
Validitas Konvergen dan Diskriminan: Definisi dan Contoh
Pendahuluan
Validitas merupakan aspek krusial dalam pengembangan instrumen penelitian, entah itu kuesioner, angket, tes, maupun skala psikometri. Tanpa validitas yang baik, hasil penelitian bisa menyesatkan; instrumen mungkin tidak benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur. Di antara jenis-jenis validitas, dua bentuk yang sering digunakan untuk menguji kualitas konstruk adalah validitas konvergen dan validitas diskriminan. Kedua bentuk validitas ini saling melengkapi dalam memastikan bahwa instrumen tidak hanya konsisten, tetapi juga tepat dalam menggambarkan konstruk teoretik yang dituju. Artikel ini akan membahas definisi, dasar teori, serta contoh penerapan validitas konvergen dan diskriminan, sehingga pembaca dapat memahami kapan dan bagaimana menggunakan keduanya dalam penelitian.
Definisi Validitas Konvergen dan Diskriminan
Definisi Validitas secara Umum
Dalam literatur metodologi penelitian dan psikometri, validitas konstruk (construct validity) mengacu pada sejauh mana alat ukur (instrumen) benar-benar mengukur konstruk teoretik yang seharusnya diukur, yaitu variabel laten yang tidak dapat diamati secara langsung. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Validitas konstruk ini umumnya diuji melalui dua aspek utama: konvergen dan diskriminan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Validitas Konvergen dalam Kamus / Bahasa Umum
Dalam arti umum, “konvergen” mengandung makna “bertemu pada satu titik” atau “bersatu membentuk satu”. Oleh karena itu, validitas konvergen dapat dipahami sebagai ukuran seberapa “bersatu” sebuah indikasi atau item dengan konstruk yang hendak diukur, artinya apakah sekumpulan indikator benar-benar mencerminkan konstruk yang sama.
Definisi Validitas Diskriminan dalam Kamus / Bahasa Umum
Sementara itu, “diskriminan” mengandung arti “pembedaan” atau “pembeda”. Validitas diskriminan pada dasarnya menekankan bahwa konstruk berbeda harus benar-benar berbeda (tidak tumpang tindih) dalam pengukuran, artinya, indikator untuk satu konstruk tidak boleh berkorelasi tinggi (atau “bersatu”) dengan indikator dari konstruk berbeda.
Definisi Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi dari literatur dan penelitian akademik (khususnya dalam konteks instrumen psikometri / penelitian kuantitatif):
- Menurut pendekatan umum dalam psikometri, validitas konvergen adalah ukuran seberapa dekat dua alat ukur, yang dirancang untuk mengukur konstruk serupa, saling berkorelasi. Jika dua instrumen yang seharusnya mengukur konstruk yang sama menunjukkan korelasi tinggi, maka ini menunjukkan validitas konvergen. [Lihat sumber Disini - scribbr.com]
- Dalam model pengukuran berbasis faktor (misalnya PLS-SEM), validitas konvergen dinilai melalui seberapa baik indikator mewakili variabel laten. Suatu variabel laten dianggap memiliki validitas konvergen jika indikator-indikatornya menunjukkan korelasi yang cukup kuat (dalam arti loading tinggi) dan memenuhi syarat rata-rata varian ekstrak (Average Variance Extracted, AVE) minimal 0,5. [Lihat sumber Disini - statistikian.com]
- Mengenai validitas diskriminan, literatur menyebut bahwa ini menguji apakah konstruk yang berbeda secara teoretik memang menunjukkan perbedaan empiris, yakni bahwa indikator dari konstruk berbeda tidak saling berkorelasi terlalu tinggi, dan bahwa varian bersama antara variabel laten dengan indikatornya lebih besar daripada varian yang dibagi dengan konstruk lain. Teknik seperti kriteria Fornell‑Larcker Criterion dan analisis “cross-loadings” sering digunakan untuk mengevaluasi diskriminan. [Lihat sumber Disini - accounting.binus.ac.id]
- Selain itu, pada literatur instrument validation, disebut bahwa validitas konvergen dan diskriminan adalah bagian dari aspek validitas konstruk, yang secara keseluruhan menentukan apakah instrumen valid secara teoretik dan empiris. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]
Pentingnya Validitas Konvergen dan Diskriminan
Validitas konvergen dan diskriminan bukanlah opsi, melainkan prasyarat dalam proses validasi instrumen. Tanpa keduanya, sebuah instrumen bisa gagal membedakan antar konstruk, atau malah mengukur konstruk yang tidak sesuai. Banyak penelitian yang menyatakan bahwa sebelum reliabilitas, validitas konstruk (termasuk konvergen dan diskriminan) harus dipenuhi agar hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan. [Lihat sumber Disini - repository.stei.ac.id]
Sebagai contoh: pada penelitian validasi instrumen “Well-Being” mahasiswa, peneliti menggunakan analisis konfirmatori dan melaporkan hasil uji validitas konstruk, konvergen, dan diskriminan. Mereka mendapati bahwa sebagian indikator harus dibuang karena memiliki faktor loading rendah, hanya setelah itu instrumen dinyatakan valid dan layak digunakan. [Lihat sumber Disini - ejournal.stkippacitan.ac.id]
Tanpa validitas diskriminan, instrumen bisa jadi “kabur”, misalnya, skala yang seharusnya mengukur stres justru juga mengukur kecemasan atau depresi, jika konstruk-konstruk itu tidak dibedakan dengan baik.
