penyebab Penyakit, Interpretasi atas penyebab penyakit (misalnya sebab spiritual atau sosial) dapat mendorong pilihan untuk menunda atau memilih jenis layanan kesehatan alternatif.


Akses Pelayanan Kesehatan dan Pemanfaatannya

Akses terhadap layanan kesehatan merupakan bagian penting yang memengaruhi perilaku pencarian pelayanan kesehatan. Akses mencakup tiga dimensi utama:

  1. Akses Fisik, Jarak ke fasilitas kesehatan, transportasi yang tersedia, serta infrastruktur dapat menentukan mudah atau tidaknya seseorang mencapai layanan kesehatan. Hambatan fisik seringkali menjadi alasan pokok keterlambatan mencari layanan. [Lihat sumber Disini - journals2.ums.ac.id]

  2. Akses Finansial, Biaya layanan, termasuk biaya transportasi, konsultasi, dan obat-obatan, sering menjadi faktor penghambat besar bagi pencarian layanan kesehatan, terutama bagi kelompok berpendapatan rendah.

  3. Ketersediaan Layanan, Ketersediaan tenaga kesehatan yang kompeten, obat-obatan yang lengkap, serta jam operasional yang sesuai juga memengaruhi keputusan individu dalam mencari layanan.

  4. Akses Informasi, Akses terhadap informasi kesehatan yang akurat dan terpercaya memungkinkan individu mengenali gejala dan memahami pentingnya pencarian layanan. Penelitian menunjukkan peningkatan penggunaan internet sebagai sumber informasi kesehatan, meskipun kualitas informasi yang diperoleh sangat bervariasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]


Hambatan dan Tantangan dalam Perilaku Pencarian Kesehatan

Beberapa hambatan umum yang sering ditemui dalam konteks perilaku pencarian layanan kesehatan antara lain:

  1. Biaya layanan dan biaya tidak langsung seperti hilangnya pendapatan akibat waktu yang dihabiskan untuk mengakses layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - journals2.ums.ac.id]

  2. Hambatan geografis dan transportasi, terutama di daerah pedesaan atau wilayah terpencil.

  3. Kepercayaan pada pengobatan tradisional, yang dalam banyak kasus digunakan sebelum atau bahkan menggantikan layanan medis formal. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]

  4. Kurangnya pengetahuan atau ketidakpahaman tentang gejala penyakit serius, yang menyebabkan penundaan dalam pencarian layanan formal.

  5. Stigma sosial dan diskriminasi, terutama pada kondisi tertentu seperti penyakit menular atau kesehatan mental, yang dapat menghambat individu untuk mencari layanan.


Kesimpulan

Perilaku pencarian kesehatan (health seeking behavior) adalah suatu proses dinamis yang melibatkan langkah-langkah individu atau kelompok dari deteksi gejala sampai pengambilan keputusan untuk mencari bantuan atau layanan kesehatan yang tepat. Konsep ini dipengaruhi oleh kombinasi pengetahuan, kepercayaan budaya, norma sosial, serta determinan sosial ekonomi seperti pendidikan dan status ekonomi. Akses terhadap layanan kesehatan, dalam bentuk fisik, finansial, dan informasi, juga memainkan peran kunci dalam menentukan apakah seseorang berhasil memanfaatkan layanan kesehatan yang ada. Terlepas dari kemajuan dalam sistem kesehatan, hambatan seperti biaya, keterjangkauan fisik, serta kepercayaan tradisional tetap menjadi tantangan besar, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Peningkatan pengetahuan masyarakat, penyediaan layanan yang terjangkau, serta intervensi yang mempertimbangkan konteks budaya merupakan strategi penting untuk memperbaiki perilaku pencarian layanan kesehatan di masa depan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Health Seeking Behavior Health Seeking Behavior Health Behavior Penggunaan Obat: Konsep, Determinan, dan Pola Health Behavior Penggunaan Obat: Konsep, Determinan, dan Pola Self-Care Behavior: Konsep dan Kemandirian Self-Care Behavior: Konsep dan Kemandirian Perilaku Mencari Layanan Kesehatan Perilaku Mencari Layanan Kesehatan Determinan Sosial Kesehatan: Konsep, ketimpangan, dan dampaknya Determinan Sosial Kesehatan: Konsep, ketimpangan, dan dampaknya Determinan Proksimal Kesehatan: Konsep, Faktor Individu, dan Lingkungan Determinan Proksimal Kesehatan: Konsep, Faktor Individu, dan Lingkungan Health Promotion Behavior Health Promotion Behavior Determinan Sosial Kesehatan Determinan Sosial Kesehatan Theory of Planned Behavior: Konsep, Sikap, dan Niat Berperilaku Sehat Theory of Planned Behavior: Konsep, Sikap, dan Niat Berperilaku Sehat Perilaku Prososial: Faktor dan Contohnya Perilaku Prososial: Faktor dan Contohnya Perilaku Kolektif: Konsep dan Manifestasi Sosial Perilaku Kolektif: Konsep dan Manifestasi Sosial Perubahan Perilaku Kesehatan Perubahan Perilaku Kesehatan Perilaku Sehat: Konsep dan Determinan Psikologis Perilaku Sehat: Konsep dan Determinan Psikologis Health Belief: Konsep dan Persepsi Risiko Health Belief: Konsep dan Persepsi Risiko Health Belief Model: Konsep, Komponen Utama, dan Penerapannya dalam Kesehatan Health Belief Model: Konsep, Komponen Utama, dan Penerapannya dalam Kesehatan Health Literacy Masyarakat Health Literacy Masyarakat Sanitasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan Sanitasi Fasilitas Pelayanan Kesehatan Penyakit Berbasis Lingkungan Penyakit Berbasis Lingkungan Health Belief Model: Penjelasan dan Contoh Health Belief Model: Penjelasan dan Contoh Konsep Perilaku Adaptif Konsep Perilaku Adaptif
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…