Contoh Penerapan Validitas Konvergen dan Diskriminan
Berikut beberapa ilustrasi konkret berdasarkan literatur dan penelitian empiris:
- Instrumen Well-Being (2023)
Sebuah studi validasi instrumen untuk mengukur kesejahteraan psikologis mahasiswa menggunakan analisis faktor konfirmatori. Hasilnya menunjukkan bahwa setelah penghapusan sejumlah butir (item) dengan loading rendah, dan evaluasi AVE serta korelasi antar konstruk, instrumen memenuhi syarat validitas konstruk, termasuk validitas konvergen dan diskriminan, sehingga dapat dipakai. [Lihat sumber Disini - ejournal.stkippacitan.ac.id] - Model PLS-SEM dalam Pengukuran Kecerdasan Majemuk (2021)
Dalam penelitian “Properti Psikometri Alat Ukur Kecerdasan Majemuk dengan Pendekatan Teori Gardner”, peneliti menyatakan bahwa seperangkat indikator merepresentasikan satu variabel laten (kecerdasan majemuk), menunjukkan bahwa validitas konvergen terpenuhi. [Lihat sumber Disini - ojs.uma.ac.id] - Instrumen Pembelajaran Tematik di SD
Sebuah penelitian pengembangan media pembelajaran (“PAKAPIN”) untuk siswa SD menggunakan 20 pernyataan, hasil pengujian menunjukkan bahwa instrumen tersebut memenuhi kriteria goodness-of-fit, validitas konstruk, termasuk validitas konvergen dan diskriminan. Ini menunjukkan bahwa instrumen valid baik dalam satu konstruk maupun membedakan antar konstruk lain. [Lihat sumber Disini - ojs.fkip.ummetro.ac.id] - Uji Validitas dalam Outer Model (Struktur SEM)
Dalam model pengukuran dengan SEM, sering digunakan dua kriteria utama untuk validitas konstruk: validitas konvergen melalui AVE ≥ 0,5 dan loading indikator tinggi; serta validitas diskriminan melalui kriteria Fornell-Larker atau cross-loading, memastikan indikator lebih “cocok” dengan konstruknya sendiri dibanding konstruk lain. [Lihat sumber Disini - statistikian.com]
Tantangan & Catatan Penting dalam Validasi Instrumen
- Hanya karena instrumen menunjukkan validitas konvergen belum berarti konstruksi teoretik benar-benar valid, validitas konstruk harus dibangun dari kombinasi bukti: konvergen, diskriminan, reliabilitas, serta kesesuaian teori. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
- Dalam praktik, ada kemungkinan indikator memiliki loading tinggi (konvergen) tetapi gagal diskriminan, misalnya, jika konstruk berbeda saling tumpang tindih secara teoretik atau indikatornya tidak dirancang dengan baik. Oleh karena itu penting mendesain item dengan jelas dan mempertimbangkan batas teoretik konstruk.
- Nilai cutoff (misalnya AVE ≥ 0,5, loading > 0,6 atau >0,7) bersifat panduan statistik, bukan hukum mutlak, sehingga peneliti harus mempertimbangkan konteks penelitian, teori, serta karakteristik populasi.
Kesimpulan
Validitas konvergen dan diskriminan adalah dua aspek penting dalam validitas konstruk, memastikan bahwa instrumen tidak hanya mengukur konstruk yang benar, tetapi juga membedakan dengan konstruk lain. Validitas konvergen menguji apakah indikator-inidkator berkorelasi baik dengan konstruknya; validitas diskriminan memastikan bahwa indikator untuk konstruk berbeda tidak saling tumpang tindih. Pengujian keduanya, bersama reliabilitas dan kesesuaian teori, membentuk fondasi instrumen yang kuat dan kredibel. Sebelum menggunakan instrumen dalam penelitian atau praktik, peneliti harus secara cermat mendesain item, menguji konvergen dan diskriminan, serta mengevaluasi hasil dengan mempertimbangkan teori dan data empiris.